Tenaga Ahli Menkes soal Vaksin Nusantara: Rekombinan Protein Tak Boleh Impor

kumparanNEWSverified-green

comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kepala Laboratorium Diagnostik dan Riset Penyakit Infeksi FK Universitas Andalas, Sumatera Barat, dr. Andani Eka Putra. Foto: Wikipedia
zoom-in-whitePerbesar
Kepala Laboratorium Diagnostik dan Riset Penyakit Infeksi FK Universitas Andalas, Sumatera Barat, dr. Andani Eka Putra. Foto: Wikipedia

Vaksin Nusantara yang diinisiasi eks Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto menuai pro dan kontra di tengah masyarakat. Banyak yang mempertanyakan prosedur penelitian vaksin itu. Namun, tak sedikit pula yang mendukungnya.

Tenaga Ahli Menkes Andani Eka Putra mengatakan Vaksin Nusantara memang sudah dikembangkan sejak Terawan masih menjabat sebagai Menkes.

Andani merupakan Kepala Laboratorium Diagnostik dan Riset Terpadu Penyakit Infeksi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas. Ia diangkat menjadi Tenaga Ahli Menkes saat era Budi Gunadi Sadikin yang menggantikan Terawan.

"Setahu saya sejak Pak Terawan mulai menjabat, sudah ada pembicaraan saya lihat. Sudah (pemerintah tahu), saya pikir sudah ada begitu prosesnya, tapi saya tak tahu persis ya," kata Andani dalam diskusi Polemik MNC Trijaya bertajuk 'Siapa Suka Vaksin Nusantara', Sabtu (17/4).

Kepala Laboratorium Diagnostik dan Riset Penyakit Infeksi FK Universitas Andalas, Sumatera Barat, dr. Andani Eka Putra. Foto: Rumah Sakit Universitas Andalas Padang

Dia pun menyebut pengembangan vaksin Nusantara unik dan menarik karena menggunakan sel dendritik. Namun, ia mengaku tak tahu alasan detail BPOM yang menolak uji klinis Vaksin Nusantara untuk tahap II.

embed from external kumparan

Andani hanya menyoroti soal bahan pembuatan Vaksin Nusantara. Sebab, ada bahan yang menurut dia seharusnya tidak boleh impor.

"Kalau kita bicara bahan ini juga menarik, di situ juga ada banyak bahan, bahan media dan sebagainya, hampir semua media Indonesia itu impor. Tapi ada bahan dasar utama yang tidak boleh impor contohnya rekombinan proteinnya targetnya, itu harusnya enggak boleh impor, itu harusnya dibikin sendiri. Tapi dengar-dengar, saya dapat informasi juga itu masih barang impor," ujarnya.

kumparan post embed

Andani kemudian membandingkannya dengan Vaksin Merah Putih yang menggunakan protein rekombinan dalam negeri. Dia mengatakan seharusnya vaksin dalam negeri juga dilihat dalam aspek kemandirian bahan yang dipakai.

"Yang dikembangkan oleh Merah Putih, saya rasa semuanya memang bahan-bahan utamanya memang tetap ada impor, tapi bahan utamanya bikin sendiri. Rekombinan proteinnya dibikin sendiri," ucap dia.

"Tapi bahan lain tidak (buat sendiri). Ini yang harus kita lihat dari konteks keamanannya, konteks tahapan prosesnya dan konteks kemandiriannya," tandas Andani.

kumparan post embed

Vaksin Nusantara dikembangkan di Amerika Serikat oleh AIVITA Biomedical Inc dan saat ini sedang diuji coba di Indonesia. Di AS, nama calon vaksin itu adalah AV-COVID-19. Bahan baku utama vaksin tersebut berasal dari AS, termasuk antigen virus yang digunakan.

kumparan post embed
Infografik serba-serbi vaksin Nusantara Terawan. Foto: kumparan

****

Saksikan video menarik di bawah ini: