kumparan
29 November 2019 7:01

PGRI Usul Materi Khilafah di Buku Agama Islam Diganti Cinta NKRI

Menteri Agama Fachrul Razi, POTRAIT
Menteri Agama Fachrul Razi di acara Konsolidasi perencanaan pencapaian dan misi Presiden serta sasaran dan target indikator bidang PMK dalam RPJM 2020-2024. Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan
Menteri Agama (Menag), Fachrul Razi, menghapus materi khilafah dalam kurikulum pendidikan di buku agama Islam yang diajarkan ke siswa pada 2020.
ADVERTISEMENT
Langkah yang diambil Fachrul itu mendapat respons positif dari Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI).
Menurut PGRI, materi khilafah bisa diganti dengan materi-materi yang mendukung sikap cinta NKRI, Pancasila, hingga toleransi beragama.
"Tepat dalam hal untuk menggantikannya dengan konten-konten yang lebih mendorong pada moderasi beragama, cinta NKRI, Pancasila, hingga bela negara," jelas Wasekjen PB PGRI, Jejen Musfah, kepada kumparan, Jumat (29/11).
Jejen Musfah, POTRAIT
Jejen Musfah. Foto: Dok. UIN Jakarta
Menurut Jejen, pemahaman khilafah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara tak tepat diajarkan kepada siswa. Ia mendorong agar nilai-nilai Islam yang diajarkan ke siswa diimplementasikan untuk sistem demokrasi yang baik.
"Sebagian guru menganggap khilafah sebagai solusi mengatasi masalah bangsa ini tidak tepat diajarkan ke siswa. Padahal selama ini, sistem demokrasi tak masalah, yang utama nilai-nilai Islam ada dan terwujud dalam sistem (demokrasi) ini," terangnya.
ADVERTISEMENT
"Yang penting bukan soal pilihan khilafah atau demokrasi, tapi bagaimana Muslim mengisi demokrasi dengan nilai-nilai Islam," imbuh dosen UIN Syarif Hidayatullah itu.
Ilustrasi Mengaji di Masjid
Ilustrasi belajar agama Islam. Foto: Kementerian Pariwisata
Untuk itu, Jejen meminta agar ajaran agama dipandang sebagai cara untuk mencapai kedamaian dan toleransi. Bukan untuk menebar kebencian terhadap sesama manusia.
"Agama harus hadir penuh cinta, kedamaian, toleran, sesuai dengan nilai kitab suci dan mencontoh nabi," pungkasnya.
Garuda Pancasila
Ilustrasi Pancasila Foto: Antara/Muhammad Iqbal
Sebelumnya Fachrul mengatakan, muatan sejarah khilafah di buku agama Islam perlu dihilangkan. Sebab, dikhawatirkan para siswa dapat mengimplementasikan ajaran khilafah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
"Kalau kita lihat muatan sejarah khilafah sebenarnya enteng-enteng. Tapi begitu ditampilkan pengajarnya ikut menganukan (mengimplementasikan -Red). Jadi tadinya maksud memahami sekadarnya, tapi ternyata menjadi mempublikasikan," kata Fachrul Razi dalam rapat dengan Komisi VIII DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (28/11).
ADVERTISEMENT
"Khilafah menurut saya dihilangkanlah. Karena memang niatnya baik, tapi karena pengajarnya mungkin memihak kepada itu. Jadi akhirnya mengkapitalisasi," imbuh dia.
LIPSUS WAKIL PANGLIMA, Menag RI Fachrul Razi di Aceh
Menteri Agama RI Fachrul Razi saat hadiri pertemuan silaturahmi dengan Aparatur Sipil Negara (ASN) Kementerian Agama dan Ulama Aceh, Aceh, Minggu (17/11). Foto: Zuhri Noviandi/kumparan
Selain itu, menurut Fachrul, perubahan kurikulum dalam buku agama Islam dilakukan agar menyesuaikan perkembangan sains dan teknologi. Selain itu, agar lebih kontekstual berbasis revolusi mental.
Ia menjelaskan, sub pelajaran yang dibenahi terkait soal akidah, akhlak, dan pelajaran tentang Al-Quran dan hadis, termasuk soal fikih dan sejarah.
"Masalah fikih, masalah sejarah kebudayaan Islam, kemudian bahasa Arab. Kebetulan yang membenahi bukan saya. Memang ahli-ahlinya yang melihat ada hal yang masih perlu dibenahi di bidang itu," ungkapnya.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan