Komnas HAM: Tak Ada Saksi yang Lihat Yosua Lecehkan Putri di Magelang

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
5
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ketua Komnas HAM Ahmad Taufan Damanik di Komnas HAM Jakarta, Rabu (27/7/2022). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Ketua Komnas HAM Ahmad Taufan Damanik di Komnas HAM Jakarta, Rabu (27/7/2022). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Dugaan pelecehan terhadap Putri Candrawathi yang disebut-sebut sebagai pemicu kekesalan Irjen Ferdy Sambo membunuh Brigadir Yosua juga masih jadi misteri. Polri belum berani mengkonfirmasi 100%, Komnas HAM juga menyebut tak ada saksi atas peristiwa itu.

"Mereka memindahkan locus dan tempus-nya itu tanggal 19.00 WIB di Magelang dengan konstruksi cerita bahwa terjadi kekerasan seksual terhadap Ibu Putri yang dilakukan oleh Yosua. Saksi yang lain siapa yang menyaksikan langsung? Tidak ada," kata Ketua Komnas HAM Ahmad Taufan Damanik di kantor Komnas HAM, Senin (29/8).

Taufan mengatakan, sejak awal skenario pelecehan dan penodongan bahkan di rumah dinas Duren Tiga juga sudah janggal. Ini semakin kuat saat Komnas HAM memeriksa Bripka Ricky Rizal dan Bharada Richard Eliezer dan tak ada satu pun yang melihat pelecehan itu.

Suasana di Komnas HAM, Jakarta, Selasa (26/7/2022) pagi. Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

"Kami baru periksa ADC saja, RR dan RE, ini sudah tidak terkonfirmasi. Misalnya RR dan RE tidak pernah melihat dugaan kekerasan seksual. Dia hanya mendengar suara katanya. Ini berdasarkan cerita karangan saja, itu enggak sinkron. Kedua mereka tidak melihat adanya penodongan senjata," jelas Taufan.

"Makanya saya katakan sejak awal, penodongan senjata dan pelecehan seksual itu sumir di Duren Tiga, kenapa? Karena hanya mengandalkan keterangan ibu PC, ketika dikonfirmasi tidak bisa dimintai keterangan karena sedang trauma dan lain-lain," tambah dia.

kumparan post embed

Cerita soal dugaan adanya pelecehan oleh Yosua terhadap Putri sempat disinggung oleh anggota Komisi III DPR Sarifuddin Sudding. Dia menyebut, Yosua sempat mengangkat Putri yang tertidur di sofa menuju ke kamar di rumah Magelang. Peristiwa itu dilihat oleh Kuat Ma'ruf. Hal itu batal dilakukan Yosua.

Di waktu lain, Kuat disebut melihat Yosua berjalan sembunyi-sembunyi menuju ke kamar Yosua. Ini lalu dilaporkan ke Ferdy Sambo.

Mendengar paparan itu, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menyebut, memang ada dugaan tindakan asusila. Tapi, apakah itu pelecehan atau perselingkuhan masih didalami penyidik.

kumparan post embed

Putri Mengaku Dicelehkan Yosua di Magelang

Komnas HAM juga sudah memeriksa Putri Candrawathi. Dalam keterangan itu, Putri mengaku diminta untuk bercerita adanya pelecehan di rumah dinas Duren Tiga. Padahal, yang terjadi itu di Magelang.

“Dia [Putri] bilang, sebetulnya yang terjadi [pelecehan] itu di Magelang. Saya [Putri] disuruh untuk mengakui kejadian itu terjadi di Duren Tiga,” kata Taufan.

Taufan memang tidak merincikan siapa yang menyuruh Putri untuk melakukan rekayasa laporan tersebut. Namun, jika melihat pengakuan tersangka yang lain, Irjen Ferdy Sambo telah mengakui dirinya lah otak dari penembakan tersebut, sekaligus pihak yang melakukan rekayasa di Tempat Kejadian Perkara (TKP).

Karena minimnya barang bukti yang bisa mengkonfirmasi perkataan Putri, Taufan meminta pihak penyidik mengumpulkan bukti-bukti lainnya selain memeriksa sejumlah para pihak.

“Kan kesimpang siuran ini harus diluruskan dengan mencari fakta yang sebenarnya seperti apa, saya tidak mau terulang lagi [kejadian] seperti yang di Duren Tiga,” kata Taufan.

“Telah membuat kehebohan banyak pihak tapi ternyata orang yang bersangkutan aja mengatakan, saya [Putri] cuma disuruh mengakui aja di Duren Tiga, sebetulnya peristiwanya di Magelang. Nanti jangan-jangan dikejar lagi beda lagi [keterangannya] kan gitu,” lanjutnya.