Ngapak dan Kebiasaan Menertawakan Aksen Orang Lain

kumparanNEWSverified-green

clock
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi wayang orang (Foto: Wikimedia Commons)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi wayang orang (Foto: Wikimedia Commons)

Sebuah bahasa dan cara melafalkannya dapat memberi alasan untuk kita tertawa. Salah satunya adalah sebuah momen lucu dalam kunjungan kerja Presiden Joko Widodo ke daerah. Pada Kamis (15/6) di Kroya, Jawa Tengah, interaksi Presiden Jokowi dengan anak bernama Raza membuat seluruh pengunjung terpingkal-pingkal. Raza mengajari Jokowi berbicara bahasa ngapak.

Bahasa ngapak menjadi wajah bahasa Jawa yang sering jadi bahan candaan. Mereka memiliki pengucapan huruf vokal yang mantap, dan mengucapkan huruf h, d, g, b, c, k, l, w, dengan penuh keyakinan, atau dalam bahasa linguistik adalah fonem vokal dan fonem konsonan.

[Baca juga: Asal-Usul Bahasa Ngapak Banyumasan yang Ceriakan Dunia]

Jika Anda memiliki teman dari daerah Jawa Tengah bagian barat atau karesidenan Banyumas, niscaya logat ngapak tak terhindarkan keluar dari mulut mereka. Kebiasaan ini kadang membuat mereka malu berekspresi. Hanya kepada sesama orang ngapak mereka menuntaskan rindu bicara bahasa ibu tanpa ada stigma dan takut ditertawakan.

Tapi orang ngapak tidak sendirian. Ngapak bukan satu-satunya bahasa yang logatnya memancing tawa. Jika dilihat lainnya, bahasa Jawa umumnya jadi sumber bahan tertawaan hingga dikatai medok. Di Prancis, orang akan mengernyitkan dahi ketika mereka melihat orang-orang Quebec, Kanada, punya gaya bicara seperti bajak laut.

Ada sebuah kebiasaan untuk menertawakan orang lain dengan pengucapan yang dirasa lucu. Kenapa bisa demikian?

Ora Ngapak Ora Kepenak (Foto: Andina Dwi Utari/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Ora Ngapak Ora Kepenak (Foto: Andina Dwi Utari/kumparan)

Aksen masuk dalam tingkah laku, semacam aksi yang pasti mendapat reaksi. Dalam jagad tawa otak manusia, bahasa dan aksen menjadi bagian dalam bahan humor.

Ngapak memang bagian di luar orang Jawa yang berkuasa yang tinggal di Yogyakarta dan Surakarta. Mulai dari Kesultanan Mataram hingga pembagian kekuasaan antara Surakarta dan Yogyakarta, penguasa dikenal dengan penerapan pendisiplinan perilaku rakyatnya. Rakyat diharuskan menggenggam simbol, tata krama, unggah-ungguh agar menurut kepada kerajaan.

Menurut buku Banyumas: Sejarah Budaya dan Watak yang ditulis Budiono Herusatoto, lokasi Karesidenan Banyumas yang jauh dari pusat kekuasaan membuat budaya yang ada di masyarakat Banyumas masih jarang yang terpengaruhi budaya ningrat. Masyarakat penutur ngapak disebut sebagai ‘adoh ratu cedhak watu’ (jauh dari raja dan dekat dengan batu), yang artinya mereka jauh dengan rajanya baik secara geografis maupun interaksi kebudayaan.

Struktur ini berpengaruh pada laku budaya mereka. Ngapak adalah Bahasa Jawa Ngoko Jawadhwipa, sebuah aliran Jawa murni yang berada di strata enam tingkat di bawah Bagongan yang dituturkan oleh kalangan bangsawan.

[Baca Juga: Pelajaran Ngapak untuk Bapak Presiden]

Menertawakan dialek sebenarnya salah satu bentuk stereotip yang berkembang di masyarakat yang merasa dirinya berkuasa. Dalam beberapa kasus, konteks sentimen kolonial dan kelas sosial menjadi aspek penting yang mendorong dialek menjadi bahan tertawaan.

Seperti contoh aksen British dengan aksen New York, serta aksen Prancis dan aksen Quebec. Masing-masing aksen dihubungkan oleh relasi antara penguasa-yang tertindas, negara jajahan, dan pandangan sinis terhadap negara pendudukan.

Namun orang ngapak sendiri tidak takut ditertawai. Orang ngapak begitu berdikari dalam memaknai bahasanya. Salah satu bentuknya adalah ketika diangkat ke panggung pertunjukan. Semua pertunjukan yang menggunakan bahasa ngapak menjadi bahan lawakan.

Berbeda dengan Jawa lainnya yang ketika dibawa ke panggung pertunjukan menjadi pagelaran yang serius, seni yang menggunakan bahasa ngapak selalu berbau komedi. Bahkan, buku The Tradition of Gamelan Music in Java karya Benedict Sutton mengungkap bahwa pagelaran masyarakat Banyumas yang serius akan menggunakan bahasa Jawa kromo, bukan ngapak.