Sigit Pramono Akan Fokus Awasi Bank Sistemik

kumparanNEWSverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Sigit Pramono (Foto: Istimewa)
zoom-in-whitePerbesar
Sigit Pramono (Foto: Istimewa)

Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) hari ini melakukan uji kelayakan dan kepatuhan atau fit and proper test untuk Calon Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (DK OJK), Sigit Pramono. Sigit diminta menjawab beberapa pertanyaan dari para anggota terkait industri sektor keuangan.

Dalam tanya jawab yang berlangsung hampir dua jam tersebut, tidak semua anggota Komisi XI hadir. Terlihat hanya ada belasan anggota yang dipimpin langsung oleh Ketua Komisi XI Melchias Markus Mekeng.

[Baca Juga: Calon Bos OJK: Sigit Pramono Sang Tokoh Restrukturisasi Perbankan]

Sigit mengatakan, ke depan OJK harus membuat kebijakan agar perbankan memberikan pinjaman dalam jumlah yang besar untuk pembangunan infrastruktur. Sebab, saat ini negara memang sedang memerlukan dana yang besar untuk infrastruktur dan mendorong perekonomian.

Gedung OJK (Foto: Novan Nurul Alam/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Gedung OJK (Foto: Novan Nurul Alam/kumparan)

[Baca Juga: PPATK: Transaksi Keuangan Calon Dewan Komisioner OJK Bersih]

"Negeri ini sedang membangun, kita lihat saja pembangunan ada di mana-mana. Sehingga butuh terobosan untuk mengembalikan lending capacity untuk bank-bank," ujar Sigit di Gedung Nusantara I DPR, Jakarta, Senin (5/6).

Sigit yang berlatar-belakang sebagai bankir ini melanjutkan, jika dirinya terpilih sebagai Ketua DK OJK akan fokus untuk mengawasi bank sistemik, yang ada hampir 20 persen dari total bank di Indonesia.

"Nanti kami akan lakukan pengawasan bank sistemik, karena kan ada hampir 20 persen dari total bank di Indonesia ini," jelasnya.

Sigit Pramono. (Foto: Nicha Muslimawati/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Sigit Pramono. (Foto: Nicha Muslimawati/kumparan)

[Baca Juga: Sri Mulyani: Calon yang Gagal Jadi Ketua OJK Tidak Otomatis Gugur]

Sementara untuk di pasar modal, pihaknya akan memperbaiki kebijakan, terutama untuk perusahaan yang sudah go public agar jumlah investor dapat meningkat.

"Lalu bagaimana caranya kami bisa membuat ibu rumah tangga ini bisa berinvestasi di pasar modal dengan nyaman seperti nabung di bank, kalau banyak yang berinvestasi maka perekonomian kita bergerak," paparnya.

Untuk sektor industri keuangan non bank, pihaknya ingin memberikan insentif kepada perusahaan yang melakukan pembiayaan atau pinjaman di sektor produktif.

"Selama ini kan perpanjangan di bank-bank induknya saja. Kami ingin berikan insentif ke sektor yang produktif atau barang modal, ini yang akan kami rancang," jelasnya.