Melihat Suasana Rumah Bos Sritex Iwan Setiawan Lukminto di Solo
·waktu baca 2 menit

Kejagung menangkap bos PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex), Komisaris Utama (Komut) Iwan Setiawan Lukminto Selasa (20/5) malam. Penangkapan dilakukan tim Kejagung di rumah pribadi Iwan Jalan Enggano, Stabelan, Banjarsari, Solo.
Pantauan kumparan pada Rabu siang, kediaman yang berlantai dua dan berwarna coklat-krim tersebut tampak sepi dari aktivitas. Lokasi kediaman ini hanya berjarak sekitar 850 meter dari kantor Kejaksaan Negeri Solo.
Rumah tampak tidak dipasang garis polisi atau Kejagung. Penjaga rumah masih bebas keluar masuk. Awak media sempat mencoba menemui salah satu penghuni yang mengaku sebagai penjaga rumah tersebut.
Pria paruh tersebut membenarkan bahwa rumah tersebut adalah kediaman pribadi Iwan Setiawan Lukminto dengan cara mengangguk saat ditanya awak media.
“Iya ini rumah pribadi Iwan Setiawan Lukminto. Rumah ini kosong,” ujar penjaga rumah itu tanpa mau menyebutkan namanya, Rabu (21/5).
Saat ditanya sejak kapan rumah tersebut ditinggalkan, ia mengaku tidak tahu.
Kasi Intel Kejaksaan Negeri (Kejari) Solo, Widiharso Nugroho, mengatakan Iwan Setiawan Lukminto sempat dibawa ke kantor Kejari Solo untuk menginap usai ditangkap pada Selasa malam.
Dia kemudian dibawa ke Jakarta pada Rabu (21/5) pukul 05.00 WIB melalui Bandara Adi Soemarmo Boyolali. Dan terbang ke Jakarta pada pukul 07.00 WIB.
Saat ini, Iwan Setiawan menjabat Komisaris Utama Sritex. Dia menjabat Direktur Utama PT Sritex periode 2014-2023. Sementara yang menjabat Dirut Sritex saat ini adalah adiknya, Iwan Kurniawan Lukminto.
Namun, belum diketahui peranan Iwan dalam perkara tersebut. Iwan dan pihak Sritex pun belum berkomentar mengenai perkara maupun penangkapan tersebut.
Kejaksaan Agung saat ini memang tengah mengusut kasus dugaan korupsi terkait pemberian kredit bank ke PT Sri Rejeki Isman Tbk (SRIL) alias PT Sritex.
Kapuspenkum Kejagung, Harli Siregar, menyebut ada 4 bank pelat merah yang menjadi kreditur untuk Sritex.
Sebanyak 3 bank di antaranya merupakan bank pembangunan daerah (BPD) yakni Bank DKI, Bank Jateng, dan Bank Jabar Banten, dan 1 bank merupakan BUMN yakni BNI.
"Kalau kita lihat nilainya sekitar hampir Rp 3,6 T," ujar Harli.
