Mendikdasmen Singgung Istilah Asing: Coffee Shop Harga Kopi Bisa Melesat
·waktu baca 2 menit

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti menyoroti fenomena harga produk lokal yang bisa melesat jika menggunakan istilah asing.
Ia mengatakan, pengunaan istilah asing kerap kali membuat nilai sebuah produk meningkat drastis, meski dalam beberapa kasus tidak adanya peningkatan kualitas dari produk tersebut.
Hal itu disampaikan Mu'ti dalam peluncuran Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 2 Tahun 2025 tentang Pedoman Pengawasan Penggunaan Bahasa Indonesia yang diselenggarakan di Plaza Insan Berprestasi, Kantor Kemendikdasmen, Jakarta Pusat, Jumat (25/4).
"Yang tadi, menarik lagi, apa namanya, warung kopi, begitu diganti dengan coffee shop, harganya meningkat sepuluh kali lipat," kata Mu’ti.
Sekum Muhammadiyah ini memberikan contoh konkret dari kuliner lokal yang memiliki cita rasa tinggi, tapi kurang dihargai hanya karena tidak berbalut istilah asing.
"Makanya kemudian, ayam goreng itu harganya murah. Tetapi begitu fried chicken itu jadi mahal. Padahal ayam goreng itu rasanya tidak kalah dengan fried chicken," ucap dia.
Fenomena itu, menurut Mu'ti, menjadi salah satu alasan mengapa penggunaan bahasa Indonesia perlu terus dijaga dan dibiasakan.
Ia menjelaskan, ada kecenderungan masyarakat merasa lebih naik kelas jika menggunakan istilah asing, padahal ini justru berpotensi menggeser identitas bahasa nasional.
Karenanya, ia menekankan persoalan penerjemahan juga harus menjadi agenda penting agar masyarakat merasa bangga menggunakan bahasa Indonesia, bahkan bisa merasa naik kelas karenanya.
"Nah beberapa penerjemahan-penerjemahan seperti ini, menurut saya perlu menjadi agenda, supaya orang itu bangga, dan naik kelas dengan menggunakan bahasa Indonesia itu," tandas dia.
Dalam acara itu turut hadir Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Atip Latipulhayat, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi Fauzan, Ketua Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudian dan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa.
