Profil Jenderal Soleimani: Pengancam Trump, Otak Proksi Iran

kumparanNEWSverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Jenderal Iran Qassem Soleimani. Foto: STR / AFP
zoom-in-whitePerbesar
Jenderal Iran Qassem Soleimani. Foto: STR / AFP

Pembunuhan Mayor Jenderal Qassem Soleimani oleh Amerika Serikat memupuk dendam Iran. Sebab, Soleimani adalah sosok yang sangat dihargai dan dihormati oleh seluruh warga di Negeri Para Mullah itu.

Semasa hidup, pria berusia 62 tahun ini merupakan sosok sentral yang memimpin perang proksi Iran di Timur Tengah. Tidak cuma melatih para milisi Syiah, Soleimani juga negosiator ulung yang kerap berdiskusi dengan pemimpin politik di wilayah tersebut.

Nama, Soleimani muncul ke permukaan pada akhir 1980-an. Sebagai lulusan sekolah menengah, Soleimani sudah diberi kepercayaan memimpin salah satu unit perang Iran melawan Irak.

Jenderal Iran Qassem Soleimani. Foto: STR / AFP

Usai Perang Teluk usai, karier militer Soleimani melesat. Pada 1998, Soleimani dipercaya menjadi kepala Pasukan Quds yang merupakan salah satu unit pada Garda Revolusi Iran. Jabatan ini dipegangnya hingga akhir hayat.

Memimpin Pasukan Quds, Soleimani bertugas membentuk aliansi Iran di Timur Tengah. Tugasnya dilakukan di tengah sanksi dan tekanan AS.

Kendati mendapat tekanan, lewat tangan dingin Soleimani, Pasukan Quds berhasil membantu Presiden Suriah Bashar Al-Assad yang hampir kalah perang.

Jenderal Iran Qassem Soleimani. Foto: AP Photo/Ebrahim Noroozi

Selain membantu rezim Assad, Pasukan Quds yang dipimpin Soleimani juga membantu upaya pembasmian ISIS di Irak.

Ia pun juga otak dari aktivitas intelijen serta operasi militer Iran di luar negeri selain di Suriah.

Pada 2019, tekanan pekerjaan Soleimani semakin besar. AS memasukkan Garda Revolusi Iran ke dalam daftar hitam organisasi teroris.

Jenderal Iran Qassem Soleimani. Foto: MEHDI GHASEMI / ISNA / AFP

Langkah tersebut dilakukan AS sebagai bentuk tekanan maksimal terhadap Iran terkait negosiasi program misil balistik dan kebijakan nuklir. Bukannya melemah, Soleimani malah membalas tekanan AS dengan pernyataan tegas.

"Segala bentuk negosiasi dengan AS adalah bentuk penyerahan diri total," kata Soleimani dikutip dari Reuters.

Bukan pertama kali, Soleimani mengancam AS dan Trump. Pada 2018, secara langsung ia mengatakan bahwa Trump terus dipantaunya.

"Saya beri tahu kamu Bapak Trump sang penjudi, kami ada di dekatmu, di tempat yang kau pikir kami tak akan ada," ucap Soleimani.

Jenderal Iran Qassem Soleimani. Foto: Office of the Iranian Supreme Leader via AP

"Kamu yang mulai perang, tapi kami yang akan mengakhirinya," sambung dia.

Sikap keras Soleimani, serta sederet aksinya dalam menyebar pengaruh Iran di Timur Tengah membuat AS dan sekutunya panas. Ia jadi musuh nomor wahid AS, Israel, dan Arab Saudi.

Kematian Soleimani dan Kemarahan Khamenei

Jenderal Iran Qassem Soleimani. Foto: Office of the Iranian Supreme Leader via AP

Soleimani tewas dalam serangan udara AS di dekat bandara Baghdad, Irak, pada Jumat (3/1). Kematian Soleimani adalah salah satu babak dari ketegangan AS dan Iran dalam sepekan terakhir.

Terbunuhnya Soleimani membuat Iran naik pitam. Khamenei bahkan menganggap Soleimani salah satu sosok penting militer Iran.

Pada 2019 lalu, Khamenei memberikan Order of Zolfiqar kepada Soleimani. Order of Zolfiqar adalah penghargaan tertinggi dalam dunia militer Iran.

Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Foto: REUTERS/Morteza Nikoubazl

Pemberian penghargaan tersebut sangat istimewa. Sebab, sejak 1979 penghargaan tersebut tidak pernah diberikan lagi.

Dalam pernyataan seusai mendengar kabar kematian Soleimani, Khamenei memberlakukan tiga hari masa berkabung nasional. Ia juga mengancam menuntut balas bagi pihak-pihak yang bertanggung jawab atas kematian Soleimani.

"Kemartirannya adalah hadiah atas upaya tanpa hentinya selama bertahun-tahun," ucap Khamenei.

"Dengan berpulangnya dia, Insyaallah, pekerjaan yang ditinggalkannya tak akan berhenti, kami akan balas dendam dengan keji kepada penjahat yang membuat tangannya bersimbah darah darinya (Soleimani) dan martir-martir lainnya," tegas dia.