Pimpinan PDIP Bertemu Presiden Timor Leste, Bahas Rencana Kunjungan Megawati

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri menerima kunjungan Presiden Republik Demokratik Timor Leste Jose Ramos-Horta di kediamannya di Jalan Teuku Umar, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (23/3/2026).
 Foto: Dok. PDIP
zoom-in-whitePerbesar
Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri menerima kunjungan Presiden Republik Demokratik Timor Leste Jose Ramos-Horta di kediamannya di Jalan Teuku Umar, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (23/3/2026). Foto: Dok. PDIP

Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto bertemu Presiden Timor Leste Jose Ramos Horta di Istana Presiden Nicolau Lobato, Dili, Rabu (3/6). Pertemuan tersebut membahas persiapan kunjungan Presiden ke-5 RI sekaligus Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri ke Timor Leste pada Juli 2026 mendatang.

Kedatangan Hasto dan delegasi PDIP ke Dili merupakan bagian dari agenda koordinasi menjelang kunjungan Megawati yang akan memenuhi undangan Presiden Ramos Horta. Dalam kunjungan tersebut, Megawati direncanakan menerima anugerah penghargaan “Grand Collar Order of Timor Leste”, penghargaan tertinggi dari Pemerintah Timor Leste.

Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto bersama sejumlah delegasi partai tiba di Dili, Timor Leste, pada Rabu (3/6/2026). Foto: Dok. PDIP

Presiden Ramos Horta menerima Hasto meski baru kembali dari perjalanan luar negeri. Menurut Hasto, pertemuan berlangsung hangat dan penuh semangat persahabatan.

“Kami berbincang hangat dengan Presiden Ramos Horta. Beliau menitipkan salam hangat kepada Ibu Megawati dan menantikan kedatangan Ibu Megawati di Dili. Presiden menginstruksikan timnya yang juga ikut dalam pertemuan untuk membantu agar lawatan Ibu Megawati berjalan dengan lancar dan sukses,” ujar Hasto.

“Kami juga membahas bagaimana menguatkan hubungan kedua negara yang bertetangga,” lanjutnya.

Dalam dialog tersebut, Hasto juga menegaskan pentingnya kerja sama antar partai politik, khususnya terkait pelembagaan partai dan upaya menjaga demokrasi. Ia menyebut Ramos Horta menyoroti kesamaan antara konsep Marhaen yang dikenal dalam tradisi politik Indonesia dengan istilah Maubere di Timor Leste.

“Presiden Ramos Horta menyampaikan bahwa ada kesamaan antara Marhaen dan Maubere. Maubere adalah istilah dalam bahasa Tetum yang merujuk pada rakyat jelata, kaum petani, atau penduduk asli Timor-Leste,” kata Hasto.

Selain itu, Ramos Horta menekankan pentingnya pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia melalui reformasi pendidikan nasional. Presiden Timor Leste juga menjelaskan mengenai Human Capital Development Fund yang dibentuk pada 2011 untuk mendukung pelatihan dan beasiswa bagi masyarakat.

Usai pertemuan, Hasto menyerahkan cenderamata berupa kain batik kepada Ramos Horta.

Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto berdialog bersama pimpinan Partai Fretilin, termasuk Sekretaris Jenderal Mari Alkatiri, di Kantor Fretilin, Dili, Kamis (4/6/2026). Foto: Dok. PDIP

Sehari setelah bertemu Presiden Timor Leste, Hasto melanjutkan agenda dengan berdialog bersama pimpinan Partai Fretilin, termasuk Sekretaris Jenderal Mari Alkatiri, di Kantor Fretilin, Dili, Kamis (4/6).

Pertemuan itu menjadi ajang pertukaran pandangan mengenai demokrasi, konsolidasi negara, hubungan Indonesia-Timor Leste, hingga tantangan menjaga ideologi dan warisan para pendiri bangsa.

Dalam kesempatan itu, Hasto menegaskan PDIP dan Fretilin memiliki kesamaan nilai dan platform politik.

“PDI Perjuangan dan Fretilin memiliki platform inklusif yang sama. Kami digerakkan oleh nilai-nilai kesetaraan, demokrasi, kemanusiaan, dan keadilan sosial. Semua perbedaan disatukan oleh falsafah Pancasila,” ujar Hasto.

Hasto juga menyinggung pandangan Bung Karno mengenai tantangan konsolidasi negara dalam proses pembangunan bangsa. Menurutnya, pandangan tersebut masih relevan dan memiliki kesamaan dengan pengalaman yang dihadapi berbagai negara berkembang, termasuk Timor Leste.

Menanggapi hal tersebut, Alkatiri menyampaikan bahwa demokrasi multipartai yang berkembang terlalu dini juga berpotensi menimbulkan kesulitan dalam konsolidasi internal suatu negara.

Alkatiri turut mengenang pengaruh Bung Karno dalam perjalanan hidupnya.

“Saya sejak kecil mengenal Bung Karno. Saat muda saya mengikuti pidato-pidato Bung Karno melalui radio. Pidato Bung Karno menjadi inspirasi yang menggelorakan semangat saya saat muda,” ujar Alkatiri.

Ketua DPP PDIP Bidang Organisasi Andreas H. Pareira menilai Indonesia dan Timor Leste memiliki hubungan yang sangat erat, baik dari sisi sejarah, budaya, maupun masa depan kawasan.

“Apa yang terjadi di Timor Leste akan memiliki pengaruh terhadap Indonesia. Sebaliknya, apa yang terjadi di Indonesia juga akan mempengaruhi Timor Leste. Sebagai saudara, sudah selayaknya perbatasan negara tidak dibuat untuk memisahkan, melainkan justru menyatukan,” kata Andreas.

Sementara itu, Kepala Badan Riset dan Analisis Kebijakan PDIP Andi Widjajanto menilai hubungan Indonesia dan Timor Leste saat ini menjadi contoh bagaimana dua bangsa yang pernah mengalami konflik dapat bertransformasi menjadi sahabat dan mitra yang baik.

“Indonesia justru serius membantu Timor Leste membangun kemandirian ekonomi. Salah satu contohnya, Bank Mandiri tercatat sebagai salah satu bank terbesar di Timor Leste,” katanya.

Pertemuan berlangsung dalam suasana hangat dan penuh semangat persaudaraan. Kedua pihak sepakat bahwa hubungan Indonesia dan Timor Leste yang semakin erat perlu terus diperkuat melalui kerja sama politik, ekonomi, pendidikan, serta pertukaran gagasan antargenerasi demi kemajuan kawasan dan kesejahteraan kedua bangsa.

Hasto didampingi Ketua DPP PDIP Bidang Organisasi Andreas H. Pareira, Kepala Badan Riset dan Analisis Kebijakan PDIP Andi Widjajanto, serta Direktur Luar Negeri PDIP Hanjaya Setiawan dalam rangkaian agenda di Dili tersebut.