Polling kumparan: Polri Paling Sering Dilihat Gunakan 'Tot Tot Wuk Wuk' di Jalan
·waktu baca 3 menit

Sebanyak 45,42 persen atau 763 pembaca kumparan paling sering lihat pejabat polri yang gunakan 'tot tot wuk wuk' di jalan. Angka ini merupakan hasil polling kumparan yang dilakukan pada 22-29 September 2025.
Total ada 1.680 pembaca yang menjawab polling ini. Sedangkan, sebanyak 17,14 persen atau 288 pembaca paling sering lihat warga biasa 'sok jago', 16,79 persen atau 282 pembaca paling sering lihat pejabat TNI, dan 9,17 persen atau 154 pembaca paling sering lihat menteri-wakil menteri yang gunakan 'tot tot wuk wuk' di jalan.
Kemudian, sebanyak 4,05 persen atau 68 pembaca paling sering lihat anggota DPR/DPR/MPR, 2,5 persen atau 42 pembaca paling sering llihat pejabat pemerintah lainnya, 2,26 persen atau 38 pembaca paling sering lihat pengusaha, 1,61 persen atau 27 pembaca paling sering lihat kepala daerah, serta 1,07 persen atau 18 pembaca paling sering lihat pemimpin ormas yang gunakan 'tot tot wuk wuk' di jalan.
Sebelumnya, penggunaan sirene dan strobo di jalan raya oleh berbagai pihak mulai dari pejabat hingga warga biasa masih menjadi polemik. Hal ini membuat gerakan 'Stop Tot Tot Wuk Wuk di Jalan' muncul dan ramai di media sosial.
Gerakan tersebut muncul sebagai bentuk protes agar pejabat maupun pengguna jalan tidak lagi menyalakan sirene, strobo, dan rotator secara ilegal.
"Hidupmu dari pajak kami. STOP strobo dan sirene," begitu antara lain meme/stiker yang dibagikan di publik dan media sosial.
Fenomena kendaraan menggunakan sirene dan strobo ini masih mudah ditemui di jalan-jalan besar di Jakarta. Hal ini dirasakan oleh seorang warga Vedro (25), karyawan swasta yang mengaku sering menjumpai kendaraan dengan strobo di jam-jam sibuk.
“Sering banget apalagi di jalan-jalan gede kayak Sudirman-Gatsu, pas pagi sama sore ke malam. Nah, kadang kalau lagi jalan pulang ngeliat ada yang pake patwal atau strobo sebel juga, pikiran saya sih masa orang mau pulang pakai dikawal-kawal gitu,” kata Vedro kepada kumparan saat ditemui di Jalan Gatot Subroto arah Slipi, Jumat (19/9).
Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi pun merespons gerakan ini. Prasetyo meminta penggunaan strobo dan sirene tidak boleh semena-mena. Ia mengatakan, semua pihak harus mengikuti ketertiban pengguna jalan.
“Kalau pun kemudian fasilitas itu dipergunakan, tentunya kita harus memperhatikan kepatutan, kemudian memperhatikan ketertiban masyarakat pengguna jalan yang lain. Sehingga bukan berarti menggunakan fasilitas tersebut, semena-mena atau semau-maunya itu,” kata Prasetyo kepada wartawan di Istana Negara, Jakarta, Jumat (19/9).
Kakorlantas Polri Irjen Pol Agus Suryonugroho juga menegaskan pihaknya melakukan evaluasi terkait penggunaan sirine dan strobo. Ia juga menyampaikan untuk sementara, Korlantas menghentikan penggunaan suara sirene, seperti yang dikeluhkan masyarakat.
“Semua masukan masyarakat itu hal positif untuk kita dan ini saya evaluasi. Bahkan saya Kakorlantas saya bekukan untuk pengawalan menggunakan suara-suara itu karena ini juga masyarakat terganggu, apalagi padat,” ujar Agus di Mabes Polri, Jakarta, Jumat (19/9).
Penulis: Muhammad Falah Nafis
