Penjelasan ASDP Soal Macet Horor di Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Petugas mengatur antrean kendaraan yang akan memasuki kapal di Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, Jawa Timur, Kamis (17/7/2025).  Foto: Budi Candra Setya/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Petugas mengatur antrean kendaraan yang akan memasuki kapal di Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, Jawa Timur, Kamis (17/7/2025). Foto: Budi Candra Setya/ANTARA FOTO

Macet horor terjadi di jalur menuju Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, Jawa Timur, pada Kamis (24/7). Antrean kendaraan mengular 30 kilometer hingga masuk ke jalur Pantura, tepatnya di kawasan Hutan Baluran.

PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) menyebut antrean tersebut didominasi oleh truk logistik yang akan menyeberang ke Bali. Salah satu penyebab utama kemacetan adalah pembatasan operasional kapal yang diberlakukan oleh KSOP Kelas III Tanjung Wangi sebagai bentuk peningkatan aspek keselamatan pelayaran.

“Pembatasan ini merupakan tindak lanjut dari insiden tenggelamnya KMP Tunu Pratama Jaya pada 2 Juli lalu,” ujar Shelvy Arifin, Corporate Secretary ASDP dalam keterangan tertulis.

Ia menjelaskan, edaran KSOP tertanggal 14 Juli 2025 mengatur dua hal penting, yakni pembatasan muatan maksimal hanya 75 persen dari kapasitas kapal, dan larangan kapal eks LCT (Landing Craft Tank) mengangkut penumpang, kecuali sopir dan kernet.

“Aturan ini secara otomatis mengurangi kapasitas angkut dan membatasi jumlah kapal yang bisa beroperasi,” katanya.

ASDP merinci, total ada 26 kapal dioperasikan dalam melayani penyeberangan Ketapang–Gilimanuk, terdiri dari 19 kapal di Dermaga MB, 6 kapal di Dermaga LCM, dan 1 kapal bantuan, KMP Liputan XII.

Namun, Dermaga LCM yang melayani kendaraan berat yang tonase muatannya di atas 35 ton seperti truk dan tronton, hanya memiliki 6 kapal aktif. Padahal, jenis kendaraan inilah yang mendominasi antrean panjang tersebut.

Sejumlah kendaraan terjebak kemacetan di jalur Pantura Watudodol, Banyuwangi, Jawa Timur, Kamis (24/7/2025). Foto: Budi Candra Setya/ANTARA FOTO

Meski demikian, ASDP memastikan proses bongkar muat tetap berjalan lancar.

“Cuaca cerah dengan jarak pandang hingga 10 kilometer turut mendukung kelancaran operasional di pelabuhan,” ujar Shelvy.

Selain pembatasan dari regulator, peningkatan arus kendaraan menuju Lombok melalui layanan Long Distance Ferry (LDF) juga memperbesar volume kendaraan logistik.

Sebagai langkah tanggap darurat, ASDP telah mengoperasikan KMP Portlink VII dengan pola Tiba–Bongkar–Berangkat (TBB), mengoptimalkan kantong parkir dalam pelabuhan, serta menyediakan kantong parkir tambahan di Bulusan yang mampu menampung hingga 600 kendaraan.

ASDP juga menegaskan seluruh kendaraan yang diberangkatkan telah melalui proses penimbangan dan pengaturan muatan secara ketat untuk menjamin keselamatan pelayaran.

“Kami mohon maaf atas ketidaknyamanan yang terjadi. ASDP terus berkoordinasi intensif dengan KSOP, Ditjen Hubla, kepolisian, dan seluruh pihak terkait untuk mempercepat normalisasi layanan,” kata Shelvy.

Di akhir penjelasan, ASDP mengimbau seluruh pengguna jasa agar mewaspadai potensi cuaca ekstrem dan mengikuti arahan petugas di lapangan demi keselamatan bersama.