Mendagri Tito Bicara Manfaat Data Kependudukan: Bisa Ungkap Kasus Bom

kumparanNEWSverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Mendagri Tito Karnavian meresmikan peluncuran mesin Anjungan Dukcapil Mandiri (ADM). Foto: Maulana Ramadhan/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Mendagri Tito Karnavian meresmikan peluncuran mesin Anjungan Dukcapil Mandiri (ADM). Foto: Maulana Ramadhan/kumparan

Menteri Dalam Negeri, Tito Karnavian, menyoroti pentingnya digitalisasi data kependudukan. Hal itu ia sampaikan saat meresmikan peluncuran mesin Anjungan Dukcapil Mandiri (ADM) di Hotel Discovery Ancol, Jakarta Utara.

Menurut Tito, sistem data kependudukan yang terpadu memiliki manfaat yang sangat besar.

Tito lalu bercerita saat masih menjabat sebagai polisi aktif, sangat terbantu dengan data kependudukan, khususnya dalam menangani kasus bom.

"Misalnya, waktu saya menangani teror ada bom bunuh diri di Bali. Kami harus cari orangnya, tidak ada sidik jarinya, karena gak ada sistemnya, kami carinya manual," kata Tito, Senin (25/11).

"Begitu ada kejadian bom Kampung Melayu, bom Jalan Thamrin (Jakarta), saya Kapoldanya (Kapoda Metro Jaya). Itu ada orangnya lengkap, tangannya ada sidik jari, wajah masih lengkap. Tinggal difoto menggunakan alat, dalam hitungan detik sudah keluar, tahu alamatnya di mana," lanjutnya.

Mendagri Tito Karnavian di Hotel Kartika Chandra, Jakarta, Senin (25/11). Foto: Maulana Ramadhan/kumparan

Selain memberi kemudahan untuk mengungkap kasus pidana, Tito menyebut data kependudukan juga berguna bagi pemenuhan hak politik masyarakat seperti Pilkada.

"Urusan politik jelas. Ketua KPU datang (ke saya) bahwa nanti tahun 2020 kita akan pemilu 270 wilayah dan kita akan menggunakan database-nya menggunakan Dukcapil Kemendagri," tutur Tito.

Menurutnya, data kependudukan itu juga sangat bermanfaat bila nantinya Pemilu menerapkan sistem e-voting.

"Apalagi kalau sudah berkembang, misalnya nanti e-voting, maka lebih murah lagi biaya negara. Karena e-voting ini enggak perlu lagi TPS, surat suara, bahkan mungkin gak perlu lagi petugas di kampung-kampung, yang biayanya bisa triliunan," jelas Tito.

"Nanti mungkin Pak Zudan (Dirjen Dukcapil) bisa bekerjasama dengan KPU kalau data kita sudah 100 persen, maka pemilihan bisa dengan cara e-voting. Ini akan menghemat biaya negara," tutup Tito.