Konflik Armenia-Azerbaijan Dikhawatirkan Seret Intervensi Rusia-Turki

Eskalasi konflik antara Armenia versus Azerbaijan di kawasan Nagorno-Karabakh kian meningkat. Kedua belah pihak saling menembakkan roket dan artileri ke wilayah masing-masing.
Konflik ini disebut menjadi yang terbesar, sejak tahun 1990 di kawasan tersebut. Sejauh ini, menurut catatan reuters sudah ada 55 orang tewas dan ratusan lain luka-luka pada konflik tersebut.
Pengamat menyebut, konflik bisa saja menyeret Turki dan Rusia untuk saling mengintervensi kedua belah pihak.
"Jika ada korban dalam jumlah besar, akan sangat sukar untuk mengendalikan pertempuran ini, dan kita akan melihat perang skala penuh yang berpotensi membuat Turki atau Rusia, atau kedua belah pihak saling mengintervensi. Sejauh ini, Rusia meminta gencatan senjata, sedangkan Turki mendukung penuh aksi Azerbaijan," kata Olesya Vartanyan, analis senior untuk kawasan Kaukasus Selatan kepada reuters Senin (28/9).
Peluang kedua negara ini terlibat sangat besar. Pasalnya, Rusia memiliki kerjasama pertahanan dengan Armenia. Sementara Turki, sudah menunjukkan dukungannya terhadap sesama etnis Turkic di Azerbaijan.
Presiden Turki, Tayyip Erdogan meminta Armenia mundur dari tanah Azerbaijan. Ia juga mengatakan, bahwa Armenia telah menjajah Nagorno-Karabakh, yang terletak di dalam Azerbaijan. Jalan tersebut merupakan cara satu-satunya untuk mengakhiri konflik.
Sementara itu, Perdana Menteri Inggris Boris Johnson telah berkomunikasi dengan Erdogan via telepon. Inggris menekan agar proses de eskalasi terjadi secepatnya di kawasan tersebut.
Konflik ini juga mengancam stabilitas pasokan minyak bumi dan gas alam dari Kauskasus Selatan ke pasaran dunia.
Penduduk setempat, seperti Angela Frangyan, seorang pembuat film yang tinggal di ibukota Nagorno-Karabakh, mengisahkan bahwa semua penduduk saat ini sudah berlindung di tempat perlindungan sementara mereka masih terus mendengar dentuman ledakan. Semua toko tutup dan hampir tak ada orang yang bisa ditemui di jalanan.
Sejarah Konflik di Nagorno Karabakh
Pada akhir dekade 1980-an, menjelang runtuhnya Uni Soviet, terjadi konflik di Nagorno Karabakh antara etnis Kristen Armenia, dengan tetangga mereka, etnis Azeri.
Perang total terjadi pada tahun 1990-an. Perang ini mengakibatkan etnis Azeri terusir dari kawasan Nagorno Karabakh. Dukungan dari Armenia, membuat kontrol Azerbaijan atas kawasan ini lepas. Kawasan ini melepaskan diri dari Azerbaijan, dan memimpin sendiri kawasan tersebut, dan diisi dengan mayoritas Armenia.
Pada hari Minggu (27/9) lalu, konflik kembali pecah. Otoritas Nagorno Karabakh menyatakan 53 serdadunya tewas pada hari Senin. Sebelumnya, hari Minggu 31 tentara Nagorno Karabakah tewas dan 200 orang luka-luka pada serangan Azerbaijan.
Sementara pihak Azerbaijan menyebut 2 orang sipil tewas, setelah 5 orang tewas dan 30 orang luka-luka. Pihak Azerbaijan tidak menyebut jumlah serdadu mereka yang tewas pada serangan tersebut.
Azerbaijan sendiri telah mengeluarkan mobilisasi sebagian pada hari Senin, setelah mengumumkan darurat militer pada hari Minggu. Sementara Armenia dan Nagorno Karabakh juga mengumumkan darurat militer dan memobilisasi rakyatnya. Semua pria dengan usia lebih dari 18 tahun, dilarang pergi ke luar negeri.
