Polisi Ungkap Peran Pembunuh Aktivis dan Eks Caleg Nasdem di Sumut

8 November 2019 19:20
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
ADVERTISEMENT
Polda Sumatera Utara menujukkan lima tersangka pembunuh aktivis dan mantan Caleg Nasdem saat konferensi pers di Mapolda Sumut. Foto: Rahmat Utomo/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Polda Sumatera Utara menujukkan lima tersangka pembunuh aktivis dan mantan Caleg Nasdem saat konferensi pers di Mapolda Sumut. Foto: Rahmat Utomo/kumparan
Kematian mengenaskan aktivis Martauh P. Siregar alias Sanjay (48) dan mantan caleg NasDem Maraden Sianipar (55) di Labuhanbatu, Sumut, akhirnya terungkap. Keduanya dibunuh oleh delapan orang. Lima dari delapan orang itu telah ditangkap. Tiga orang lainnya masih diburu.
ADVERTISEMENT
Mereka yang ditangkap adalah security PT KSU Amalia, Victor Situmorang (55); Sabar Hutapea (55); Daniel Sianturi; humas PT KSU Amalia, Jamti Hutahean (40) dan pemilik PT KSU Amalia, Harry Padmoasmolo (40). Tiga pembunuh yang masih buron adalah Joshua Situmorang, Rikky dan Hendrik Simorangkir.
Direktur Reserse Kriminal Umum (Dirreskrimum) Polda Sumut Kombes Pol Andi Rian mengatakan ke delapan tersangka memiliki tugas masing masing. Delapan orang itu menghabisi nyawa Sanjay dan Maraden dengan cara sadis di sebuah lahan yang diklaim milik PT KSU Amalia di Labuhanbatu, Sumatera Utara.
Andi mengatakan dalam perkara ini, tersangka Jamti Hutahean yang menjadi otak pembunuhan. Jamti tugasnya adalah merekrut 7 pelaku lain. Dia memberikan duit kepada 7 pelaku lain untuk membunuh Sanjay dan Maraden jika kedua aktivis itu sedang advokasi di kebun dan lahan PT KSU Amalia.
ADVERTISEMENT
Jamti diperintahkan, Harry, pemilik PT KSU Amalia untuk menghabisi nyawa Sanjay dan Maraden.
"Kalau Sianipar (korban) ada di sana (kebun dan lahan), usir. Dan kalau melawan, habisi (bunuh), akan diberi upah kalau sudah menghabisi," ujar Andi menirukan perintah Harry kepada Jamti di kantornya, Jumat (8/11).
Andi mengatakan pada Selasa (29/10), Sanjay dan Maraden datang ke kebun sawit PT KSU Amalia. Di sana, mereka berdua terlibat cekcok dengan Rikky, Joshua Situmorang, Daniel Sianturi, Sabar Hutapea, dan Hendrik Simorangkir.
Polda Sumatera Utara menujukkan lima tersangka pembunuh aktivis dan mantan Caleg Nasdem saat konferensi pers di Mapolda Sumut. Foto: Rahmat Utomo/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Polda Sumatera Utara menujukkan lima tersangka pembunuh aktivis dan mantan Caleg Nasdem saat konferensi pers di Mapolda Sumut. Foto: Rahmat Utomo/kumparan
Cekcok itu berujung maut. Sanjay dan Maraden dianiaya dan tubuhnya dipenuhi luka tusukan. Keduanya seketika tewas di tempat. Lima orang pelaku, kemudian membuang jasad Sanjay dan Maraden di sekitar perkebunan.
Setelah menghabisi nyawa Sanjay dan Maraden, salah satu pelaku lapor ke Jamti. Jamti kemudian menerima kiriman duit dari Wati, salah satu bendahara di PT KSU Amalia.
ADVERTISEMENT
"Jamti menerima uang sebesar Rp 40 juta dan membagikannya kepada Joshua sebesar Rp 7 juta, Daniel Sianturi alias Niel sebesar Rp 17 juta, Hendrik Simorangkir sebesar Rp 9 juta dan dia sendiri mendapat Rp 7 juta," ujar Andi.
Dari keterangan Jamti, Joshua yang menikam bagian perut Sanjay sebanyak satu kali lalu. Joshua kemudian membuang mayat ke dua korban ke dalam parit.
Rikky berperan menusuk perut Maredan sebanyak empat kali dengan parang. Dia kemudian membacok punggung dan menusuk bokong Maraden. Selain itu Rikky juga menusuk perut Sanjay sebanyak empat kali dan membacok bagian punggung Sanjay.
Sementara itu Hendrik Simorangkir (38) yang berprofesi sebagai security PT Amelia juga membacok bagian tubuh kedua korban hingga tewas.
ADVERTISEMENT
Untuk tersangka Victor Situmorang berperan memukul Maraden dengan menggunakan kayu bulat sepanjang satu meter. "Sedangkan tersangka Sabar Hutapea, selain memukul Maraden dengan kayu, juga bertugas mempersiapkan klewang dan parang," ungkap Andi.
Andi menjelaskan motif pembunuhan berawal dari persoalan konflik lahan perkebunan sawit. Pada tahun 2005 PT KSU Amalia memiliki lahan di Desa Wonosari itu.
Mereka kemudian menanami sawit di lahan seluas 720 hektare tersebut. Lahan itu ternyata masuk lahan hutan milik pemerintah.
Tetapi karena sudah terlanjur ditanami sawit, PT KSU Amelia merasa masih berhak memiliki lahan itu. "Kemudian ada kelompok masyarakat yang dikoordinir oleh korban untuk melakukan penanaman dan pemanenan. Karena merasa terganggu, inilah yang mengawali terjadinya pembunuhan," ujar Andi.
ADVERTISEMENT
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020