Tentang KamiPedoman Media SiberKetentuan & Kebijakan PrivasiPanduan KomunitasPeringkat PenulisCara Menulis di kumparanInformasi Kerja SamaBantuanIklanKarir
2025 ยฉ PT Dynamo Media Network
Version 1.98.2
Nadiem: Pelajar Indonesia Masih Minim Literasi dan Critical Thinking
3 Desember 2022 11:34 WIB
ยท
waktu baca 2 menit
ADVERTISEMENT
Mendikbudristek, Nadiem Makarim , menghadiri acara HUT PGRI sekaligus perayaan Hari Guru Nasional 2022 di Semarang. Dalam sambutannya, Nadiem mengatakan mewujudkan SDM unggul adalah cita-cita bangsa Indonesia yang sudah lama diimpikan.
ADVERTISEMENT
"Tapi pelajar masih tertinggal dalam literasi dan numerasi, dalam minat membaca dan juga kemampuan menalar kritis," kata Nadiem di Semarang, Sabtu (3/12).
Nadiem menilai, salah satu penyebabnya adalah karena kurikulum yang membatasi guru untuk mengembangkan pelajaran.
"Masa depan negara ada di tangan guru dan tanpa memberikan guru kemerdekaan, anak-anak gak kreatif dan inovatif juga. guru-guru kita yang kreatif dikekang oleh kurikulum yang kaku, dipaksakan implementasinya secara nasional, dan kecepatan," ucapnya.
Lebih lanjut, Nadiem juga menyinggung tentang Kurikulum Merdeka. Dia mengeklaim kurikulum itu telah memberikan keleluasaan bagi guru apakah untuk melanjutkan ke materi berikutnya.
"Kita desain kurikulum oleh guru dan untuk guru. Banyak yang protes kurikulum kebanyakan materi jadi anak harus kejar tayang," jelas Nadiem.
ADVERTISEMENT
Selain itu, Nadiem juga menjelaskan bahwa Kurikulum Merdeka adalah kurikulum yang pertama kalinya di Indonesia yang memberikan hak untuk melanjutkan atau mengulangi materi pelajaran.
"Kalau ada guru yang mau mundur untuk memastikan anak-anak gak ada yang ketinggalan diperbolehkan. dulu tiap minggu jadwal diatur, ini diatur waktu tahunan sehingga guru lebih fleksibel dalam membuat jadwal-jadwal," lanjut Nadiem.
Nadiem menjelaskan, permasalahan lain terkait dengan pelajaran sekolah yang cenderung kurang menyenangkan. Dia menilai Kurikulum Merdeka telah menjawab permasalahan itu.
"Tapi dengan Kurikulum Merdeka, guru diberikan kebebasan untuk menggunakan project base learning. project-project tematik soal green energy, kewirausahaan, kearifan lokal, dan lain-lain. Guru diberikan kemerdekaan di garis depan pendidikan dan kurikulum," tandas dia.