Sejarah Pasar Tanah Abang, Pusat Tekstil Terbesar di Asia Tenggara

kumparanNEWSverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
 Suasana di Pasar Tanah Abang. Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Suasana di Pasar Tanah Abang. Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan

Jelang lebaran, masyarakat Jakarta berbondong-bondong mendatangi Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat, untuk berbelanja. Sudah menjadi semacam tradisi menyiapkan baju baru untuk dipakai saat perayaan Idul Fitri.

Tanah Abang, merupakan salah satu pasar pilihan untuk berbelanja keperluan lebaran karena harganya yang lumayan terjangkau ketimbang berbelanja di mal.

Disebut sebagai pasar tekstil terbesar di Asia Tenggara, geliat perdagangan di Pasar Tanah Abang sudah terjadi sejak ratusan tahun yang lalu.

Sejumlah warga memadati Blok B Pusat Grosir Pasar Tanah Abang untuk berbelanja pakaian di Jakarta Pusat, Minggu (2/5). Foto: Aditya Pradana Putra/Antara Foto

Sejarah Pasar Tanah Abang bermula di tahun 1733, saat seorang pejabat VOC (gabungan perusahaan-perusahaan dagang Belanda untuk perdagangan di Hindia Timur) bernama Justinus Vinck, mendirikan sebuah pasar di wilayah bernama Weltevreden (saat ini bernama Pasar Senen).

Alasannya karena Vinck melihat adanya perkembangan pembangunan permukiman di daerah selatan Batavia (kini bernama Jakarta). Ada juga pembukaan sejumlah kebun, seperti kebun pala, kebun cengkeh, dan kebun melati di sekitar kawasan Tanah Abang, namun tak ada pasar di sekitar kawasan tersebut.

Sehingga pada tahun 1735, ia meminta izin pendirian pasar dari Gubernur Jenderal Abraham Patras.

Dikuti PD Pasar Jaya dalam Pasar Tanah Abang 250 Tahun, saat itu Gubernyr Patras memberikan izin hari buka pasar. "Pasar diselenggarakan hari Senin untuk Pasar Weltevreden, hari Sabtu untuk pasar yang akan dibangun di Bukit Tanah Abang". Khusus untuk pasar di Bukit Tanah Abang, menjual barang kelontong, dan tekstil.

Tionghoa di Pasar Tanah Abang

Warga beraktivitas di depan pintu masuk Pasar Tanah Abang yang tutup di Jakarta Foto: ANTARA FOTO/Aprillio Akbar

Sejak awal, banyak pedagang Tionghoa di Pasar Tanah Abang. Mereka juga bertempat tinggal di sekitar pasar. Namun, VOC tak menyukai mereka.

Pasukan mereka kerap berusaha mengusir pedagang Tionghoa dari pasar menggunakan meriam. Bukan tanpa alasan hal itu dilakukan, karena orang Tionghoa saat itu pernah melakukan penyerangan terhadap pos jaga VOC di pasar tersebut.

Penyerangan ini memang menyebabkan orang-orang Tionghoa melarikan diri dari pasar, namun hal itu berdampak buruk bagi pasar. Tembakan meriam merusak sebagian besar pasar yang baru dibangun lima tahun.

Beberapa tahun berselang, hubungan orang Tionghoa dan VOC mulai membaik. Bahkan orang Tionghoa diberi kepercayaan untuk memungut cukai pasar. Mereka juga diberi izin untuk mengelola rumah madat (candu) di sekitar pasar. Pasar sendiri tak hanya buka di hari Sabtu, namun juga di hari Rabu.

Suasana di sekitar Sky Bridge Pasar Tanah Abang Jakarta Pusat. Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

Meski begitu, Pasar Tanah Abang belum memiliki bangunan permanen, sehingga keramaian pasar tak berbanding lurus dengan fasilitas pasar serta lingkungannya. Banyak sampah yang menumpuk, begitu juga dengan pengemis yang lalu lalang di sana.

Tahun 1913, perbaikan bangunan Pasar Tanah Abang mulai dilakukan, meski belum berdampak signifikan. Melihat hal tersebut, di tahun 1926 pemerintah Belanda melakukan renovasi besar-besaran. Bangunan diganti dengan yang permanen, bertujuan untuk memudahkan aktivitas perdagangan di sana.

Pasar Tanah Abang kembali menggeliat. Namun, kondisi itu bertahan hingga awal tahun 1940-an. Kedatangan Jepang ke Indonesia mengubah banyak hal dari Pasar Tanah Abang.

Pasar yang terkenal dengan jual beli tekstil tersebut tiba-tiba kosong melompong. Aktivitas perdagangan terhenti. Banyak pedagang yang menutup kios mereka yang akhirnya menjadi tempat tinggal pengemis dan gelandangan.

embed from external kumparan

Pasar Tanah Abang Usai Kemerdekaan

Pedagang melayani calon pembeli dagangan pakaian batiknya di Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat, Kamis (3/10/2019). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

Usai kemerdekaan, Pasar Tanah Abang diambil alih pemerintah Indonesia. Di bawah pengelolaan PD Pasar Jaya, tahun 1973 Pasar Tanah Abang kembali dirombak. Pasar tersebut dibangun menjadi 3 lantai.

Namun kembali ada kendala. Bangunan baru, menyebabkan harga kios semakin mahal. Banyak pedagang yang tak sanggup menyewa, sehingga mereka memilih untuk berjualan di luar pasar.

Pemerintah berupaya menertibkan mereka, namun pedagang ini mendapatkan perlindungan dari preman, jawara, atau centeng yang berkuasa di Tanah Abang.

Para pedagang lebih memilih membayar uang keamanan pada mereka ketimbang menyewa kios dengan tarif mahal. Bahkan sempat dikenal jagoan tersohor di Pasar Tanah Abang era 1970-an bernama Haji Bidun.

embed from external kumparan

Pasar Tanah Abang di Masa Orde Baru

Sejumlah warga memadati Blok B Pusat Grosir Pasar Tanah Abang untuk berbelanja pakaian di Jakarta Pusat, Minggu (2/5). Foto: Aditya Pradana Putra/Antara Foto

Julukan pasar tekstil terbesar se-Asia Tenggara patut disematkan ke Pasar Tanah Abang karena perputaran uang yang amat besar di pasar tersebut. Dalam sehari bisa mencapai Rp 8 hingga 10 miliar. Saat itu, preman pasar dari berbagai etnis mulai berebut kendali atas pasar.

Puncaknya di tahun 1996, saat terjadi bentrokan antarpreman di Pasar Tanah Abang yang memakan korban jiwa. Hal tersebut sempat membuat aktivitas ekonomi di pasar itu terhenti selama beberapa saat.

embed from external kumparan

Kebakaran Pasar Tanah Abang

Sejumlah kambing berada di sisa-sisa kebakaran Pasar Lontar atau Pasar Kambing di Jalan Sabeni, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Sabtu (10/4/2021). Foto: Sigid Kurniawan/ANTARA FOTO

Kebakaran hebat di tahun 2003 sempat membuat aktivitas di Pasar Tanah Abang terhenti. Sambil menunggu renovasi bangunan, pedagang menggelar jualan mereka di luar pasar.

Kebakaran hebat lainnya juga terjadi pada tahun 2019. Api melalap 66 bangunan yang terdiri dari 34 rumah dan 32 kios toko, serta menewaskan 2 orang.

Tahun 2021 Pasar Kambing di Tanah Abang juga hangus dilalap api. Kebakaran yang terjadi selama lebih kurang 3 jam tersebut menghanguskan 174 lapak pedagang, dan menyebabkan kerugian hingga miliaran rupiah.

Hingga kini, Pasar Tanah Abang masih menjadi pusat perdagangan di Ibu Kota, meski telah melalui jatuh bangun selama ratusan tahun.