KNKT Dalami Dugaan Gangguan Sinyal di Balik Tabrakan Kereta di Bekasi Timur
·waktu baca 2 menit

Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) terus mendalami penyebab kecelakaan antara KA Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line di Bekasi Timur. Salah satu aspek yang kini disorot adalah sistem persinyalan.
Humas KNKT, Arif, mengatakan tim investigasi telah diterjunkan sejak malam kejadian untuk mengumpulkan data di lapangan.
“Sejak malam kejadian hingga hari ini KNKT sudah menurunkan 5 investigator perkeretaapian. Ketua KNKT juga sejak kemarin aktif memantau perkembangan di lapangan. Untuk perkembangan investigasi, sampai sekarang belum ada informasi signifikan yang bisa kami sampaikan ke publik,” ujar Arif saat dihubungi, Kamis (30/4).
Terkait isu gangguan sinyal yang ramai dibahas, KNKT memastikan hal tersebut masuk dalam aspek yang sedang ditelusuri.
“Persinyalan juga salah satu aspek yang sedang didalami,” lanjut dia.
Diketahui, kecelakaan terjadi pada Senin (27/4) malam dan menewaskan 16 orang serta melukai puluhan penumpang. Peristiwa bermula dari sebuah taksi yang mogok di perlintasan sebidang di kawasan Ampera, Bekasi Timur, akibat gangguan listrik dan kemudian tertabrak KRL arah Jakarta.
Dampaknya, satu rangkaian KRL tujuan Cikarang tertahan di Stasiun Bekasi Timur untuk menunggu proses evakuasi taksi tersebut.
Dalam kondisi tersebut, rangkaian KRL yang tertahan itu kemudian ditabrak dari belakang oleh KA Argo Bromo Anggrek.
Masinis Argo Bromo Soroti Sinyal Eror
Masinis KA Argo Bromo Anggrek, Nofiandi, sebelumnya mengaku terkejut atas insiden tersebut. Ia bahkan menduga adanya gangguan pada sistem sinyal sebelum tabrakan terjadi.
“Sama, kalau syok saya juga syok,” ucap Nofiandi sebagaimana dalam tayangan di YouTube Trainspotter ID sesaat setelah kejadian.
“Alhamdulillah, penumpang KA Bromo Anggrek relatif aman. Justru yang terdampak adalah penumpang KRL di bagian paling belakang,” sambungnya.
Ia menyebut, indikasi gangguan sinyal sempat terlihat sebelum kejadian.
“Sepertinya ada sinyal yang eror,” ujar Nofiandi.
Menurut dia, kondisi sinyal yang dilihatnya tidak sesuai dengan urutan normal.
“Tadi sudah ada informasi dari PK (pusat kendali), tapi saya belum sepenuhnya copy (menerima informasi tersebut), sudah keburu sinyalnya merah,” paparnya.
“Dibilang mendadak juga tidak. Seharusnya (sinyal) tidak bisa merah, karena dari Bekasi sinyalnya hijau (urutannya: hijau, kuning, merah). Secara koneksi, kalau di sana hijau, di sini maksimal kuning, tidak bisa langsung merah,” lanjutnya.
Saat itu, kata dia, kereta yang dikemudikannya melaju dengan kecepatan cukup tinggi.
“Kecepatan lumayan, sekitar 110 km/jam,” jelasnya.
