Pencabutan Lockdown Inggris Resmi Ditunda hingga Sebulan ke Depan

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Suasana London Inggris saat penerapan lockdown kembali. Foto: REUTERS/Hannah McKay
zoom-in-whitePerbesar
Suasana London Inggris saat penerapan lockdown kembali. Foto: REUTERS/Hannah McKay

Akibat merebaknya varian corona India (Delta, B.1617) di Inggris, Perdana Menteri Boris Johnson memutuskan untuk menunda pencabutan lockdown di negaranya hingga sebulan ke depan.

Pada Senin (14/6) waktu setempat, Johnson memperingatkan warganya bahwa jika dia tidak bertindak dan tetap melonggarkan pembatasan kegiatan, ditakutkan akan lebih banyak orang yang meninggal dunia akibat COVID-19.

Sebelumnya, sesuai dengan rencana yang diatur pada Februari lalu, lockdown akan dicabut pada 21 Juni. Nantinya, pub, klub, dan tempat hiburan lainnya akan bisa kembali beroperasi dengan normal.

Perdana Menteri Inggris Boris Johnson dan istrinya, Carrie Symonds. Foto: Henry Nicholls/REUTERS

Setelah penundaan, lockdown akan berakhir pada 19 Juli mendatang.

“Menurut saya, sangat bijaksana bagi kita untuk menunggu sedikit lebih lama lagi,” ujar Johnson, seperti dikutip dari Reuters.

“Melihat bagaimana situasi kini, dan dengan bukti-bukti yang bisa saya lihat sekarang, saya percaya bahwa kita tidak membutuhkan waktu lebih lama dari empat pekan,” lanjutnya.

Petugas medis membawa pasien virus corona dari ambulans menuju rumah sakit S Thomas di London, Inggris. Foto: REUTERS/Hannah McKay

Johnson menjelaskan bahwa waktu lockdown tambahan ini akan dimaksimalkan untuk mempercepat program vaksinasi COVID-19 nasional Inggris, dengan cara memperpendek rentang waktu antara satu dosis dengan dosis selanjutnya bagi warga di atas 40 tahun.

Jadi, dari rentang waktu 12 pekan dari dosis pertama ke dosis kedua, akan dikurangi menjadi 8 pekan saja.

Nantinya, mereka akan kembali meninjau situasi pada 28 Juni mendatang untuk melihat apakah ada kemungkinan untuk bisa mempercepat pencabutan lockdown. tetapi, juru bicara Perdana Menteri menilai hal tersebut tak terlalu memungkinkan.

Penyebaran Virus Corona Varian India

Dalam beberapa pekan terakhir, terjadi peningkatan kasus COVID-19 signifikan yang disebabkan oleh varian corona Delta, yang pertama kali dideteksi di India.

Para ahli memperkirakan, virus ini 60% lebih menular dibandingkan varian yang sebelumnya dominan di Inggris, yakni varian Alpha (B.117). Bahkan, varian ini dikhawatirkan dapat memicu gelombang ketiga pandemi di negara tersebut.

Seorang warga Inggris disuntik vaksin corona di Newcastle upon Tyne, Inggris. Foto: Lee Smith/REUTERS

Pihak oposisi, Partai Buruh, menyalahkan tindakan pemerintahan Johnson yang dianggap terlalu lamban dalam menutup perjalanan internasional untuk pendatang dari India.

Penelitian yang dirilis pada Senin menunjukkan bahwa varian India ini dapat meningkatkan risiko rawat inap di rumah sakit hingga dua kali lipat. Tetapi, dua dosis vaksin COVID-19 tetap dapat memberikan perlindungan yang baik terhadap tubuh.

Tak seperti pada tahun lalu, peningkatan risiko rawat inap ini disebut lebih banyak terjadi pada orang-orang berusia lebih muda.

Sejumlah pengunjung minum di meja luar sebuah pub di Soho, London, Inggris pada 24 September 2020. Foto: Tolga AKMEN / AFP

Per Senin, Inggris melaporkan 7.742 kasus COVID-19 baru dan kematian sebanyak 3 pasien. Kata Johnson, angka ini meningkat hingga 64% per pekannya, dan jumlah pasien yang dirawat inap di ICU semakin meningkat.

“Dengan terus waspada, kita memiliki kesempatan dalam empat pekan ke depan untuk menyelamatkan nyawa ribuan orang dengan melakukan vaksinasi ke jutaan orang,” tegas Johnson.

Dengan penambahan jumlah kasus tersebut, kini total infeksi COVID-19 adalah sebanyak 4,57 juta kasus, dengan kematian mencapai 128.000 jiwa.

kumparan post embed