Tiga Warga Tewas Saat Taliban Bubarkan Protes di Kota Jalalabad
·waktu baca 2 menit

Setidaknya tiga warga tewas dalam protes anti-Taliban di kota Jalalabad, Afghanistan pada Rabu (18/8). Hal ini terjadi di tengah usaha Taliban dalam membentuk pemerintahan baru, selagi negara-negara Barat mempercepat evakuasi dari bandara Kabul yang kacau.
Kematian tersebut otomatis merusak upaya Taliban untuk mengkonsolidasikan pemerintahan Islam dan janji perdamaian mereka setelah menyerbu ke ibu kota. Sebelumnya, Taliban mengatakan mereka tidak akan membalas dendam terhadap musuh lama dan akan menghormati hak-hak perempuan dalam kerangka hukum Islam.
Diberitakan Reuters, para saksi mata mengungkap kematian di Jalalabad terjadi ketika penduduk setempat mencoba memasang bendera nasional Afghanistan di sebuah alun-alun di kota itu. Tepatnya sekitar 150 km dari ibu kota di jalan utama ke Pakistan.
Adapun menurut dua saksi dan seorang mantan pejabat polisi, lebih dari selusin orang terluka setelah Taliban menembaki pengunjuk rasa di kota timur. Namun, belum ada komentar dari Juru bicara Taliban terkait hal-hal tersebut.
Ribuan warga Afghanistan, khususnya yang telah membantu pasukan asing pimpinan AS selama dua dekade, sangat ingin meninggalkan negara itu dan kabur dari Taliban. Ini menyebabkan orang-orang membanjiri bandara Kabul dan menimbulkan kekacauan.
Seorang pejabat Taliban mengakui komandan dan tentara Taliban melepaskan tembakan ke udara pada Rabu untuk membubarkan massa di luar bandara. Tetapi tak ada tembakan khusus yang ditujukan kepada warga.
"Kami tidak berniat melukai siapa pun," kata dia.
Sementara itu, seorang pejabat Barat menerangkan sekitar 5.000 diplomat, staf keamanan, pekerja bantuan dan warga Afghanistan telah dievakuasi dari Kabul dalam 24 jam terakhir. Ia menambahkan, evakuasi dengan penerbangan militer akan berlanjut sepanjang waktu.
“Membersihkan kekacauan di luar bandara merupakan sebuah tantangan. Semua benar-benar sibuk dan kacau di luar sana," kata pejabat itu.
Di sisi lain, Presiden Afghanistan Ashraf Ghani kini berada di Uni Emirat Arab (UAE), usai meninggalkan negaranya saat pejuang Taliban mengambil alih. Hal ini diungkap oleh Kementerian Luar Negeri UAE pada Rabu.
