Tentang Virus Andes, Satu-satunya Jenis Hantavirus yang Menular Antarmanusia
·waktu baca 4 menit

Badan Kesehatan Dunia (WHO) pada Rabu (6/5) mengonfirmasi penyebab wabah di kapal pesiar MV Hondius adalah virus Andes, sebuah jenis hantavirus langka yang ditemukan di benua Amerika.
Tak seperti sebagian besar jenis hantavirus yang ditularkan oleh hewan pengerat seperti tikus tidak menular dari manusia ke manusia, virus Andes diketahui merupakan satu-satunya jenis (strain) yang mampu menularkan hantavirus antarmanusia dalam kontak dekat.
WHO pada Selasa (5/5) juga mengakui adanya penularan hantavirus antarmanusia di kapal pesiar asal Belanda itu. Penyebaran ini adalah kasus yang jarang terjadi.
"Kami percaya bahwa mungkin ada beberapa penularan dari manusia ke manusia yang terjadi di antara kontak yang sangat dekat, seperti suami dan istri, serta orang-orang yang berbagi kabin," kata Direktur Kesiapan dan Pencegahan Epidemi dan Pandemi WHO, Maria Van Kerkhove, seperti dikutip dari AFP.
Apa itu Virus Andes?
Virus Andes (ANDV) adalah bagian dari kelompok hantavirus, yaitu virus RNA dari keluarga Hantaviridae yang ditularkan oleh hewan pengerat.
Berdasarkan laporan mikrobiologi klinis Amerika dari ASM Journals, virus ini pertama kali diidentifikasi di wilayah Andes, Amerika Selatan.
Infeksi antarmanusia pertama kali ditemukan di Argentina dan Cile pada 1995. Pembawa utamanya merupakan hewan pengerat liar, khususnya tikus padi kerdil berekor panjang (Oligoryzomys longicaudatus).
Menyerang Paru-paru, Fatalitas Tinggi
Pada manusia, virus Andes menjadi penyebab utama Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) atau Hantavirus Cardiopulmonary Syndrome (HCPS).
Infeksinya menyerang paru-paru dan sistem kardiovaskular dengan kondisi serius. Virus ini dapat memicu sesak napas berat, penurunan tekanan darah secara drastis, syok, hingga risiko kematian.
Jurnal asal Brasil keluaran Memórias Do Instituto Oswaldo Cruz melaporkan, tingkat kematian (fatality rate) infeksi virus Andes sangat tinggi, mencapai 30–40 persen.
Sementara WHO mencatat tingkat kematian akibat hantavirus sebesar kurang dari 1 persen hingga 15 persen di wilayah Asia dan Eropa, namun angkanya melonjak hingga 50 persen di benua Amerika.
Ini menjadikannya salah satu zoonosis dengan dampak klinis paling berat dalam kelompok penyakit bawaan hewan pengerat.
Penularan Karena Kontak Dekat Intens
Hantavirus umumnya tetap ditularkan dari hewan pengerat ke manusia, saat seseorang menghirup partikel udara yang terkontaminasi urine, feses, atau air liur tikus yang telah mengering.
Risiko paparan meningkat ketika membersihkan ruang tertutup seperti gudang, kabin, atau bangunan yang tercemar.
Penelitian di Argentina menemukan bukti penularan virus Andes antarmanusia, khususnya pada pasangan atau anggota keluarga yang melakukan kontak sangat dekat.
Penularan diduga terjadi melalui droplet atau interaksi intens selama fase awal infeksi, meski mekanismenya masih terus diteliti.
Gejala Mirip Flu Biasa
Gejala awal infeksi virus Andes umumnya mirip penyakit flu biasa, seperti demam, nyeri otot, tubuh lemas, sakit kepala, hingga keluhan pencernaan seperti mual dan muntah. Karena gejalanya tidak khas, infeksi ini kerap sulit dikenali pada tahap awal.
Namun dalam beberapa hari, kondisi pasien bisa memburuk dengan cepat. Saat infeksi mulai menyerang paru-paru, pembuluh darah menjadi lebih mudah bocor sehingga cairan masuk ke jaringan paru. Kondisi ini dapat memicu sesak napas berat, penurunan kadar oksigen, hingga gagal napas progresif.
Kemungkinan Rendah Jadi Pandemi
Meski virus Andes memiliki kemampuan penularan antarmanusia, tetapi secara ilmiah efisiensinya jauh lebih rendah dibanding virus respiratori seperti influenza atau SARS-CoV-2 penyebab Covid-19.
Dirjen WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus menilai wabah hantavirus mematikan di kapal pesiar tidak memiliki kemiripan dengan awal pandemi COVID-19. Ia juga meredam kekhawatiran global.
"Risiko penyebaran terhadap dunia secara keseluruhan rendah," ujarnya, dikutip AFP.
Belum Ada Obatnya
WHO, Kemenkes RI, dan CDC menyebut hingga kini belum ada obat antivirus khusus untuk hantavirus yang terbukti efektif secara luas.
Karena itu, pencegahan menjadi langkah utama, mulai dari mengendalikan populasi hewan pengerat, menjaga kebersihan area tertutup, hingga menghindari kontak dengan kotoran atau sarang tikus.
Penggunaan masker dan ventilasi yang baik saat membersihkan area yang berpotensi terkontaminasi juga dianjurkan untuk mengurangi risiko menghirup partikel virus.
Selain itu, deteksi dini dan pelaporan cepat penting dilakukan agar pasien bisa segera mendapat perawatan suportif sebelum kondisi berkembang menjadi komplikasi berat.
