Polisi Tuding Kelompok Anarko yang Picu Kericuhan Demo di Bandung

kumparanNEWSverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kabid Humas Polda Jabar Kombes Trunoyudo Wisnu Andiko. Foto: Rachmadi Rasyad/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Kabid Humas Polda Jabar Kombes Trunoyudo Wisnu Andiko. Foto: Rachmadi Rasyad/kumparan

Aksi unjuk rasa mahasiswa di kantor DPRD Jabar, Senin (24/9) malam berakhir ricuh. Kabid Humas Polda Jabar Kombes Pol Trunoyudo Wisnu Andiko menyebut ada kelompok yang memprovokasi massa sehingga terjadi bentrokan dengan polisi.

"Kita sudah evaluasi dan dari penyelidikan di TKP, ciri-ciri dari kelompok provokatif yang kita indikasi melakukan provokasi kepada saudara-saudara kita, mahasiswa yang ikut dalam kegiatan mengemukakan pendapat," jelas Truno di Polda Jabar, Selasa (24/9).

Truno menyebut, dari penyelidikan di lokasi, ditemukan tindak perusakan, vandalisme, hingga pelemparan batu oleh oknum massa aksi. Dari hasil tersebut, ia menduga, ada indikasi keterlibatan kelompok anarko dalam insiden ini.

embed from external kumparan

"Di TKP ada perusakan, batu, vandalisme, kemudian provokasi, dan lebih cenderung untuk membenturkan kedua belah pihak, ini adalah ciri kelompok anarko," tambah Truno.

Ia menuturkan, kericuhan serupa juga pernah terjadi saat May Day di Bandung beberapa waktu lalu. Saat itu, polisi sudah mengamankan beberapa anggota kelompok anarko yang terlibat dan akan melakukan pendalaman.

"Yang memang pernah terjadi pada kegiatan May Day yang secara spontan itu adalah kelompok anarko. Maka Polda Jabar akan melakukan proses penyelidikan lebih dalam, kemudian tidak menutup kemungkinan akan melakukan penyidikan," pungkasnya.

Aksi mahasiswa Bandung dari berbagai almamater itu awalnya berlangsung damai. Namun, selepas Maghrib, situasi memanas hingga berujung ricuh.

embed from external kumparan

Sebanyak 92 mahasiswa terluka, mulai dari sesak napas akibat gas air mata hingga patah tulang. Seluruh mahasiswa yang terluka sempat dibawa ke kampus Universitas Islam Bandung (Unisba) untuk mendapat penanganan.

Rektor Unisba Edi Setiadi tidak keberatan kampusnya dijadikan tempat penampungan mahasiswa yang menjadi korban kericuhan. Kampus, kata dia, punya kewajiban untuk melindungi mahasiswa.

"Karena bukan saja bicara kemanusiaan, tapi kewajiban kita itu dalam tanda kutip melindungi komunitasnya, yakni mahasiswa. Saya kira pemerintah tidak keberatan dengan apa yang kami lakukan," ungkap Edi kepada wartawan di kampus Unisba, Kota Bandung, Senin (23/9).

Tak hanya itu, Edi mengaku akan memberikan bantuan advokasi jika ada mahasiswanya yang dianggap sebagai provokator. Dia mengatakan Unisba memiliki banyak advokat yang dapat diperbantukan.