Sosok Citra, Perantau Asal Jambi Korban Tabrakan KRL di Bekasi: Selalu Ceria

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Catherine (19) dan Riza (21), kerabat salah satu korban kecelakaan kereta di Bekasi Timur saat ditemui di RS Polri, Kramat Jati, Jakarta Timur, Selasa (28/4/2026). Foto: Nasywa Athifah/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Catherine (19) dan Riza (21), kerabat salah satu korban kecelakaan kereta di Bekasi Timur saat ditemui di RS Polri, Kramat Jati, Jakarta Timur, Selasa (28/4/2026). Foto: Nasywa Athifah/kumparan

Sosok Nur Alimantun Citra (19), salah satu korban meninggal dunia dalam kecelakaan KA Argo Bromo Anggrek menabrak KRL di Stasiun Bekasi Timur, dikenang sebagai pribadi yang ceria dan peduli terhadap orang-orang di sekitarnya.

Mahasiswi semester 4 itu merupakan perantau asal Jambi yang tengah menempuh pendidikan di Jakarta. Teman dekat korban, Catherine (19), menyebut Citra adalah sosok yang ceria dan selalu pengertian.

“Aku sedih banget, bener-bener sedih. Karena almarhumah ya orangnya ceria gitu. Terus kalo ke temen-temennya itu bener-bener care. Ya sering banget nanya, 'Cath lu kenapa'. Makanya waktu ngedenger kabar ini, bakal kebayang nanti nggak ada yang nanya gitu kali ya. Nggak ada yg se-care itu lagi kali ya sama gue,” kata Catherine saat ditemui di RS Polri, Kramat Jati, Jakarta Timur, Selasa (28/4).

Citra diketahui tinggal bersama kakaknya di daerah Tambun, Kabupaten Bekasi selama menempuh pendidikan, sementara kedua orang tuanya berada di Jambi.

“(Tinggal) Sama abangnya. Iya sama kakaknya cowok. Jadi dia tinggal sama di rumah kakaknya yang cowok selama kuliah ini. Orang tuanya dua-duanya di Jambi. Jadi kalau ada libur semester baru pulang,” ujar Catherine dengan suara lirih menahan tangis.

Sejumlah petugas mengangkat peti jenazah ke mobil ambulans saat proses penyerahan jenazah korban kecelakaan kereta api di Rumah Sakit Polri, Jakarta, Selasa (28/4/2026). Foto: Salma Talita/ANTARA FOTO

Momen terakhir kebersamaan Citra dengan temannya terjadi di Stasiun Jatinegara, sebelum akhirnya mereka berpisah untuk naik kereta dengan tujuan berbeda.

Riza (21), teman satu kampusnya, menjadi orang terakhir yang bertemu langsung dengan Citra sebelum kejadian nahas itu.

“Jadi kita memang satu kampus, jadi bareng-bareng pulangnya. Kebetulan tujuan di keretanya sama, cuma beda rute saja. Jadi kita memang ada rencana buat bareng kan dari awal di kampus, terus sempat ngobrol-ngobrol, terus sebelum kereta juga sempat kita ngobrol-ngobrol dulu bentar, bincang-bincang,” ujarnya.

Namun, keduanya harus berpisah karena perbedaan jalur kereta.

“Cuma memang pada saat itu tuh keretanya almarhumah itu beda sama jalur saya. Jadi ya biasanya kita peron satu sama dua, ini pisah di peron dua, saya peron dua dan dia di peron enam. Jadi memang kita pisahnya di bagian atas itu Jatinegara,” kata dia.

Sejak perpisahan itu, Riza mengaku tidak lagi mengetahui posisi Citra.

“Semenjak itu saya dapat kereta duluan, saya sempat ngecek sih buat Citra sendiri ada di mana, nah kebetulan sudah nggak melihat lagi. Jadi saya tidak tahu Citra itu sebenarnya ada di posisi mana saat itu,” ungkap Riza.

Sempat Hilang Kontak

Petugas mengevakuasi gerbong KRL Commuterline usai bertabrakan dengan KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir-Surabaya Pasar Turi di Stasiun Bekasi Timur, Bekasi, Jawa Barat, Selasa (28/4/2026). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

Citra mulai tidak dapat dihubungi sejak Senin malam. Teman-temannya pun berusaha mencari informasi.

“Sudah begitu saya pulang segala macam, akhirnya di-chat oleh temannya, katanya jam 10 belum ada kabar dan pas banget waktu itu ada berita terkait itu, tabrakan. Sebenarnya sudah positive thinking sih, takut nggak mau mikir yang aneh-aneh lah karena jelek gitu nanti ke depannya,” tutur Catherine.

Upaya pencarian terus dilakukan hingga akhirnya kabar duka datang hari ini.

“Tadi sekitar jam setengah enam. Iya, jam setengah enam. Sebenarnya dari kampus pihak BEM juga sudah ke RS ini, sudah nyari tahu, sudah apa ya namanya sudah nanya atas nama ini gitu, cuma belum ada daftarnya,” katanya.

Berdasarkan pelacakan terakhir, ponsel Citra sempat terdeteksi berada di sekitar lokasi kejadian sebelum akhirnya tidak aktif.

“Terus pas dicek live location HP-nya tuh jam 1 ada di Stasiun Bekasi Timur, ya kan? Terus HP-nya masih di situ dan berusaha di-call juga sempat in another call juga, terus jam setengah tujuh tuh masih berdering, terus selebihnya jam 7 ke atas sudah off,” jelasnya.

Akan Dimakamkan di Jambi

Pihak keluarga menangis saat proses penyerahan jenazah korban kecelakaan kereta api di Rumah Sakit Polri, Jakarta, Selasa (28/4/2026). Foto: Salma Talita/ANTARA FOTO

Jenazah Citra rencananya akan dipulangkan ke kampung halamannya di Jambi untuk dimakamkan esok hari.

“Kalau tadi sempat diomongin, katanya sih korban almarhumah bakal dibawa ke Jambinya itu pagi-pagi. Iya jam segitu, jam 5 sampai jam 6 lah,” tuturnya.

Catherine juga mengungkapkan penyesalan serupa, mengingat hari itu mereka pulang lebih awal dari biasanya.

“Biasanya juga kita pulang lebih malam ya, menyesal saja gitu kenapa sih nggak malam sekalian gitu. Nyesal banget gitu. Biasanya jam 8 itu kita baru keluar dari kampus, ini jam setengah delapan sudah di Jatinegara. Jadi kebetulan mungkin almarhumah kebagian kereta yang ditabrak,” sesalnya.

Catherine mewakili teman-teman Citra pun meminta doa untuk almarhumah.

“Jadi aku benar-benar minta doanya buat almarhumah namanya Nur Alimantun Citra, kalau yang mau kirim doa semoga beliau almarhumah diterima di tempat terbaik, semoga amal ibadahnya diterima,” tuturnya.

Citra termasuk dari 15 korban meninggal dunia dalam insiden yang terjadi pada Senin (27/4) malam tersebut. Jasadnya dibawa ke Rumah Sakit Polri, Kramat Jati, Jakarta Timur untuk diidentifikasi.