Puan Minta Perlintasan Sebidang Jalur KA Dibenahi Usai Kecelakaan KRL di Bekasi

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pidato Ketua DPR RI dalam rangka Penyampaian Laporan Kinerja DPR RI Tahun Sidang 2024-2025. Foto: Youtube/DPR RI
zoom-in-whitePerbesar
Pidato Ketua DPR RI dalam rangka Penyampaian Laporan Kinerja DPR RI Tahun Sidang 2024-2025. Foto: Youtube/DPR RI

Ketua DPR RI, Puan Maharani, menyampaikan belasungkawa kepada korban insiden kecelakaan kereta api dengan KRL di Stasiun Bekasi Timur. Ia pun mengingatkan agar unsur keselamatan di jalur kereta harus ditingkatkan.

“Atas nama pribadi maupun atas nama DPR RI, saya sampaikan dukacita mendalam untuk para korban dalam kecelakaan kereta api yang terjadi semalam di wilayah Bekasi,” kata Puan, Selasa (28/4).

Seperti diketahui, insiden tersebut terjadi pada Senin (27/4) malam. Bermula saat taksi listrik yang mogok di tengah rel kereta api tertemper KRL di daerah Bulak Kapal. Kondisi itu menyebabkan perjalanan KRL dari Jakarta menuju Cikarang terganggu.

Tak berselang jauh, KA Argo Bromo Anggrek yang melaju dari arah belakang menabrak KRL yang tengah berhenti. Saking kerasnya benturan, lokomotif KA menembus gerbong wanita yang ada di bagian paling belakang KRL.

Petugas mengevakuasi gerbong KRL Commuterline usai bertabrakan dengan KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir-Surabaya Pasar Turi di Stasiun Bekasi Timur, Bekasi, Jawa Barat, Selasa (28/4/2026). Foto: Galih Pradipta/ANTARA FOTO

“Kita minta Pemerintah, KAI, bersama stakeholder terkait untuk lebih memprioritaskan persoalan keselamatan di jalur kereta api. Sistem dan keamanan pada jalur kereta api harus diperbaiki,” tegasnya.

“Terutama pada perlintasan sebidang yang masih banyak kita temukan di sepanjang perlintasan kereta. Karena keamanannya sangat kurang, kecelakaan kereta seringkali terjadi dan ini harus disikapi dengan serius,” imbuh Puan.

Menurut dia, kecelakaan yang terjadi ini perlu disikapi secara serius. Utamanya soal mengembalikan kepercayaan publik kepada moda transportasi umum.

“Dalam sistem mobilitas perkotaan seperti Jabodetabek, KAI Commuter Line atau KRL bukan sekadar moda angkut massal, melainkan infrastruktur sosial yang menopang ritme kerja, pendidikan, dan aktivitas ekonomi masyarakat setiap hari,” jelasnya.

“Karena itu, setiap insiden besar tidak hanya berdampak pada korban langsung, tetapi juga berpotensi memengaruhi persepsi masyarakat terhadap rasa aman menggunakan transportasi kereta,” tambah Puan.

Puan menilai kecelakaan KRL dan Argo Bromo Anggrek menunjukkan semakin kompleksnya operasional jalur padat metropolitan, dengan frekuensi tinggi dan ruang toleransi gangguan yang sempit.

Dalam kondisi ini, keselamatan tidak cukup hanya mengandalkan prosedur harian, tetapi harus melalui standar pengamanan yang mampu meyakinkan publik bahwa risiko telah diantisipasi.

Petugas mengevakuasi gerbong KRL Commuterline usai bertabrakan dengan KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir-Surabaya Pasar Turi di Stasiun Bekasi Timur, Bekasi, Jawa Barat, Selasa (28/4/2026). Foto: Galih Pradipta/ANTARA FOTO

Ia menegaskan pentingnya pembelajaran pascakejadian agar KRL tetap menjadi moda transportasi paling terpercaya dari sisi keselamatan. Masyarakat tidak boleh dibuat ragu atau jera menggunakan kereta akibat insiden tersebut.

Karena itu, Puan meminta operator dan pemerintah memperbarui standar keselamatan secara nyata dan terukur, serta memastikan investigasi menghasilkan perbaikan struktural.

“Dan hasil terpenting dari evaluasi ini adalah memastikan masyarakat melihat bahwa menggunakan KRL tetap merupakan pilihan transportasi yang aman, rasional, dan didukung oleh sistem keselamatan yang terus diperkuat,” tutup Puan.