Membelah Hutan Belantara Bangun Jalan Perbatasan RI-Malaysia

Proyek pembangunan jalan perbatasan di Provinsi Kalimantan Barat yang digagas sejak 2014 terus berlanjut, melingkupi pembukaan kawasan hutan, pelebaran jalan, serta pekerjaan jalan paralel perbatasan Kalimantan Barat sepanjang 849,76 kilometer.
Kumparan (kumparan.com) bersama romobongan Direktorat Jenderal Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat mendapat kesempatan menyusuri ruas jalan Nanga Era- Perbatasan Kalimantan Timur (107,36 km), Putussibau-Badau (162,49 km), Putusibau-Nanga Era (31,64 km), Nanga Badau-Nanga Kantuk- Merakai (60 km), dan Pontianak -Puttusibau (578,03 km). Perjalanan dilakukan selama 3 hari perjalanan.
Pembangunan jalan paralel di perbatasan memerlukan kerja ekstra. Sebab, harus diawali dengan pembukaan hutan (land clearing) yang dilakukan oleh Zeni TNI-AD. Salah satu ruas yang belum tembus dan kami kunjungi pada Rabu kemarin adalah akses Nanga Era-Batas Kalimantan timur sepanjang 152,36 km. Sekitar 50 Personil dikerahkan membelah hutan di sana.
"Di ruas ini (Nanga Era-Batas Kalimantan timur) ada 107,36 km belum tembus. InsyaAllah tahun depan terbuka," kata Kepala Bidang Pembangunan dan Pengujian Balai Besar Jalan Nasional XI (BBPJN) Kalimantan, Nanang Handono Prasetyo, di Putusibau, Kalimantan Barat, Rabu (26/4).
Baca juga: Hari 1 Ekspedisi Jalur Perbatasan RI-Malaysia

Pada 2016, dari 849,76 kilometer total jalan yang dibangun di Kalimantan Barat, sepanjang 188,61 kilometer diantaranya masih berupa hutan atau belum land clearing. Pada tahun 2017 ini akan dikerjakan pembukaan hutan untuk jalan baru sepanjang 81,25 km.
Meski ada ruas jalan yang sudah tembus, banyak yang belum mendapat perkerasan aspal dan hanya berupa tanah atau agregat (material batu). Perkerasan aspal akan diprioritaskan pada area yang sudah ada pemukiman. Sementara penggunaan agregat digunakan pada area yang masih butuh peningkatkan lalu lintas harian-nya (LHR).
Bina Marga menargetkan pada akhir 2017 kondisi jalan paralel perbatasan akan berupa aspal sepanjang 323,57 kilometer, agregat 129,39 kilometer, dan 288,44 kilomete tanah. Penambahan ruas jalan tanah pada 2017 dikarenakan dibukanya hutan menjadi bakal jalan baru.
"Target yang akan dicapai tahun 2019, 359,25 km itu aspal, 490,52 km itu agregat. Kami akan melakukan percepatan sampai dengan 2018 bisa dicapai, 42 persen itu aspal, 58 persen agregat," tambah Nanang.
Baca juga: Melihat Dua Ikon Jembatan di Daerah Perbatasan

Dalam pembangunan jalan perbatasan ini, Kementerian PUPR terus berkoordinasi dengan Zeni TNI AD dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLH) untuk mengurus izin kehutanan. Tantangan terbesar pembanguan jalan paralel ini adalah memenuhi aspek keramahan lingkungan.
Selain status hutan, ada beberapa kendala lain dalam membangun jalan perbatasan ini, yaitu keterbatasan data sehubungan dengan lokasi pembangunan yang terpencil sehingga diperlukan survei dan pengukuran yang detail. Selanjutnya ketersediaan material yang bisa digunakan sebagai sub-grade pembangunan jalan.
Ekspedisi Tour of West Borneo ini terdapat 15 koridor ruas pembangunan jalan yang dikunjungi, yaitu Sp.Tanjung-Temajuk (70 km), Sambas-Sp.Tanjung Harapan (16,15 km), Pontianak-Sambas (213,931 km), dan Sp.Tanjung Harapan-Sp Tanjung (61,09 km).
Perjalanan dilanjutkan ke Sp.Tanjung-Sp.Takek-Seluas (55 km), Seluas-Bengkayang (89,60 km), Bengkayang-Pontianak (151,80 km), Balai Karangan-Merau Santos (30 km), Pontianak- Tayan (98,30 km) Balai Karangan-Senaning (90 km), Tayan-Balai Karangan (122,53 km).
