Luhut Tinjau Restorasi Mangrove Bali Jelang KTT G20: Presiden Mau Kirim Pesan

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Koordinator PPKM Jawa-Bali Luhut Binsar Pandjaitan di Balai Hutan Mangrove Wilayah I, Kota Denpasar, Bali, Kamis (25/11). Foto: Denita BR Matondang/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Koordinator PPKM Jawa-Bali Luhut Binsar Pandjaitan di Balai Hutan Mangrove Wilayah I, Kota Denpasar, Bali, Kamis (25/11). Foto: Denita BR Matondang/kumparan

Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan memantau proyek restorasi hutan mangrove (bakau) di Balai Pengelolaan Hutan Mangrove Wilayah I, Jalan By Pass Ngurah Rai, Kota Denpasar, Kamis (25/11).

Luhut mengatakan, restorasi hutan merupakan salah satu program pemerintah yang akan dibanggakan dalam KTT G20 pada 2022. Menurutnya, selama ini ada sekitar 200 ribu hektar hutan di Indonesia akan direstorasi.

"Ini bagian kecil dari program pemerintah yang 600 ribu hektar mangrove direstorasi. Nanti waktu G20 Presiden (Jokowi) akan nunjukin selama tahun ini dan tahun depan hampir 200 ribu hektar direstorasi dan masih sebagian besar didanai oleh APBN," kata Luhut kepada wartawan usai memantau hutan mangrove tersebut.

Indonesia memegang presidensi KTT G20 pada 2022. RI mengambil tema “Recover Together, Recover Stronger”.

kumparan post embed

Restorasi hutan tersebut juga bertujuan untuk mengirimkan pesan kepada mereka yang suka kritis terhadap hutan di negara berkembang, tapi tidak bertindak.

"Jadi Presiden mau ngirim pesan. Jadi kamu, tuh, jangan omong-omong saja di dalam pertemuan tingkat tinggi dengan dunia-dunia," kata Luhut.

Luhut menjelaskan, pemerintah telah menggelontorkan dana 1,2 miliar dolar AS untuk restorasi hutan. Kemudian Bank Dunia memberikan bantuan Rp 400 juta dolar AS.

Proyek restorasi hutan mangrove di Balai Pengelolaan Hutan Mangrove Wilayah I, Jalan By Pass Ngurah Rai, Kota Denpasar, Kamis (25/11). Foto: Denita BR Matondang/kumparan

Program restorasi ini melibatkan pengusaha sawit. Nantinya, para pengusaha tersebut menanam mangrove dan dapat mengeklaim karbon.

Pemerintah dalam hal ini Kemenkeu, Kemendag, OJK, DLHK, SDM, PLN sedang menyusun mengenai harga dan trading karbon.

"Indonesia salah satu disebut superpower dalam carbon credit. Ini kekuatan besar kita mungkin bisa menghasilkan puluhan, ratusan bahkan miliaran dolar. Mungkin beberapa puluh tahun ke depan untuk generasi muda menciptakan lapangan kerja. Nanti bisa ikan, udang, kepiting dan sebagainya," ucap dia.

Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan memantau proyek restorasi hutan mangrove di Balai Pengelolaan Hutan Mangrove Wilayah I, Jalan By Pass Ngurah Rai, Kota Denpasar, Kamis (25/11). Foto: Denita BR Matondang/kumparan

Luhut mengatakan, hutan mangrove di Bali sudah berusia lebih dari 27 tahun dan berasal dari bekas tambak. Suhu di hutan beda 0,5-1 derajat dengan di pusat Kota Denpasar.

Hutan yang memiliki luas sekitar 1 hektar ini akan dibangun sejumlah fasilitas seperti jalur perjalanan untuk pejalan kaki dan buggy car. Target pembangunan selesai pada Agustus 2022.

kumparan post embed

Pidato Jokowi di KTT G20

Sebelumnya, dalam pertemuan KTT G20 pada 2021, Jokowi membanggakan Indonesia sebagai salah satu negara pemilik hutan tropis sebesar di dunia.

Ia mengatakan, Indonesia telah merehabilitasi 3 juta hektar lahan kritis pada tahun 2010-2019. Jokowi ingin G20 memimpin dunia mengatasi perubahan iklim dan mengelola lingkungan secara berkelanjutan.

"Indonesia juga telah merehabilitasi 3 juta ha lahan kritis pada 2010-2019," ujar Jokowi.

"Indonesia ingin G20 memimpin dunia mengatasi perubahan iklim dan mengelola lingkungan secara berkelanjutan dengan tindakan nyata," kata Jokowi.

Pidato terkait perubahan iklim dan lingkungan disampaikan Jokowi dalam KTT G20 sesi II. Isu tersebut menjadi transisi dari KTT G20 ke Konferensi Perubahan Iklim atau COP26.

Sedangkan dalam pidatonya di COP26, Jokowi mempertanyakan seberapa besar kontribusi negara maju sesuai kesepakatan.

“Indonesia akan dapat berkontribusi lebih cepat bagi net-zero emission dunia. Pertanyaannya, seberapa besar kontribusi negara maju untuk kami? Transfer teknologi apa yang bisa diberikan? Program apa yang didukung untuk pencapaian target SDGs yang terhambat akibat pandemi?” ungkap Jokowi.