QnA: Semua yang Perlu Kamu Tahu soal Gagal Ginjal Misterius, 99 Anak Meninggal

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 5 menit

comment
4
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi Gangguan Ginjal pada Anak.
 Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Gangguan Ginjal pada Anak. Foto: Shutterstock

Gagal ginjal misterius atau nama resminya acute kidney injury (AKI) sudah merenggut 99 nyawa anak Indonesia. Kemenkes hingga BPOM sedang bahu-membahu untuk menekan angka kasus.

Penyakit ini tentu bikin banyak orang tua panik. Apalagi dikaitkan dengan obat sirop yang sehari-hari dipakai mengobati anak yang demam atau batuk pilek.

Lantas, apa saja yang sudah diketahui terkait gagal ginjal misterius pada anak sejauh ini?

Berikut kumparan rangkum untuk pembaca:

Bagaimana awal mula kasus ini terkuak?

Kasus ini ini terkuak setelah ada lonjakan kasus gangguan ginjal pada anak dua bulan terakhir. Namun, penyebabnya belum diketahui sehingga disebut misterius.

"Masih misterius, ya. Memang sampai saat ini kami masih dalam proses investigasi apa yang menjadi penyebab dari gangguan ginjal akut, yang kasusnya tiba-tiba melonjak di dua bulan terakhir," ungkap Dokter Spesialis Anak Konsultan Nefrologi, dr. Henny Adriani Puspitasari Sp.A (K).

Hal ini diungkapkan dalam podcast Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDA) dengan topik 'Gangguan Ginjal Misterius pada Anak' pada 11 Oktober 2022.

Peningkatan kasus di Indonesia juga seiring merebaknya kasus serupa di Gambia, negara di Afrika Barat. Obat sirop anak buatan India menjadi pemicunya sehingga akhirnya disetop produksinya.

Sejauh ini, seperti apa perkembangan kasusnya?

Cukup mengkhawatirkan. Kemenkes menyebut kasus serupa sebagai gagal ginjal. Penyebabnya masih misterius.

Di awal, mereka menyebut 131 anak di sejumlah provinsi telah mengidap penyakit ini. Lalu kemarin, Rabu (19/10), jubir Kemenkes Mohammad Syahril mengumumkan kasus meningkat cepat sampai 206 anak.

Bahkan kematiannya mencapai 99 orang. Artinya nyaris 50 persen dari total kasus.

Apa yang menyebabkan angka kematian ginjal misterius ini sangat tinggi?

Mohammad Syahril menjelaskan, ginjal sebagai pusat metabolisme memegang peranan penting dalam tubuh manusia. Sehingga kerusakan pada ginjal dapat memberikan efek langsung pada alur metabolisme tubuh.

“Ginjal ini sebagai pusat metabolisme, organ yang sangat penting,” ujar Syahril pada Rabu (19/10).

“(Jika ginjal rusak) Maka ini akan mengganggu metabolisme dan gangguan metabolisme ini akan menyebabkan organ lain terganggu juga,” lanjut eks Dirut RSPI Sulianti Saroso ini.

Gangguan pada ginjal, menurut Syahril, masih dapat diobati. Namun, jika kerusakan yang ada pada ginjal telah parah dan menyebabkan gagal ginjal, maka organ tubuh ini tidak bisa lagi melakukan tugas sebagaimana mestinya, berujung hemodialisa atau cuci darah.

“Nah, untuk itu (ginjal) kita boleh sampai ke terganggu, tapi jangan sampai gagal. Gagal ginjal itu artinya apa? Ginjal itu tidak bisa lagi melakukan aktivitasnya sebagai alat metabolisme tubuh,” jelas Syahril.

Infografik Gejala Gangguan Ginjal Misterius Foto: kumparan

Sudah ketahuan apa penyebab penyakit ini?

Masih ada banyak kemungkinan. Dinkes Jakarta menyebut sejumlah faktor risiko yang bisa menyebabkan penyakit ini.

  • Laptospirosis

  • Influenzae

  • Parainfluenzae

  • Virus CMV

  • Virus HSV

  • Bocavirus

  • Legionella

  • Shigella

  • e-Coli

  • MiSC (Long COVID)

Apa saja gejala anak pengidap gangguan ginjal misterius?

Gejala awal: demam, diare, batuk, dan muntah

Gejala lanjutan: jumlah Urine dan BAK berkurang, badan membengkak, penurunan kesadaran, dan sesak napas.

Lalu, apa langkah pemerintah untuk mengantisipasi ini?

Kemenkes telah melarang sementara pemberian obat sirop pada anak baik dari nakes di fasyankes dan apoteker. Sebab, ada dugaan keterkaitan antara obat sirop dengan kematian anak.

Di sejumlah obat sirop dikhawatirkan ada senyawa yang bertransformasi menjadi berbahaya: Etilen Glikol (EG) dan Dietilen Glikol (DEG).

Apa itu Etilen dan Dietilen Glikol?

Dikutip dari laman Centers for Disease Control and Prevention (CDC) AS, etilen glikol adalah bahan tidak berbau dan tidak berwarna yang digunakan untuk bahan industri seperti anti beku, rem hidrolik, tinta stempel, pelarut, cat, hingga kosmetik.

Di laman CDC tersebut dijelaskan, meski punya rasa yang manis, etilen glikol tidak seharusnya ditelan. Ketika masuk ke tubuh, etilen glikol terurai menjadi senyawa racun dan menyerang sistem syaraf pusat, jantung, dan akhirnya ginjal.

Sementara dietilen glikol, seperti namanya, adalah dua senyawa etilen disambung menjadi satu senyawa dengan satu atom oksigen di tengah-tengahnya. Dietilen punya deskripsi yang sama dengan etilen glikol dan juga sering digunakan sebagai pelarut.

CDC menjelaskan, ketika tertelan atau masuk ke tubuh, etilen glikol akan berubah menjadi senyawa beracun. Tahap 1, yang menyerang neurologis, berlangsung dari 30 menit hingga 12 jam setelah masuk.

Tahap 2 adalah kardiopulmoner yang berlangsung 12 hinga 24 setelah masuk. Tahap 3 adalah tahap ginjal yang terjadi pada 24 hingga 72 jam setelah senyawa masuk tubuh.

Ilustrasi Ginjal. Foto: Shutterstock

Wah, kalau begitu, apakah pemerintah Indonesia sudah merilis daftar obat saja yang mengandung 2 senyawa itu?

Kemenkes bersama BPOM sedang mengidentifikasi lagi obat mana saja yang bisa menyebabkan kelainan ginjal tersebut.

"Jadi bukan parasetamol yang tidak boleh, yang tidak boleh adalah karena beberapa obat tersebut mengandung Etilen Glikol (EG)," tutur Wamenkes Dante Saksono.

Berapa banyak merek obat sirop yang sedang dalam investigasi?

"Sedang diidentifikasi 15 dari 18 obat yang diuji mengandung (etilen glikol)," kata Dante.

embed from external kumparan

Dari belasan obat sirop untuk anak itu, semuanya mengandung EG dan selama ini dijual bebas di pasaran.

Sayangnya, Dante tidak merinci merek obat sirop yang dimaksud. kumparan juga sudah menanyakan hal ini kepada BPOM, tetapi belum ada jawaban.

Sempat beredar daftar nama 15 obat sirop anak yang dilabeli mengandung kedua senyawa itu. Namun Kemenkes menegaskan daftar tersebut bukan dari mereka.

Kalau obat sirop sudah ditarik, bagaimana kalau anak demam atau batuk?

Dengan tidak direkomendasikan pemberian obat sirop kepada anak, IDAI menyarankan untuk beralih kepada obat dalam bentuk puyer ketika anak demam ataupun batuk.