Tips Hadapi Musim Hujan dari BMKG

kumparanNEWSverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kepala BMKG Dwikorita Karnawati memberikan keterangan pers di Kantor BMKG, Jakarta Pusat, Kamis (31/10). Foto: Andesta Herli Wijaya/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Kepala BMKG Dwikorita Karnawati memberikan keterangan pers di Kantor BMKG, Jakarta Pusat, Kamis (31/10). Foto: Andesta Herli Wijaya/kumparan

BMKG menyatakan musim hujan akan dimulai bulan November 2019 hingga Maret 2020. Sedangkan, puncak musim hujan diperkirakan terjadi di bulan Januari hingga Februari 2020.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengimbau agar masyarakat bisa menghadapi musim hujan dengan persiapan yang baik. Sebab tak menutup kemungkinan bencana banjir atau longsor dapat terjadi.

“Dengan diprediksinya musim hujan ini sudah akan dimulai November, dan puncaknya Januari-Februari, tentunya kami memohon agar seluruh pihak mewaspadai dan bersiap agar tidak terjadi gangguan atau bencana selama musim itu,” ungkap Dwikorita di kantor BMKG, Jakarta Pusat, Kamis (31/10).

Berikut tips menghadapi musim hujan dari BMKG:

1. Bersihkan Gorong-gorong

Saat musim kemarau, tak menutup kemungkinan gorong-gorong di sekitar rumah dipadati sampah. Padahal saat musim hujan sampah itu bisa menjadi pemicu banjir.

Oleh karena itu, BMKG mengimbau warga membersihkan gorong-gorong di sekitar rumahnya. Jika tidak, air hujan yang tak tertampung di gorong-gorong bisa meluap ke rumah warga.

“Gorong-gorong terutama, jadi jangan sampai terjadi banjir hanya karena gorong-gorong yang tersumbat sampah,” ungkap Dwikorita.

Ilustrasi musim hujan. Foto: Nugroho Sejati/kumparan

2. Pangkas Dahan Pohon

Fenomena angin kencang sering terjadi saat musim hujan. Tak ayal, terjadi peristiwa pohon tumbang yang tak jarang menimbulkan korban.

BMKG mengimbau mulai saat ini masyarakat memangkas dahan-dahan pohon untuk mengurangi beban saat diterpa angin.

“Jika terdapat pohon rimbun dan rapuh, agar segera dipangkas agar tidak terlalu berat sehingga mudah jatuh karena angin,” ujarnya.

3. Pastikan Atap Rumah Kokoh

Selain lingkungan, keadaan rumah juga perlu diperhatikan, terutama bagian atap. Dwikorita mengimbau masyarakat memperkokoh atap dalam keadaan kokoh.

Hal tersebut, kata dia, untuk menghindari dampak dari angin kencang. “Perlu memperkuat atap rumah yang rapuh. Agar tidak malah terlepas karena angin,” ujarnya.

Ilustrasi hujan di Jakarta Foto: ANTARA FOTO/Aprillio Akbar

4. Waspadai Baliho Berbahan Berat

Baliho bisa menjadi ancaman bagi pengguna jalan saat hujan disertai angin terjadi. Keberadaan baliho-baliho besar di simpang atau tepi jalan sebaiknya mulai dipetakan.

“Baliho-baliho yang berat, ini perlu perlu diwaspadai” kata Dwikorita.

Harapannya, saat hujan disertai angin, masyarakat tidak salah memilih tempat berhenti atau berlindung.

5. Hati-hati Demam Berdarah

Keberadaan genangan air kerap ditemui saat musim hujan. BMKG meminta masyarakat tak membiarkan genangan tersebut. Ditakutkan, genangan itu menjadi tempat nyamuk demam berdarah berkembang biak.

“Juga demi aspek kesehatan. Perlu diawaspadai juga penyakit-penyakit terkait dengan kelembaban udara antara lain demam berdarah dan malaria,” kata Dwikorita.

6. Tingkatkan Kewaspadaan Terhadap Potensi Longsor dan Banjir

Tanah longsor dan banjir selalu menjadi ancaman saat musim hujan. Masyarakat yang berada di lokasi yang berpotensi longsor dan banjir diminta meningkatkan kewaspadaan setiap hujan turun.

“Wilayah-wilayah lereng gunung, atau kemiringan lebih 20 derajat, itu adalah wilayah yang perlu diwaspadai, rentan terjadinya longsor. Kalau banjir bandang biasanya perlu diwaspadai di zona di kaki pegunungan, dan biasanya itu wilayah bantaran banjir,” ujarnya.

Ilustrasi banjir Foto: Yusuf Nugroho/Antara

7. Manfaatkan Hujan untuk Menyiapkan Cadangan Air

Selain antisipasi bencana, ada tips lain yang diberikan BMKG. Masyarakat diimbau memanfaatkan musim hujan untuk menyiapkan cadangan air untuk menghadapi musim kemarau setelahnya.

Langkah ini utamanya diperlukan bagi para penggarap lahan atau pun petani. Pencadangan air itu bisa dilakukan dengan menyediakan waduk penampungan, atau cara lainnya.

“Mohon agar disiapkan juga penyiapan untuk memanfaatkan agar hujan ini seoptimal mungkin perespannya untuk di lahan-lahan yang datar. Tapi jangan di lahan miring. Karena di lahan miring, resapan air hujan ini justru akan mendorong terjadinya longsor,” pesan Dwikorita.

BMKG berharap langkah tersebut membantu masyarakat mendapatkan cadangan air setelah musim hujan berlalu. Sebab, di musim kemarau, air tentu menjadi sesuatu sangat dibutuhkan.

kumparan post embed