Pasien Corona Sembuh tapi Tercatat Meninggal, Dinkes Bali Klaim Ada Human Error
ยทwaktu baca 3 menit

Seorang pasien corona di Bali, berinisial JG kaget bukan kepalang. Ia tercatat dalam data kasus kematian, padahal saat ini sudah sembuh.
Kasus ini pun diungkap Polresta Denpasar. Kasat Reskrim Polresta Denpasar Kompol Mikael Hutabarat mengatakan, pasien tersebut merupakan salah satu karyawan garmen dan tinggal di mess kantor.
"Ini yang masuk data meninggal tapi fakta tidak meninggal," kata dia kepada wartawan, Senin (6/9).
Mikael mengatakan, JG dinyatakan positif COVID-19 pada 24 Agustus 2021. Ia lalu menjalani isolasi terpusat (isoter) di Hotel Prime Biz Kuta. Pada 3 September, JG telah dinyatakan sembuh dan diizinkan pulang ke rumahnya.
"Sejak tanggal 3 September 2021 yang bersangkutan sudah dinyatakan sehat dan selesai melaksanakan isoter, selanjutnya yang bersangkutan pulang kampung ke Banjar Pangkung Paruk, Kecamatan Seririt, Kabupaten Buleleng, Bali, sampai sekarang," kata dia.
JG istirahat dirumahnya dan berencana kembali bekerja pada Selasa (7/9) besok. Namun, ia mendapat kabar dari kantornya, telah dinyatakan meninggal dunia.
"Yang bersangkutan sampai saat ini masih istirahat di kampung dan akan kembali bekerja hari Selasa tanggal 7 September 2021, dan sehari-hari tinggal di mess karyawan," jelas Mikael.
Polisi Panggil Dinkes Kota Denpasar dan Pihak Rumah Sakit
Polisi pun akhirnya turun tangan menyelidiki kasus ini. Polisi berencana memanggil Dinkes Kota Denpasar dan sejumlah rumah sakit rujukan COVID-19, seperti RSUP Sanglah dan RSUD Wangaya.
Pemanggilan ini untuk mencari titik terang kebenaran kasus ini. Mikael belum mau menduga adanya kelalaian atau human error dalam kasus ini.
"Setelah penyelidikan selesai akan kami info," kata dia.
Dinkes Bali Klaim Pasien Tercatat Meninggal karena Human Error
Kepala Dinkes Bali I Ketut Suarjaya mengatakan, pasien JG yang sudah sembuh namun justru tercatat meninggal disebabkan adanya human error. Menurutnya, petugas input data salah merekap laporan data pasien di website COVID-19.
"Itu memang ada human error ada salah ngeklik. Tidak usah diperpanjang, itu salah klik sehingga harusnya isolasi sudah sembuh malah diklik meninggal," kata Suarjaya.
"Yang salah petugas input data ketika memasukkan data tersebut. Dari dinkes kabupaten, kadang-kadang mungkin karena banyak, itu kan satu klik, itu selesai isolasi, intinya shuttle akhir, mungkin pas kliknya salah," sambung Suarjaya.
Ia menuturkan, biasanya status kasus pasien sembuh dan meninggal dilaporkan dari petugas ke satgas COVID-19. Selanjutnya, Bhabinkamtibmas mengecek alamat pasien untuk memastikan pasien meninggal atau sembuh.
"Setiap rilis yang meninggal, yang kita rilis dari provinsi itu, di lapangan dikonfirmasi lagi oleh Babinsa, Bhabinkamtibmas untuk ngecek kapan sih dia meninggal. Karena kesepakatan dari surat edaran kami merilisnya harus real time, sehingga dari petugas di lapangan juga mengkonfirmasikan apakah benar dia meninggal," jelasnya
"Seperti kemarin apakah benar dia meninggal? Kita kan sudah ada datanya namanya siapa, alamatnya di mana, sehingga di lapangan Bhabinkamtibmas kan mengecek dan cross check di lapangan yang bersangkutan yang dibilang meninggal, sembuh dan sehat ," kata Suarjaya.
Ia memastikan pihak Kemenkes akan ke Bali untuk memperbaiki data. Kedatangan ini sekaligus menyamakan data COVID-19 antara pusat dan daerah.
"Langkah selanjutnya Kemenkes akan datang untuk cross check data karena data pusat dan daerah terjadi sinkronisasi data, agar tidak terjadi perbedaan," jelas dia.
