Mengenal Kim Yo-jong, Calon Pemimpin Korut Jika Kim Jong-un Wafat

Intelijen Amerika Serikat mengabarkan Kim Jong-un tengah mengalami kondisi gawat usai menjalani operasi kardiovaskular, tapi Korea Selatan melaporkan sebaliknya. Sementara, dari pihak Korea Utara sendiri, tak ada kabar apa pun.
Misteri masih melingkupi kondisi kesehatan pemimpin Korut itu meski dalam dua hari belakangan kabar kencang menyebutkan dia sedang sakit keras. Simpang siur.
Spekulasi pun kini bermunculan terkait masa depan Korut di tangan Kim Jong Un. Jika nantinya dia wafat, lantas siapa yang akan meneruskan takhtanya?
Muncul satu nama yakni Kim Yo-jong yang tak lain adalah adik perempuannya. Yo-jong berpeluang menggantikan Kim Jong-un karena dia memiliki ‘darah kerajaan’.
“Kemungkinan Kim Yo-jong meneruskan kepemimpinan Kim Jong-un lebih dari 90 persen. Dia punya ‘darah kerajaan’ dan Korut seakan merupakan negara dinasti,” ujar analis dari Sejong Institute di Korsel, Cheong Seong-chang, seperti dikutip AFP.
Yo-jong sejatinya bukanlah sosok asing. Wanita 33 tahun ini kerap menemani Kim Jong-un dalam pertemuan dengan pemimpin dunia, termasuk ketika bertemu Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Banyak pihak menilai Yo-jong adalah orang nomor dua di Korut.
Yo-jong merupakan adik Kim Jong-un dari ibu yang sama, yaitu Ko Yong-hui, penari kelahiran Jepang yang menjadi istri ketiga Kim Jong-il yang resmi dan dijuluki Ibu Pyongyang.
Seperti halnya Kim Jong-un, tak banyak informasi di publik soal Yo-jong. Namun dia diyakini lahir pada 26 September 1987 di Ibu Kota Korut, Pyongyang, tiga tahun lebih muda dibanding Kim Jong-un.
Bersama kakaknya, Yo-jong menempuh pendidikan di Kota Berne, Swiss, dari 1996 sampai 2000. Setelah kembali ke Pyongyang, perempuan itu melanjutkan studinya di dua universitas, yaitu di Universitas Militer Kim Il-sung dan menempuh studi ilmu komputer di Universitas Kim Il-sung.
Sampai 2010, Yo-jong tak pernah menunjukkan diri di muka publik. Kemunculan pertamanya adalah pada Konferensi Partai Pekerja di tahun tersebut.
Tahun-tahun selanjutnya, Yo-jong sering terlihat bersama beberapa pejabat penting Korut. Saat ayahnya meninggal dunia pada Desember 2011 lalu, Yo-jong nampak berdiri di samping Jong-un.
Media Korut sendiri baru menyebut nama Yo-jong secara resmi pada 2014 usai dirinya mendampingi Jong-un saat pemilihan Majelis Tinggi.
Beberapa rumor di Korut menyebut, Yo-jong sempat mengambil alih urusan dalam negeri Korut, saat Jong-un absen karena sakit pada 2016 lalu.
Dalam setiap kemunculannya, Yo-jong mudah dikenali. Ia hampir pasti mengenakan pakaian berwarna hitam, sepatu hak tinggi dan menguncir rambut panjangnya. Beberapa peneliti Korut menganalisa Yo-jong punya kepribadian bertolak belakang dari Jong-un. Dia murah senyum dan selalu nampak ceria.
Kendati demikian, komunitas internasional justru berkata sebaliknya. Departemen Keuangan AS telah Yo-jong ke daftar hitam. Perempuan ini bersama beberapa pejabat Korut lain disebut terlibat dalam beberapa pelanggaran HAM di negara itu.
Pada 2016, Kepala Intelijen Korea Selatan mengeluarkan laporan mengejutkan. Wanita ini disebut terlibat dalam dugaan penyalahgunaan kekuasaan.
Ditunjuk menjadi anggota politbiro, Yo-jong adalah perempuan kedua setelah Kim Kyong-hui yang memegang peranan tinggi di pemerintahan Korut.
Kyong-hui merupakan bibi dari Jong-un dan Yo-jong. Namun, perempuan tersebut tak pernah terlihat setelah suaminya Jang Song-thaek dieksekusi mati pada 2013 lalu atas tuduhan pengkhianatan.
Penunjukan Yo Jong, menurut pengamat Korut Michael Madden dari Universitas John Hopkins adalah untuk menggantikan Kyong-hui.
Meski peluang Yo-jong menggantikan Kim Jong-un cukup besar, opini lain muncul bahwa dia tak akan pernah bisa menjadi pemimpin Korut kelak. Pasalnya, Korut dikenal sebagai negara yang mengedepankan perbedaan jenis kelamin.
“Korut adalah negara di mana senioritas dan maskulinitas sangat dihargai. Kim Yo-jong adalah sekutu Kim Jong-un yang paling terpercaya, tapi tidak lebih dari itu,” kata dosen dan ahli Korut dari International College of Management di Sydney, Leonid Petrov, dikutip VICE News.
Menurutnya, posisi Yo-jong bisa berbahaya jika Jong-un meninggal dunia karena dipastikan banyak pihak yang ingin mengambil alih tongkat kepemimpinan. Kondisi itu seperti yang terjadi pada istri pemimpin China Mao Zedong.
“Jika Kim Jong-un meninggal atau tidak lagi bisa memimpin, Kim Yo-jong tampaknya akan mengulangi nasib Jiang Qing, yang dikenal juga dengan Madame Mao, yang dipenjara setelah kematian suaminya karena dituduh sebagai aktivis anti partai,” tandas Petrov.
