Mengintip Masa Depan Seni Budaya Indonesia dari Wajah Baru Taman Ismail Marzuki

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 6 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan di Taman Ismail Marzuki (TIM). Foto: Instagram/@aniesbaswedan
zoom-in-whitePerbesar
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan di Taman Ismail Marzuki (TIM). Foto: Instagram/@aniesbaswedan

Taman Ismail Marzuki (TIM) telah menjadi rumah bagi para seniman sejak 10 November 1968. Semenjak itu, TIM selalu menjadi rujukan bagi aktivitas seni budaya di Indonesia, tidak hanya di Jakarta.

Sebelum dikukuhkan menjadi Pusat Kesenian Jakarta (PKJ), kawasan TIM merupakan sebuah kebun binatang milik pelukis modern pertama Indonesia, Raden Saleh. Dalam perjalanannya selama setengah abad lebih, Taman Ismail Marzuki mengalami pasang surut sebagai rumah para seniman.

Seturut perjalanan zaman, seni budaya kontemporer maupun tradisional terus berkembang. Gubernur DKI Jakarta Anies Rasyid Baswedan pun melihat, sudah waktunya TIM mempunyai wajah baru.

Pencanangan revitalisasi ini dimulai pada 2018 lalu, tepat saat usia TIM menginjak 50 tahun. Setahun kemudian, karya arsitek Andra Matin yang memenangkan sayembara desain Taman Ismail Marzuki pada 2007, terpilih untuk membangun arsitektur wajah baru TIM oleh PT Jakarta Propertindo.

Pembangunan infrastruktur dan lanskap seluas kurang lebih 28.878 meter persegi, dibagi menjadi tiga fase yang dikerjakan selama hampir tiga tahun, bahkan di tengah pandemi Covid-19. Hingga akhirnya TIM kembali dibuka untuk umum pada 3 Juni 2022 lalu secara bertahap.

Revitalisasi TIM bukan cuma perubahan Taman Ismail Marzuki secara desain dan arsitektur. Namun juga mengembalikan fungsinya sebagai ruang terbuka yang bisa dinikmati oleh publik dan menjadi ikon baru kesenian Jakarta.

“Jadi, wajah TIM hari ini secara fisik tampak sangat berbeda dengan sebelumnya. Dan kita berharap, ini nantinya betul-betul menjadi sebuah ekosistem kesenian yang akan menghasilkan karya-karya seni yang membanggakan, menjadi tempat untuk berinteraksi, saling belajar, saling tukar pengalaman, dan tempat bagi masyarakat untuk bisa ikut merasakan karya-karya seni yang terkurasi dengan amat baik,” kata Anies kepada wartawan di TIM, Senin (26/9).

Taman Ismail Marzuki Dulu dan Sekarang

Tahap akhir pembangunan Gedung Panjang Taman Ismail Marzuki (TIM), Kamis (21/4/2022). Foto: Haya Syahira/kumparan

Totalnya ada tujuh gedung utama di kompleks TIM yang diubah fisiknya, yaitu Gedung Parkir Taman, Gedung Ali Sadikin, Gedung Oesman Effendi, Masjid Amir Hamzah, Teater Tuti Indra Malaon, Graha Bhakti Budaya, serta Gedung Trisno Soemardjo.

Jika dulu TIM hanya memiliki 11 persen ruang terbuka hijau (RTH), setelah revitalisasi TIM memiliki 27 persen RTH.

Posisi RTH ini unik, karena berada di atas Gedung Parkir yang sebelumnya tidak terawat. Kini, Gedung Parkir TIM juga berfungsi sebagai taman tempat rekreasi, sekaligus tempat strategis untuk menikmati pemandangan Gedung Ali Sadikin yang berundak seperti piano.

Arsitektur gedung panjang yang membentang megah di seberang Gedung Parkir ini, membuat seolah Gedung Ali Sadikin bagai rumah panggung tradisional.

Gedungnya yang berundak-undak seperti piano juga memiliki fasad nan unik. Jika dilihat dari jauh, maka fasad gedung ini menunjukkan tangga lagu Rayuan Pulau Kelapa ciptaan Ismail Marzuki.

Tahap akhir pembangunan Gedung Panjang Taman Ismail Marzuki (TIM), Kamis (21/4/2022). Foto: Haya Syahira/kumparan

Di sisi belakang Gedung Ali Sadikin, terdapat Gedung Galeri Oesman Effendi yang terhubung dengan Galeri Emiria Soenassa. Bangunan ini disiapkan sebagai ruang pamer seni rupa dengan tinggi langit-langit mencapai sembilan meter, sehingga memungkinkan berbagai jenis karya seni dipamerkan di gedung ini.

Di seberangnya terdapat Graha Bhakti Budaya (GBB) yang direvitalisasi total, sehingga berstandar internasional untuk pertunjukan seni yang memungkinkan pagelaran musik orkestra.

GBB berkapasitas 954 kursi penonton, dengan ruang pementas yang dapat menampung sekitar 80 orang. Gedung ini juga memiliki ruang khusus VIP.

TIM juga memfasilitasi panggung pertunjukan seni peran, musik, tari, hingga sastra berskala kecil yang terbuka di Teater Tuti Indra Malaon. Letaknya di dekat kolam melingkar yang dapat menampung sampai 80 orang. Ini merupakan fasilitas terbaru yang dibangun di kawasan TIM.

Sejumlah anak bermain di instalasi ondel-ondel yang dipamerkan di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Kamis (23/06/2022). Foto: Akbar Nugroho Gumay/Antara Foto

Di tengah TIM terdapat pula Gedung Trisno Soemardjo. Di sini telah berdiri Planetarium sejak 1969.

Selain Planetarium, gedung seluas 11.940 meter persegi ini memiliki berbagai fasilitas yang menghubungkan berbagai ruangan dengan fungsi berbeda menjadi satu.

Lantai 1 gedung berlantai lima ini terdiri dari Teater Wahyu Sihombing, kantor Akademi Jakarta, pusat UMKM, lobi drop off, lobi Planetarium, ruang kelas Planetarium, dan ruang pameran Planetarium.

Seniman mementaskan lakon "Bebek dan Burung Api" dalam pagelaran perdana di Graha Bhakti Budaya, Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Jumat (23/9/2022). Foto: Indrianto Eko Suwarso/ANTARA FOTO

Lalu di lantai 2 terdapat ruang kantor Planetarium, galeri Planetarium, ruang auditorium Planetarium, ruang Komunitas Astronomi, ruang latihan Teater Teguh Karya, ruang latihan seni tari, ruang latihan sastra dan multimedia S. Rukiah Kertapati, ruang latihan seni rupa, ruang latihan musik Trisutji Kamal, ruang latihan seni tradisi, museum koleksi TIM, serta Teater Bintang.

Sedangkan lantai 3 terdiri dari Galeri Cipta 1, Galeri Cipta 2, Teras Danarto, dan ruang penyimpanan. Sementara lantai 4 ada Kineforum, Teater Asrul Sani, Teater Sjuman Djaya, ruang serbaguna Sjuman Djaya. Terakhir, lantai 5 dikhususkan menjadi ruang terbuka serbaguna.

Gedung Trisno Soemardjo di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta. Foto: Instagram@jakprogroup

Respons Masyarakat terhadap Perubahan TIM

Seorang pengunjung membaca buku di Perpustakaan Jakarta Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Senin (11/7/2022). Foto: Budi Prasetio/ANTARA FOTO

TIM sudah ramai dikunjungi masyarakat bahkan sebelum dibuka untuk umum pada 23 September 2022. Salah satu fasilitas TIM yang menarik perhatian masyarakat umum adalah Perpustakaan Jakarta, yang bersebelahan dengan Pusat Dokumentasi Sastra H. B. Jassin, di lantai 4-7 Gedung Ali Sadikin,

Yohana (23), misalnya, mengaku tertarik berkunjung ke TIM setelah melihat berbagai konten tentang Perpustakaan Jakarta di media sosial. Tadinya, ia juga berencana untuk mengunjungi Planetarium, namun kawasan ini masih dalam tahap revitalisasi.

“Bagus, terasa lebih modern sih, lebih fungsional kali ya. Kalau yang sekarang kayaknya lebih tertata gitu, terus lebih menunjukkan apa ya? Seninya lebih keluar, kalau dulu tuh kayak gedung-gedung biasa saja. Dulu parkiran di luar, sekarang di dalam. Enak aja gitu sekarang main di TIM,” ujar Yohana kepada kumparan di TIM, Senin (26/9).

Ketua Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) Danton Sihombing menyatakan, TIM sama sekali tidak mengerahkan tim promosi. Masyarakat sendirilah yang melakukan promosi untuk TIM.

“Kita berbicara generasi muda mengalami atau mendapatkan pengalaman dan pengetahuan di TIM, Itu sudah terlihat di beberapa kegiatan yang lalu ya. Sebagai contoh, DKJ itu hampir zero promotion ya. Karena mereka sendiri, masyarakat yang viralkan lewat aplikasi TikTok,” ungkap Danton kepada wartawan di TIM, Senin (26/9).

“Artinya apa? Mereka melihat, ada relevansi ruang ini terhadap diri mereka ya. Melihat ada relevansi ruang ini terhadap ekspresi mereka, itu menjadi penting sebagai ruang yang nantinya juga mendekatkan kepada generasi tersebut,” tuturnya.

Danton melihat revitalisasi TIM sebagai sebuah oase baru di tengah kota Jakarta. TIM Menjadi sebuah tempat untuk distraksi dari hiruk pikuk Jakarta, untuk menikmati pengalaman indrawi yang berbeda.

“Bagi penikmat yang datang untuk melihat pertunjukan atau pameran juga merasakan. Saya katakan pengalaman indrawi yang baru dan berbeda, yang memberikan suatu suasana dalam mendukung mereka menikmati karya-karya seni yang ada di sini,” ungkapnya.

Tidak Ada Komersialisasi di TIM

Pengunjung menyaksikan penampilan grup musik membawakan lagu di Atap Gedung Parkir Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Senin (26/9/2022). Foto: M Risyal Hidayat/ANTARA FOTO

Gubernur DKI Jakarta Anies Rasyid Baswedan menegaskan, tidak akan mengkomersialisasikan TIM. Artinya, TIM bukan tempat penyewaan untuk sebuah ajang pertunjukan seni semata.

Danton juga mengatakan, seluruh bentuk pagelaran seni rupa di TIM akan melalui proses kurasi terlebih dahulu.

“Kita memberikan koridor-koridor sesuai dengan apa yang menjadi kesejarahan. Kemudian, posisi TIM sebagai pusat pencapaian seni budaya di Jakarta itu selalu kita ingatkan. Kita ingatkan masuk ke dalam kurasi. Ketika masuk ke pengelolaan, praktik kurasi itu berjalan,” tambahnya.

Menurut Anies, kebijakan kurasi dan non-komersialisasi ini akan membuat pertunjukan yang digelar di TIM menjadi lebih istimewa.

“Dengan begitu, tempat ini terjaga marwahnya. Dan yang tampil juga begitu, untuk yang tampil di TIM harus lolos kurasi. Tidak semata-mata karena berpunya, lalu bisa sewa TIM,” pungkas Anies.