Ramai Baliho Puan hingga Airlangga, Elite Politik Dinilai Tak Peka Rakyat Susah

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

Baliho Puan Maharani 'Kepak Sayap Kebhinekaan' di sejumlah titik di DIY, Jumat (6/8). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Baliho Puan Maharani 'Kepak Sayap Kebhinekaan' di sejumlah titik di DIY, Jumat (6/8). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

Pemasangan baliho hingga billboard sejumlah elite politik sebagai persiapan Pemilu 2024 mulai menghiasi sejumlah ruas jalan di daerah. Tokoh politik yang mulai memasang baliho yakni, Puan Maharani, Airlangga Hartarto, dan Muhaimin Iskandar (Cak Imin).

Pengamat politik dari Universitas Al Azhar Indonesia (UAI), Ujang Komarudin, mengatakan pemasangan baliho dan billboard elite politik merupakan bagian dari sosialisasi untuk meningkatkan popularitas dan elektabilitas.

"Kita tahu ketum-ketum partai tersebut berkeinginan maju sebagai capres atau cawapres di Pilpres 2024 nanti. Jadi mereka sudah bergerak pasang baliho. Fenomena memperkenalkan diri sejak dini ke publik. Harapannya publik semakin familier dengan ketum-ketum partai tersebut," kata Ujang, Sabtu (7/8).

embed from external kumparan

Ujang mengatakan, sebenarnya pemasangan baliho tidak dilarang tetapi waktu pemasangan tidak tepat karena masyarakat sedang kesulitan menghadapi pandemi corona. Karena itu, kata dia, pemasangan baliho justru menjadi olok-olok masyarakat karena dinilai tak sensitif.

"Jika pemasangannya tak pas waktunya, tak tepat timingnya, karena masyarakat sedang sudah, karena COVID-19, maka pemasangan baliho dan lain-lain itu hanya akan mendapat nyinyiran publik, hanya akan mendapat olok-olok rakyat. Karena dianggap tak sensitif atas penderitaan rakyat," kata dia.

Karena itu, ia berpandangan sebaiknya pemasangan baliho itu lebih baik dihentikan sementara waktu. Menurutnya, lebih baik dana pemasangan baliho dialokasikan untuk membantu penanganan corona.

Baliho Ketum Golkar Airlangga di Kota Bandung. Foto: Rachmadi Rasyad/kumparan

"Mestinya sosialisasi baliho tersebut direm dulu. Disetop dulu. Rakyat sedang sulit, banyak yang enggak bisa makan dan rakyat juga tak butuh baliho. Artinya dana-dana seperti untuk pasang baliho lebih baik digunakan dulu tuk membantu masyarakat yang terdampak COVID-19. Bantu rakyat dulu, baru sosialisasi. Rakyat mesti diprioritaskan dibandingkan dengan pemasangan baliho," ucapnya.

Lebih lanjut, ia mengatakan sejumlah elite politik mulai berkampanye karena elektabilitas mereka yang masih rendah. Dengan pemasangan baliho diharapkan dapat mendongkrak popularitas.

"Nah soal kenapa mereka curi kampanye start, karena elektabilitas mereka masih rendah dan belum kelihatan. Makanya di gas pol melalui baliho. Namun karena pemasangannya dilakukan di saat rakyat sedang susah karena COVID-19, akhirnya strategi sosialisasi via baliho dan lain-lain tersebut menjadi nyanyian sumbang" tandas Ujang.