Selamat Jalan, Danarto

kumparanNEWSverified-green

clock
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
video youtube embed

Banyak ilmu yang belum kita ketahui, yang membuat kita harus belajar, belajar, belajar--yang sebenarnya tidak terkejar umur. Sekarang umur saya 77 tahun. Jangan-jangan besok saya sudah tidak ada. Misalnya 10 tahun lagi, berarti sampai 87 tahun, apa kuat saya sampai ke sana.

Danarto berucap itu sambil tersenyum tipis. Dia sedang menakar kekuatan fisiknya, yang tak separipurna kekuatan jiwanya.

Saat itu, 6 November 2017, Danarto bertandang ke kantor kumparan (kumparan.com). Ia berbincang tenang ke sana ke mari, merentang kisah hidupnya dalam beberapa jam singkat untuk kami.

Kini, kami tak akan menjumpai lelaki berwajah ramah itu lagi. Dia telah kembali ke pangkuan Tuhan, yang teramat ia cintai.

Selasa malam, 10 April 2018, Danarto mengembuskan napas penghabisannya setelah terluka parah di bagian kepala usai tertabrak motor di Ciputat, Tangerang Selatan.

“Rasanya seperti ada yang bolong. Itu perasaan semua orang yang mengenalnya. Kesantaian dia menghadapi hidup amat mengesankan,” ujar seseorang yang mengenalnya.

“Santai” memang kata yang tepat. Kata lain yang mungkin menggambarkan sosok Danarto adalah “kalem” dan “ikhlas”.

Harus pasrah. Seperti dikatakan dalam Al-Quran, ‘Kamu akan Saya uji terus-menerus. Tak bisa kamu bilang kamu beriman sebelum Saya uji.’

video youtube embed

Sebagai seorang sastrawan--yang kerap disebut pelopor realisme magis di Indonesia--dan pelukis, hidup Danarto tak bisa dikatakan enak. Sebaliknya, pahit betul.

Ia tak menutup-nutupinya, pula tak menganggapnya perlu disesali. “Sebenarnya buku-buku saya tidak begitu laku,” kata dia, enteng saja.

Tapi paling tidak, sejumlah buku Danarto kini diterbitkan ulang sehingga royalti dari penjualan buku-buku itu bisa sedikit menopang hidup, juga untuk membeli sejumlah buku baru sebagai asupan “gizi” wajib baginya.

Malam itu misalnya, sepulang dari kumparan, Danarto mengajak rekan kami, Wandha, untuk mampir ke toko buku sebelum mobil mengarah ke rumahnya di Ciputat. Ia membeli tiga buku sekaligus.

Saya masih belanja-belanja buku sampai sekarang, meskipun daya baca merosot sekali. Saya membaca lima buku sekaligus, untuk mengejar umur.

Lagi-lagi, ia menakar waktunya di dunia. Wajar, mengingat ia memiliki catatan medis kurang baik selama satu dekade terakhir.

Saya ini sudah tua. Tenaga sudah berkurang, pikiran sudah berkurang. Bagaimana harus tetap survive, itu yang saya pikirkan setiap hari.

Danarto kini tak perlu repot-repot memikirkan semua itu. Tuhan telah memanggilnya kembali, merangkul dia selamanya.

Maka, kami yang berbagi kisah Danarto pada pertengahan November 2017 dengan judul pembuka Apa Kabar Danarto?, kini menutupnya dengan untaian doa.

Selamat jalan, Danarto.

Danarto, sastrawan Indonesia (Foto: Jacinta Nungky/kumparan)