News
·
25 September 2020 13:09

Tersangka Pelecehan Saat Rapid Test Sarjana Kedokteran, tapi Belum Bersertifikat

Konten ini diproduksi oleh kumparan
Tersangka Pelecehan Saat Rapid Test Sarjana Kedokteran, tapi Belum Bersertifikat (1952)
Karyawan Senayan City Mall mengikuti rapid test saat mal mulai dibuka kembali. Foto: Senayan City Mall
Tersangka pemerasan dan pelecehan seksual terhadap seorang wanita saat rapid test di Bandara Soekarno-Hatta berinisial EF ternyata merupakan sarjana kedokteran. Dia adalah mahasiswa asal universitas di Sumatera Utara yang baru saja lulus.
ADVERTISEMENT
Informasi ini didapat dari hasil pemeriksaan polisi terhadap pihak penyelenggara rapid test, dalam hal ini PT Kimia Farma.
"Dari keterangan PT Kimia Farma bahwa yang bersangkutan adalah lulusan dari salah satu universitas di Sumatera Utara dan juga gelar akademis dari tersangka adalah sarjana kedokteran tapi belum mengambil sertifikasi sebagai dokter," ucap Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Yusri Yunus kepada wartawan, Jumat (25/9).
"Dia adalah lulusan baru memang sarjana kedokteran," jelasnya.
Yusri mengatakan pihaknya berencana memeriksa kampus tersangka untuk memastikan lagi apakah betul yang bersangkutan memang alumnus Universitas tersebut.
"Kami mau memanggil dari IDI dan akan memeriksa universitas swasta di mana tersangka ini kuliah untuk kita bisa memastikan betul apakah tersangka ini sarjana kedokteran untuk bisa memastikan lagi," kata dia.
Tersangka Pelecehan Saat Rapid Test Sarjana Kedokteran, tapi Belum Bersertifikat (1953)
Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus memberikan keterangan saat rilis pengungkapan sejumlah kasus di Polda Metro Jaya, Jakarta. Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan
Kasus ini bermula dari cerita seorang perempuan di akun Twitter @listongs. Ia mengatakan mendapat tawaran dari seseorang petugas rapid test di Bandara Soekarno Hatta untuk dapat mengakali hasil rapid tes diakali agar negatif.
ADVERTISEMENT
Hasil tesnya diakali agar bisa terbang, dan dimintai uang jutaan rupiah. Korban sendiri mengaku sebelumnya dia pernah swab test dan hasilnya negatif.
Tapi ketika hendak pergi ke Nias, dia mencoba rapid test di Bandara Soekarno-Hatta. Tapi entah kenapa hasilnya reaktif, lalu muncul tawaran mengakali rapid test dengan biaya jutaan rupiah.
Tak hanya itu saja, oknum petugas medis yang melakukan rapid test itu bahkan mencium dan memegang tubuh korban.