Serba-serbi Kapolri Bentuk Tim Transformasi Reformasi Polri
·waktu baca 5 menit

Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo membentuk tim Transformasi Reformasi Polri melalui Surat Perintah bernomor Sprin/2749/IX/TUK.2.1/2025.
Surat itu ditandatangani Sigit pada hari yang sama dengan pelantikan eks Wakapolri Ahmad Dofiri oleh Prabowo sebagai Penasihat Khusus Presiden untuk bidang Kamtibmas dan Reformasi Kepolisian, yakni pada 17 September 2025. Pembentukan tim oleh Sigit ini juga bertepatan dengan rencana Presiden Prabowo membentuk Komite Reformasi Polri.
“Kapolri Jenderal Pol. Listyo Sigit Prabowo telah memerintahkan kepada staf dan jajarannya sebagai langkah responsibilitas dan akuntabilitas,” kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Divisi Humas Polri Brigjen Pol. Trunoyudo Wisnu Andiko dalam keterangannya, Senin (22/9).
Trunoyudo menjelaskan, surat perintah ini merupakan tindak lanjut Polri dalam mengelola transformasi institusi dengan bekerja sama dengan pemerintah dan stakeholders terkait.
“Transformasi institusi guna mencapai proses dan tujuan akselerasi transformasi Polri sesuai dengan harapan masyarakat,” ujarnya.
Dalam tim reformasi ini, terdapat 52 perwira tinggi dan menengah. Sigit Prabowo bertindak sebagai pelindung dan Wakapolri Komjen Dedi Prasetyo jadi penasihat.
Sedangkan Kalemdiklat Polri Komjen Chryshnanda Dwilaksana ditunjuk sebagai ketua tim.
Profil Komjen Chryshnanda
Chryshnanda merupakan lulusan Akpol pada 1989. Ia berpengalaman di bidang lalu lintas atau lantas.
Selain sejumlah jabatan di bidang Lantas, Chryshnanda juga pernah menduduki jabatan Kasespim Lemdiklat Polri, Kaprodi S3 Ditprog Pascasarjana STIK Lemdiklat Polri, dan Kasespim Lemdiklat Polri.
Pria kelahiran Magelang, 3 Desember 1967, itu dikenal sebagai polisi intelektual ini juga merupakan Guru Besar PTIK STIK Lemdiklat Polri.
Sebagai perwira yang memiliki latar akademik kuat di ilmu kepolisian, Chryshnanda sering berbicara tentang transformasi institusi Polri agar lebih profesional, bermoral, cerdas, dan modern.
Penjelasan Kapolri
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo memberi penjelasan soal kahadiran Tim Transformasi Reformasi Polri. Ia bilang ini merupakan tim internal yang akan mengevaluasi program-program Polri.
“Kita selalu membuka ruang untuk melakukan perbaikan. Oleh karena itu dengan adanya harapan dibentuknya Komisi Reformasi Kepolisian, tentunya Polri juga mempersiapkan tim internal dalam untuk kemudian melakukan evaluasi terhadap seluruh program yang sudah kita laksanakan,” ucap Sigit di STIK, Jakarta Selatan pada Senin (22/9).
“Sehingga kemudian pada saatnya nanti masukan-masukan, perbaikan yang diberikan kepada kita, segera bisa kita tindak lanjuti,” tambahnya.
Sigit menyebut, tim ini nantinya akan mendengarkan masukan dari berbagai pihak untuk perbaikan Polri ke depan.
“Tentunya kami juga tetap mendengarkan semua masukan, apakah itu dari tim komite atau komisi, apakah itu dari masyarakat, dari pakar, dan seluruh masyarakat yang tentunya selama ini bersentuhan atau berada dalam lingkup yang Polri memiliki tugas untuk memberikan layanannya, baik di dalam bidang harkamtibmas maupun dalam bidang penegakan hukum,” ucap Sigit.
“Jadi semua tentunya terus akan kita kaji, sehingga apa yang menjadi harapan masyarakat terkait dengan Polri ke depan, betul-betul bisa kita tindak lanjuti, saya kira itu,” tambahnya.
Sigit menyebut, tim itu akan membenahi semua masalah yang jadi keluhan masyarakat.
“Ya tentunya (yang harus dibenahi adalah) semua masukan dari masyarakat, dari komite, baik dari sisi kultural, instrumental, mungkin kebudayaan, semuanya terkait dengan hal-hal yang harus kita lakukan perbaikan,” ucap Sigit
“Baik dari sisi yang selalu disoroti oleh masyarakat, apa yang selalu dikeluhkan oleh masyarakat tentunya itu menjadi bagian-bagian penting yang juga harus segera kita lakukan perbaikan,” tambahnya.
Sudirman Said dan Anggota DPR Beri Pendapat
Komisi III DPR sebagai mitra kerja Polri memandang pembentukan tim tersebut adalah langkah untuk Polri berbenah.
“Kita mengapresiasi Kapolri yang membentuk tim reformasi, artinya kita berbaik sangka bahwa institusi Polri mau berbenah. Sehingga kita berharap Reformasi ini benar-benar dapat membawa institusi Polri ke step yang berikutnya,” ujar Anggota Komisi III DPR, Soedeson Tandra, di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin (22/9).
Meski disebut hanya untuk internal, Tandra mendesak agar tim reformasi Polri itu tetap transparan. Mulai dari transparan akan kebijakan, tindakan maupun soal anggaran.
Ia memastikan, Komisi III sebagai mitra kerja Polri akan terus melakukan fungsi pengawasan.
“Apakah internal atau eksternal bagi saya tidak penting. Yang penting transparansi, yang kami minta transparansi,” ujarnya.
Inisiator Forum Warga Negara, Sudirman Said, menyebut ada sejumlah prasyarat penting agar reformasi Polri dapat berjalan dan dipercaya publik.
Pertama, Komite Reformasi Polri — yang akan dibentuk Presiden Prabowo — harus beranggotakan tokoh-tokoh yang memahami persoalan mendasar sekaligus memiliki legitimasi di mata masyarakat.
Kedua, proses reformasi harus dijalankan secara terbuka dengan melibatkan konsultasi publik yang luas. “Tanpa partisipasi masyarakat, agenda reformasi hanya akan dipandang sebagai proyek elitis,” kata Sudirman.
Ketiga, menurut dia, reformasi tidak bisa dilepaskan dari penyegaran kepemimpinan di tubuh Polri. Sudirman bahkan menilai Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo sebaiknya mengundurkan diri, karena terlalu banyak noda yang melekat selama masa kepemimpinannya.
“Ini Kapolri paling lama setelah reformasi, sudah hampir 5 tahun menjabat dengan banyak sekali catatan,” kata Sudirman.
Selain itu, Rektor Universitas Harkat Negeri ini, menekankan perlunya figur pemimpin yang mampu melakukan perubahan fundamental. Menurut Sudirman, ada dua tipe pemimpin yang bisa mendorong transformasi besar: outsider atau figur dari luar institusi yang bebas dari keterikatan masa lalu, serta extraordinary insider, yaitu orang dalam yang tetap bersih dari praktik buruk dan memiliki jejaring serta dukungan kuat.
“Pengalaman empiris dan studi akademik menunjukkan, transformasi hanya bisa dilakukan oleh pemimpin dengan posisi yang unik dan keberanian luar biasa,” ujarnya.
