Prabowo Dinilai Tepat Beli Rafale dan Scorpene: Sesuai Anggaran dan Tantangan

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Menhan Prabowo Subianto, menerima kunjungan kehormatan Menhan Prancis, Florence Parly di Jakarta, Kamis (10/2).  Foto: Biro Humas Setjen Kemhan
zoom-in-whitePerbesar
Menhan Prabowo Subianto, menerima kunjungan kehormatan Menhan Prancis, Florence Parly di Jakarta, Kamis (10/2). Foto: Biro Humas Setjen Kemhan

Pemerintah Indonesia terus membenahi dan meningkatkan sistem pertahanannya. Teranyar sebanyak 42 unit pesawat Dassault Rafale dan dua unit Kapal Selam Scorpene berhasil diakuisisi pemerintah Indonesia dari Prancis.

Keputusan pembelian Rafale dan Scorpene itu pun direspons positif Pengamat Militer Institute for Security and Strategic Studies (ISESS) Khairul Fahmi. Ia menilai keputusan untuk membeli keduanya sangat tepat dilakukan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto.

"Pembelian Rafale dan Scorpene ini saya kira tepat. Terutama dengan keterbatasan anggaran dan ragam tantangan yang kita hadapi," ujar Fahmi saat dihubungi kumparan, Jumat (11/2).

"Tentu saja penting untuk bisa mendapatkan alutsista dengan spesifikasi tinggi dan dapat digunakan untuk berbagai misi (multi-mission) untuk melengkapi dan memperkuat pertahanan kita dan efektivitasnya," tambah dia.

Jet tempur Rafale Angkatan Udara India. Foto: Jewel SAMAD/AFP

Rafale memang menjadi salah satu incaran Prabowo saat mencari pesawat tempur untuk memperkuat TNI, selain SU-35 atau F-35. Melihat potensi ketegangan di kawasan, keputusan ini dinilai tepat, termasuk pembelian kapal selam.

"Mengingat banyaknya tantangan dalam menegakkan kedaulatan dan menjaga keamanan perairan, juga penting bagi kita untuk memprioritaskan tambahan alutsista laut yang memiliki efek deteren paling tinggi yaitu kapal selam. Dalam hal ini Scorpene sangat layak kita miliki," ucap Fahmi.

"Perang, bagaimanapun harus selalu diposisikan mungkin hadir dan terjadi. Karena itu, pembangunan kekuatan dan kemampuan pertahanan merupakan salah satu cara untuk memperkecil ancaman terjadinya perang," sambungnya.

Fahmi mengatakan, pembelian Rafale terbilang berbeda dengan target utama Prabowo, yakni memboyong SU-35 dan F-35 ke Indonesia. Tapi, dengan kondisi anggaran, Rafale dinilai cukup pas.

Kapal Selam Scorpene. Foto: Jaggat Rashidi/Shutterstock

"Punya SU-35 itu cita-cita kita. Tapi, sikon membuat sulit terealisasi. Keduanya sebenarnya sama-sama generasi 4.5 dan punya keunggulan masing-masing," tutur dia.

"Misalnya, Rafale punya daya jelajah lebih jauh, bahan bakar lebih irit dan bisa mengudara dan mendarat dari landas pacu yang lebih pendek. Sementara SU-35 unggul pada sistem avionik, tenaga mesin, ketinggian terbang, dan kecepatan," imbuh dia.

Fahmi mengatakan, keuntungan lain, dalam perjanjian yang dibuat dalam pembelian Rafale dan Scorpene, dimasukkan juga soal perbaikan hingga transfer teknologi.

kumparan post embed

"Apalagi kerja sama ini juga dibarengi dengan banyak rencana kerja sama lain yang terkait dengan transfer teknologi, kolaborasi riset maupun pengembangan alutsista dan pembangunan fasilitas MRO [maintenance, repair, dan overhaul] yang kalau ini terwujud tentu akan meningkatkan efisiensi dan menjadi nilai tambah yang signifikan," kata Fahmi.

"Nah ke depan harus dipastikan bahwa MRO ini benar-benar terwujud sehingga kita bisa menjalankan kegiatan pemeliharaan dan perbaikan sepenuhnya di dalam negeri untuk Rafale dan pesawat-pesawat lainnya yang sudah dan akan dibeli dari Prancis," tutupnya.