Menengok Sejarah Tradisi Mudik Lebaran di Indonesia

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Petugas Kementerian Perhubungan memeriksa surat kelengkapan penumpang bus Antar Kota Antar Provinsi (AKAP) Terbatas di terminal tipe A Batoh, Banda Aceh, Aceh, Kamis (6/5).  Foto: Irwansyah Putra/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Petugas Kementerian Perhubungan memeriksa surat kelengkapan penumpang bus Antar Kota Antar Provinsi (AKAP) Terbatas di terminal tipe A Batoh, Banda Aceh, Aceh, Kamis (6/5). Foto: Irwansyah Putra/ANTARA FOTO

Mudik lebaran jadi momen yang ditunggu masyarakat Indonesia tiap kali merayakan hari raya Idul Fitri. Mudik menjadi salah satu tradisi bagi mereka si 'anak rantau' yang memanfaatkan momentum ini untuk mengunjungi keluarga dan sanak saudara nan jauh di sana.

Biasanya, puncak perayaan hari raya Idul Fitri menjadi momen pas warga untuk melakukan mudik menuju kampung halaman mereka masing-masing. Saat virus corona menyebar, tradisi mudik di Indonesia sempat dilarang. Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk meminimalisasi penyebaran virus COVID-19 yang semakin parah.

Saat tradisi mudik ini terhenti, banyak warga yang tetap memaksa menemui keluarganya di kampung halaman. Tak sedikit dari mereka tetap melakukan tradisi tahunan tersebut, hingga rela harus diberhentikan oleh pihak Kepolisian, lantaran telah melanggar aturan mudik yang sempat dilarang pada waktu itu.

Personel kepolisian menurunkan penumpang angkutan ilegal atau travel gelap saat penyekatan mudik di pintu keluar Jalan Tol Tegal, Jawa Tengah. Foto: Oky Lukmansyah/ANTARA FOTO

Setelah berkutat dengan kondisi pandemi dalam 2 tahun terakhir, pemerintah Indonesia pun kembali memperbolehkan tradisi mudik. Dengan syarat, calon pemudik harus sudah melakukan vaksinasi booster atau menyertakan hasil tes negatif COVID-19.

Meski begitu, kini masyarakat Indonesia tak perlu lagi khawatir tak bisa melakukan mudik tahunan. Banyak dari mereka yang mulai antusias kembali menyambut agenda mudik Hari Raya Idul Fitri 2022 di bulan Mei mendatang.

Lantas, sebenarnya bagaimana sejarah di balik tradisi mudik yang telah membudaya di Indonesia ini?

Foto udara menunjukkan kendaraan terjebak macet di Pintu Tol Cikupa, Tangerang, Banten, Kamis (6/5). Foto: Galih Pradipta/Antara Foto

Tradisi mudik tercatat pertama kali sejak zaman Kerajaan Majapahit di tahun 1200-an. Waktu itu belum ada Indonesia dan masih bernama Nusantara. Istilah mudik juga belum digunakan. Aktivitas mobilisasi tersebut hanya dilakukan oleh beberapa pejabat Majapahit yang berkuasa di luar pusat kerajaan Majapahit.

Di suatu waktu, mereka kembali mengunjungi pusat kerajaan untuk menghadap raja yang sekaligus juga jadi momen mereka mengunjungi kembali kampung halaman. Fenomena ini yang kemudian menjadi cikal bakal dari aktivitas mudik.

Saat kerajaan Mataram Islam berkuasa pada tahun 1500-an, mudik saat hari raya Idul Fitri juga dilakukan oleh pejabat kerajaan tersebut. Mereka sengaja pulang kampung saat hari raya besar itu tiba dan tak lupa mengunjungi keluarga tercinta mereka di kampung halaman.

"Yang jelas tradisi mudik baru dikembangkan dalam zaman Islam Demak atau Mataram. Itu juga hipotetik," tegas Agus Aris Munandar, Arkeolog UI saat dihubungi kumparan (5/4).

Istilah mudik sendiri baru populer dan digunakan di tahun 1950-an. Masyarakat Jawa mengenal istilah mudik yang berasal dari kata "mulih disik" yang artinya pulang sejenak atau pulang dulu. Aktivitas mudik ini sangat erat kaitannya dengan kebiasaan petani Jawa.

Petani memanen padi yang terendam banjir di Desa Nusadadi, Sumpiuh, Banyumas, Jawa Tengah, Jumat (18/3/2022). Foto: Idhad Zakaria/ANTARA FOTO

Berdasarkan buku berjudul Pertanian dan Kemiskinan di Jawa (2002), tradisi mudik lekat sekali dengan kebiasaan petani Jawa yang mengunjungi tanah kelahirannya untuk berziarah ke makam para leluhur. Bagi mereka, mengunjugi makam leluhur menjadi aspek spiritual penting yang harus mereka lakukan. Mendoakan leluhur adalah sebuah kewajiban yang perlu mereka tunaikan. Meskipun tradisi berziarah di sini harus dipisahkan dalam kondisi ruang geografis yang berbeda.

Menurut Agus Ari Munandar, budaya ziarah yang dimiliki masyarakat Jawa itu, sebelumnya berasal dari upacara sraddha atau dikenal dengan nyandran.

Warga berziarah ke makam menjelang bulan suci Ramadhan di TPU COVID-19, Rorotan, Jakarta, Jumat (1/4/2022). Foto: Willy Kurniawan/REUTERS

"Iya, masa Majapahit ada upacara pemujaan di candi pendharmaan raja setahun sekali, mungkin rakyat dari jauh-jauh datang untuk melakukan upacara bersama (upacara sraddha)," jelas Agus.

Upacara sradda menjadi cikal bakal ziarah yang dilakukan masyarakat Jawa di berbagai daerah. Nyandran yang berasal dari upacara tersebut, menjadi tradisi pembersihan makam yang dilakukan di pedesaan.

Masyarakat Jawa akhirnya rela melakukan perjalanan jauh hanya untuk melaksanakan kewajiban mereka, yakni mendoakan dan membersihkan para makam leluhur. Dan dari sini lah istilah 'mulih disik' atau mudik menjadi membudaya di kalangan masyarakat Jawa.

Maraknya mudik juga dipengaruhi oleh perpindahan ibukota Indonesia dari Yogyakarta ke Jakarta. Perpindahan ibukota yang diikuti dengan pembangunan besar-besaran, membuat masyarakat ramai melakukan urbanisasi.

Suasana lalu lintas di kawasan Bundaran HI, Jakarta pada Rabu (16/3/2022). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

Setidaknya, berdasarkan laporan statistik kependudukan tahun 1948-1949, jumlah penduduk Jakarta saat itu hanya berada di angka 800.000 jiwa. Kemudian, tahun 1950-an jumlah penduduk di Jakarta tiba-tiba melonjak hingga 1,4 juta jiwa.

Lonjakan jumlah penduduk yang berasal dari daerah luar Jakarta terjadi, karena banyak masyarakat yang memiliki mimpi dan angan-angan besar terhadap kota Jakarta. Saat itu, mereka punya proyeksi masa depan yang lebih cerah saat ada di ibukota. Ketika banyak orang yang pindah ke Jakarta untuk mencari pekerjaan, terdapat momen di mana mereka rindu dengan keluarganya di kampung. Saat itu lah mereka akan melakukan aktivitas mudik.

Seiring makin banyaknya masyarakat Indonesia yang melakukan mudik, pemerintah Indonesia pada 1960-an memberikan perhatian serius pada kegiatan mudik ini. Jalur kereta api yang beroperasi pada masa kolonial kembali diaktifkan untuk menampung para pemudik.

Memasuki tahun 1980-an, opsi kendaraan masyarakat yang ingin melakukan mudik pun semakin variatif. Mulai dari pesawat terbang, kereta api, bus, hingga kendaraan pribadi. Daerah-daerah kampung halaman yang jaraknya jauh, tak lagi menjadi masalah besar bagi para pemudik yang berasal dari Jakarta.