Ma'ruf Amin: Tak Boleh Ada Perintah Memilih Pancasila atau Al-Quran
·waktu baca 2 menit

Wakil Presiden Ma'ruf Amin meminta agar tak ada pihak mana pun yang memerintahkan atau memaksa seseorang untuk memilih antara Pancasila atau Al-Quran. Ma'ruf menyebut Pancasila dan agama tak boleh dipertentangkan satu sama lain.
Hal itu disampaikan Ma'ruf saat menghadiri peluncuran buku karyanya berjudul 'Darul Misaq: Indonesia Negara Kesepakatan' yang digelar di Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Senin (7/6). Acara tersebut juga merupakan rangkaian kegiatan Dies Natalis ke-57 UNJ.
"Kita tidak boleh mempertentangkan Pancasila dan agama, atau perintah memilih Pancasila atau Al-Quran," ujar Ma'ruf.
Pada dasarnya, menurut Ma'ruf, hubungan antara Islam dan negara sudah selesai diperdebatkan oleh para pendiri bangsa (founding fathers). Mereka telah menerima konsep ideologi Pancasila yang digunakan Indonesia.
Selain itu, kelima sila yang terkandung di dalam Pancasila sudah cukup menggambarkan bagaimana Indonesia mencintai dan menghormati segala bentuk ajaran agama.
"Pancasila sebagai dasar negara, yang telah disepakati oleh Bapak Bangsa tersebut, tidak bertentangan dengan Islam, karena kelima sila dalam Pancasila itu sesuai dengan ajaran agama. Sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, bahkan secara eksplisit menunjukkan, bahwa negara Indonesia adalah negara yang beragama dan menghormati keberadaan agama," ucap Ma'ruf.
Kesepakatan Mulai Luntur
Akan tetapi, Ma'ruf menilai, kesepakatan tersebut perlahan mulai luntur sejalan dengan segelintir pihak yang menginginkan agar Indonesia menjadi negara Islam seutuhnya.
"Rupanya sebagian umat Islam pada saat ini masih belum cukup puas dengan penjelasan itu dan bahkan ada juga menolaknya. Di antara gerakan-gerakan itu tidak hanya menolak negara Pancasila, tetapi juga menggunakan cara kekerasan atau teror dalam perjuangan mereka atas nama jihad untuk mewujudkan negara Islam atau negara khilafah," ungkap Ma'ruf.
Kelompok ini muncul karena dipengaruhi adanya gerakan Islam transnasional. Gerakan ini, menurut Ma'ruf, memiliki dasar pemikiran agak berbeda dari pemeluk agama lain.
Ada pemahaman yang kaku terhadap isi Al-Quran sehingga memunculkan tindakan yang terbilang intoleran.
"Ideologi perjuangan yang intoleran dan disertai kekerasan ini dipengaruhi oleh gerakan-gerakan Islam transnasional. Ideologi transnasional yang keras itu memang tidak terlepas dari pemahaman mereka terhadap teks-teks Al-Qur’an dan Hadis secara literal dan kaku," ungkap Ma'ruf.
"Sehingga mereka memiliki sikap yang intoleran dan radikal, bahkan sebagian mereka memiliki sikap ekstrem dan pengkafiran terhadap kelompok lain yang berbeda," lanjut dia.
Oleh sebab itu, Ma'ruf menganggap perlu implementasi dari ajaran wasathiyyah atau moderasi dalam beragama antara satu warga negara dengan yang lain untuk saling memahami bahwa perbedaan adalah hal lumrah. Sehingga tak perlu lagi ada narasi untuk memilih antara Pancasila dan Al-Quran.
"Implentasi wasathiyyah atau moderasi beragama dalam bingkai darul mitsaq di negeri ini meliputi empat hal, yakni: toleransi, antikekerasan, komitmen kebangsaan, dan akomodatif terhadap budaya lokal dan perkembangan zaman," kata Ma'ruf.
