Krisis Buruh di Tengah Kemelut Saudi-Qatar

kumparanNEWSverified-green

clock
comment
3
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Buruh migran di Timur Tengah (Foto: Reuters/Ahmed Jadallah)
zoom-in-whitePerbesar
Buruh migran di Timur Tengah (Foto: Reuters/Ahmed Jadallah)

Di dalam rumahnya yang sederhana, E. Bhagyam duduk seraya membuka kembali album pernikahan ia dengan suaminya yang bekerja sebagai tukang las di Timur Tengah.

“Saya rindu sekali,” katanya.

Perempuan India itu paham akan krisis migran asal India yang terjadi di Arab Saudi. Mereka bekerja tanpa pendapatan dan makanan layak. Padahal, mereka masih harus membayar ini-itu, punya deretan daftar pengeluaran.

Bhagyam mencoba menyimpan keyakinan bahwa suaminya baik-baik saja di Timur Tengah.

“Ia pergi dalam grup. Seharusnya semua baik,” ucap Bhagyam.

Namun, pun jika terjadi hal buruk, suaminya tak pernah bercerita kepada dia.

“Ia hanya akan bilang semuanya baik-baik saja, lalu memberikan uang sejumlah yang ia kirimkan bulan sebelumnya.”

Seperti Bhagyam, terdapat ratusan istri lain yang tengah dirundung khawatir. Mereka hidup dalam sepi di Tamil Nadu, India, berharap suami mereka akan segera kembali dan membantu urusan rumah tangga yang tak tertanggungkan banyaknya --mulai dari mengurus orang tua yang sepuh hingga memenuhi kebutuhan rumah tangga.

Para buruh migran di Timur Tengah. (Foto: Reuters)
zoom-in-whitePerbesar
Para buruh migran di Timur Tengah. (Foto: Reuters)

Kekhawatiran para perempuan India yang suaminya bekerja di Timur Tengah, berujung depresi. Pada Februari 2016, hasil survei pemerintah India mencatat setidaknya 70 persen perempuan (istri) India merasa gelisah, khawatir, takut, dan kesepian.

Kini, kekhawatiran memuncak dengan krisis terbaru Timur Tengah.

[Baca juga: Kisruh Arab-Qatar: Ramai-ramai Menghentikan Laju Qatar di Timur Tengah]

Mereka khawatir, krisis Timur Tengah akan memberi dampak luar biasa pada keberlangsungan hidup dan pekerjaan suami mereka di sana.

Dampak krisis Timur Tengah turut dirasakan oleh buruh domestik di jazirah itu. Gaji rendah, ketiadaan jaminan perlindungan, jam kerja begitu tinggi, hingga tempat bernaung yang tak layak, menjadi masalah yang kerap menjerat para pekerjanya.

Migrant-Rights, sebuah lembaga nirlaba yang bergerak memperjuangkan hak pekerja, mengungkapkan tingginya jam kerja yang harus dilalui para buruh Saudi.

Dengan jam kerja mencapai 63,7 jam per minggu, angka tersebut menduduki peringat kedua jam kerja tertinggi di dunia. Tak berbeda jauh, buruh di Qatar pun bekerja dengan rata-rata 60 jam per minggu.

Tak cuma masalah jam kerja, para buruh Timur Tengah pun harus menghadapi persoalan rendahnya gaji. Buruh Kuwait digaji lebih rendah dari 20 persen pendapatan nasional --lebih rendah 30 persen dari gaji pekerja di Qatar.

Para buruh domestik Kuwait hanya mendapatkan 147 dolar Amerika tiap bulannya. Angka ini begitu mencekik, terlebih lagi mereka masih harus membayar beberapa biaya “prosedural” di tempat kerjanya sendiri, seperti buruh Bangladesh yang harus membayar hingga 5.200 dolar AS untuk biaya rekrutmen.

[Baca juga: Isolasi Saudi cs Pukul Telak Ekonomi Qatar]

Buruh migran perempuan di Dubai. (Foto: Reuters)
zoom-in-whitePerbesar
Buruh migran perempuan di Dubai. (Foto: Reuters)

Mencari pekerjaan di negara Timur Tengah merupakan salah satu cara untuk keluar dari ambang kemiskinan. Namun, alih-alih mendapat kesempatan hidup lebih baik, para buruh migran diwajibkan mengeluarkan sejumlah uang untuk membayar biaya pendaftaran dan proses rekrutmen --yang jumlahnya bisa jadi sama besarnya dengan pendapatan bulanan yang akan mereka terima.

[Baca juga: Qatar vs Saudi: Semua yang Perlu Anda Tahu]

Memuncaknya krisis Timur Tengah memberi dampak dan tekanan yang begitu besar bagi para buruh, terutama di Qatar. Harapan untuk memperbaiki hidup di tanah kaya itu bisa perlahan pupus dirundung krisis. Ancaman gaji merosot hingga pemutusan hubungan kerja pun di depan mata.