Mengenal Pengobatan Plasma Darah dan Actemra yang Diklaim Ampuh untuk COVID-19

dr Sriyanto awalnya hanya ingin melepas rindu dengan kerabatnya karena sudah lebih dari 5 bulan tidak bertemu karena pandemi virus corona. Pertemuan tersebut digelar pada 1 November lalu, namun karena pertemuan itu juga dia terpapar corona.
Sriyanto yang menetap di Wonogiri ini curiga ketika merasa demam pada 15 November 2020. Panasnya tinggi dan berhari-hari tidak turun.
"Saya demam, biasanya saya demam dua hari minum obat, sembuh. Istirahat, enggak kerjalah. Sehari saya biasanya tidur, besoknya sembuh. [Tapi] Saya 3 hari enggak sembuh-sembuh, wah ini saya mikirnya lagi zaman COVID, terus akhirnya saya iseng-iseng satu rumah diswab semua," kata Sriyanto yang merupakan dokter bedah itu kepada kumparan, Jumat (4/12).
Hasil swab menunjukkan virus corona telah menyerangnya. "Yang positif saya dan anak saya yang masih SMA," ujarnya.
Sriyanto dan anaknya langsung ke RSUD dr Moewardi Solo. Menurutnya, ia sudah sejak awal bersiap dan memberi tahu rekannya di sana bahwa kalau dia terinfeksi corona, dibantu dirawat di RS Moewardi.
Alasannya jelas, dari informasi yang ia dapat dari rekan seprofesinya, RS Moewardi pilihan utama. Alat medisnya lengkap dan menyediakan Tocilizumab dengan merek Actemra, obat buatan Roche yang diyakini Sriyanto ampuh untuk COVID-19.
"Saya dari dulu sudah persiapan, kalau COVID harus di Moewardi. Di RSUD [Wonogiri] enggak mau saya, di swasta juga enggak mau. Memang beda fasilitas yang diberikan, ini fakta. Ya pertama itu mertua teman saya koas dulu dia dapat Actemra dan plasma di RSPAD," jelas dr Sriyanto.
"RSPAD itu bagus. Teman saya kan di sana banyak, terus cerita mertuanya dirawat di situ, Menhub juga di sana pakai Actemra dan hasilnya bagus," imbuhnya.
Actemra sebenarnya merupakan obat anti-inflamasi yang biasanya diberikan kepada penderita rheumatoid arthritis.
Rheumatoid Arthritis merupakan peradangan sendi akibat sistem kekebalan tubuh yang menyerang jaringannya sendiri. Umumnya, penderita penyakit ini merasakan nyeri sendi dan terdapat bengkak di bagian tubuhnya.
Tapi obat ini sejak Maret 2020 memang diberikan ke pasien COVID-19 gejala berat di sejumlah negara. Hasilnya baik dan sudah uji klinis, tetapi belum ada penjelasan terbaru soal apakah obat ini bisa dikatakan sebagai obat COVID-19 atau tidak.
Actemra dan Plasma Darah Jadi 'Penyelamat'
Kata Sriyanto, sebelum diberi Actemra, kondisinya makin hari makin buruk. Pada hari ke-6 bahkan dia sama sekali tak bisa makan, seharian ia hanya minum saja.
Ia pun meminta sopirnya untuk ke RSPAD Jakarta untuk mengambil plasma darah yang sudah dipesannya saat masuk RS Moewardi.
Baru pada hari ke-7, di saat nafsu makannya sudah kembali, dr Sriyanto diserang gejala COVID-19 lain, yakni batuk terus-menerus.
"Hari ke-7 itu begitu gangguan makan rada membaik, batuk gantian mangkel. Ngobrol batuk, pindah salat batuk, wis pokoknya seharian batuk. Enggak bisa dihentikan, itu sakit banget," cerita dokter yang juga punya poliklinik itu.
Akhirnya plasma itu tiba di tanggal 25 November. Di malam harinya, pihak RS Moewardi langsung memberikan plasma itu ke dr Sriyanto.
"Saya beli 2 (satu kantong 200 cc Rp 2 juta), batuk mangkel itu, hari ke-7 malam masuk plasma darah. Hari ke-8 pagi masuk lagi, terus 12 jam kemudian langsung sembuh. Demamnya hilang, batuk tinggal 25 persen. Enggak perlu nunggu lama-lama. Hari ke-8 malam sembuh luar biasa," ungkapnya sambil terdengar tertawa bahagia di ujung telepon.
Terapi plasma ini, kata dia, memang harus menjadi senjata utama perang melawan COVID-19. Sebab, paling efektif dalam menciptakan antibodi.
Menurut dr Sriyanto, tubuhnya seperti dikirim ratusan 'tentara' melawan COVID-19. Langsung segar dan keluhannya tinggal batuk yang juga tidak parah seperti hari ke-7.
"Pokoknya pakai plasma, enggak usah pakai obat aneh-aneh, wis sudah pakai plasma saja. Plasma darah orang yang sembuh dia kan langsung ada antibodinya. Yang bikin sembuh kan antibodi ini. Sudah ada dan tinggi banget. Ibaratnya diberi ratusan ribu tentara suruh berkelahi sama COVID. Masuk akal itu kok," jelas dia.
Apa Itu Terapi Plasma Darah?
Lalu seperti apa terapi plasma darah itu? Terapi plasma darah merupakan pengobatan yang dilakukan dengan menggunakan darah penyintas COVID-19, untuk menyembuhkan pasien yang sedang berjuang melawan corona.
Pada saat terinfeksi virus corona, sistem imun tubuh akan mulai memproduksi antibodi, khususnya sel pelindung yang dapat mengenali dan melawan virus corona. Di mana ketika pasien dinyatakan sembuh, antibodi ini akan tersimpan dengan sendirinya dalam darah.
Metode terapi plasma darah ini bekerja dengan membantu menetralisir virus yang ada di dalam tubuh pasien terinfeksi untuk bisa survive.
Bahkan, terapi plasma darah ini juga sempat diterapkan saat adanya wabah SARS, MERS, Ebola, serta pandemi flu yang terjadi beberapa tahun lalu.
Ingin Plasma Darah Dikampanyekan sebagai Obat Corona
Setelah merasakan betul efek dari terapi plasma darah yang membantunya sembuh dari COVID-19, ia pun mendorong pemerintah lebih gencar mengkampanyekan terapi ini dilakukan di setiap rumah sakit di Indonesia.
Baginya membayar per kantong Rp 2 juta harus dilakukan demi kesembuhannya. Sebab, dokter bedah itu begitu yakin plasma darah adalah yang paling efektif mengobati pasien COVID-19.
"Ibaratnya diberi ratusan ribu tentara suruh berkelahi sama COVID. Masuk akal itu kok. Terapinya kayak donor darah biasa, saya cuma 90 menit selesai. Sekali terapi 200 cc satu kantong," ungkap dia.
Menurutnya, terapi ini masih minim dilakukan karena stok plasma darah penyintas corona belum banyak. Oleh karena itu, dr Sriyanto ingin sekali kampanye dimasifkan.
"Mengusahakan plasma asal ada pressure kuat itu gampang. Katanya orang-orang enggak mau berkorban kok, itu salah. Plasma sebenarnya kalau dibujuk, diberi penghargaan, diurus. Kalau bilang mau nyumbang plasma dipersulit itu salah. Orang Indonesia baik-baik, mau donor itu," tutur dia.
"Cuma alasan mereka kadang enggak mau donor, siapa bilang? Wong belum ditawari. Taruhlah PMI pusat, pemerintah bujuk penyintas. Pak, Bu, yuk donor. Pahalanya besar dan dikasih surat penghargaan. Udah banyak yang mau pasti," imbuhnya.
Menristek Sebut Plasma Darah Paling Potensial untuk Obati Corona
Menristek Bambang Brodjonegoro juga menyebut plasma darah sementara ini yang paling berpotensi untuk mengobati corona.
"Kalau melihat perkembangan hari ini, yang sudah terlihat hasilnya adalah yang plasma (darah)," ungkap Bambang dalam diskusi bersama kumparan.
Plasma ini dikembangkan dari darah pasien yang telah sembuh dari COVID-19. Ia menyebut plasma darah tengah dikembangkan di sejumlah daerah.
"Dan dalam tahap untuk diperbanyak ke tempat lain," imbuhnya.
Sementara untuk obat pendamping, ia menyebut masih meneliti obat yang cocok untuk dipakai. Terlebih belum ada obat yang memang khusus untuk corona.
"Nah untuk obat kita tengah melihat obat mana yang cocok dipakai di Indonesia. Saat ini kita lagi meneliti pil kina (obat malaria) kan," ungkap Bambang.
Bambang mengatakan penelitian untuk mencari vaksin dan obat corona kini masih dilakukan Eijkman Institute. Ia tak bisa memastikan kapan penelitian vaksin dan obat tersebut dapat selesai.
"Kita berharap yang terbaik untuk saat ini, Eijkman juga sudah dihubungi beberapa pihak terkait pembuatan vaksin," pungkasnya.
***
Saksikan video menarik di bawah ini:
