Neraka Abadi di Suriah

Sejak berkobar tahun 2011, perang sipil di Suriah telah memakan 500 ribu korban jiwa. Enam tahun berselang, 2017, mendung masih tetap menggelayuti negeri itu.
Karut-marut itu membuat 11 juta rakyat Suriah pergi mengungsi dari kampung halaman mereka--perpindahan manusia terbesar dalam sejarah setelah Perang Dunia II.
Sementara sebagian penduduk Suriah mengungsi, jutaan lainnya masih berjuang bertahan hidup di bawah desingan peluru dan dentuman meriam.
Banyaknya korban akibat konflik biadab Suriah nyatanya tak membuat peluru berhenti ditembakkan.
Kenapa perang masih berlanjut? Bagaimana asal mula perang saudara di Suriah ini?
Semua berawal dari Arab Spring tahun 2011. Arab Spring ialah gelombang revolusi, unjuk rasa, dan aksi protes di dunia Arab. Saat itu, rakyat negara-negara Arab kompak mengorganisasi demonstrasi massal untuk menggulingkan kekuasaan yang sah.
Demonstrasi besar pecah di Maroko, Tunisia, Mesir, Libya, Yordania, Yaman, Oman, dan Bahrain. Warga menyemut di ibu kota negara-negara itu, menduduki jalanan.
Arab Spring terasa hingga Suriah. Rakyat negeri pimpinan Bashar al-Assad itu juga dilanda ketidakpuasan.

Bashar al-Assad meneruskan kekuasaan ayahnya, Hafez al-Assad, sejak 1971. Pada 1982, ketika Hafez berkuasa, 10-40 ribu penduduk di Kota Hama, bagian barat-tengah Suriah, dibantai aparat --yang juga meratakan kota mereka. Pembantaian dilakukan untuk menggempur pasukan oposisi yang berada di kota itu.
Sejarah kelam tak pernah lepas dari Suriah, dan selalu tertanam di benak rakyatnya.
Maka pada 2011 saat negara-negara Arab mengobarkan semangat perlawanan, keresahan warga Suriah yang terpendam mulai diserukan.
Sekelompok besar masyarakat menyebut bahwa Presiden Suriah Bashar al-Assad otoriter dan layak digulingkan.
Perlawanan paling menonjol ditunjukkan oleh sekelompok remaja berusia 13-16 tahun lewat seni mural tembok. Goresan protes bocah-bocah tersebut mengusik Assad. Akibatnya, salah seorang remaja bernama Hamza al-Khateeb tewas disiksa dalam penjara.
Perlawanan mulai merebak dengan meningkatnya demonstrasi. Rezim Assad terganggu, lantas membalas dengan represi --menyapu roboh para demonstran dengan peluru.

Pada 29 Juli 2011, para demonstran bersama pembelot militer mendirikan Free Syrian Army (FSA). Ini titik awal Suriah menjadi ladang konflik bersenjata antara pemerintah dan pembelot.
Tentara pemerintah dan FSA tak henti saling menyerang. FSA menguasai sisi barat Suriah dan terus berusaha merangsek ke ibu kota Damaskus di utara Suriah.
Menghadapi FSA, tentara pemerintah menyerang balik dengan beringas. Hingga tahun 2012, kedua pihak saling serang dan menduduki wilayah masing-masing.

Tak seperti negara-negara Arab lain yang meski mengalami perang saudara tapi berhasil melewati "badai" dan menyongsong pemerintahan baru, pertempuran di Suriah tak kunjung usai.
Perang berjalan seimbang karena kedua pihak --pemerintah dan oposisi-- sama-sama memiliki kekuatan militer dengan pengaruh internasional di belakang mereka.
Ya, konflik dan perang saudara di Suriah bukan semata persoalan internal. Tangan-tangan asing ikut pula bergerak di dalamnya.
Pihak pemerintah maupun oposisi di Suriah mulai bekerja sama dengan asing pada 2013. Pemerintah Suriah mendapatkan suplai dari sekutu Syiah-nya, Iran, berupa uang dan bantuan teknis militer.
Pasukan oposisi, FSA, mendapat bantuan dari Turki, Yordania, dan Arab Saudi. Alhasil pada akhir 2013, konflik Suriah yang berawal dari perang sipil berubah menjadi arena perebutan pengaruh Sunni dan Syiah di Timur Tengah. Tragis.

Pada 21 Agustus 2013, terbongkar penggunaan senjata kimia oleh militer pemerintah Suriah. Dunia internasional marah. Presiden AS Barack Obama menggertak akan menggunakan sumber dayanya untuk menyerang Suriah. Sementara Rusia membujuk Suriah untuk tidak menggunakan senjata kimia.
Bau intervensi kedua negara --AS dan Rusia-- mulai tercium, siapa berpihak kepada siapa.
Intervensi dua negara yang pernah berseteru di Perang Dingin itu diperparah dengan pihak lain yang masuk ke Suriah dan terlibat konflik di dalamnya mulai Februari 2014. Dia adalah ISIS, organisasi teror yang ditakuti dunia.
ISIS menjalankan operasi militernya secara terbuka di Suriah dan Irak. Ironisnya, ISIS juga merupakan musuh
Lewat CIA, pemerintah AS mulai menjalankan operasi untuk menyokong pasukan oposisi, FSA, pada 2014. Koalisi negara pimpinan AS ikut membantu operasi militer dengan ISIS sebagai target.
Rusia yang juga menganggap ISIS sebagai organisasi teror, turut melakukan operasi militer. Untuk menjalankannya, Rusia meminjam tangan personel militer Assad. Rusia menggelar pelatihan militer untuk tentara Suriah, serta mengirim dana dan senjata.
Namun bantuan AS dan Rusia pada kelompok-kelompok berkonflik di Suriah, justru ikut memperkeruh konflik.
Titik akhir peperangan antarkelompok di Suriah semakin jauh karena kedua pasukan disuplai dukungan dari kekuatan besar.

Ketika tentara Suriah melancarkan agresi ke kota Aleppo pada November 2016, mereka dibantu oleh angkatan udara Rusia.
Pasukan Suriah terus berupaya menekan para pembelot, meski serangan balik pasukan oposisi tak kalah hebat.
Seiring perang yang tak jua menunjukkan tanda hendak usai, Suriah menjadi tanah matinya harapan.
Negeri itu seakan hanya punya masa depan suram. Anak-anak tumbuh dalam temaram perang, sementara kehancuran terus terjadi di depan mata.
Memulai hidup dari awal di Suriah, hampir mustahil. Kemarin, bahkan serangan kimia kembali terjadi.
Suriah yang dulu cantik, kini berubah wajah menjadi Neraka Abadi.

