Tito: Magnitudo Akibat Pandemi COVID-19 Lebih Besar dari Krisis Ekonomi 98

Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian memberikan pemaparannya terkait dampak pandemi virus corona di Indonesia terhadap sektor ekonomi.
Tito mengatakan, selama lebih dari 6 bulan melanda Indonesia, pandemi COVID-19 telah memberikan guncangan yang lebih parah jika dibandingkan dengan krisis ekonomi 1998 dan 2008. Sebab tidak hanya mengguncang sektor ekonomi.
"Hampir di semua negara pasti ada gangguan terhadap domino-domino lainnya terutama ekonomi. Adanya demand di satu sisi, di bidang lain. Supply terganggu, rantai distribusi terganggu, terjadi perubahan pola di bidang ekonomi yang luar biasa. Magnitudonya jauh lebih besar dari krisis ekonomi 1998 maupun 2008," kata Tito dalam webinar 'Strategi Menurunkan COVID-19, Menaikkan Ekonomi', Minggu (20/9).
Tio mengatakan, seluruh negara di dunia terkena dampak COVID-19 termasuk Indonesia. Ia menuturkan sejak 1945, Indonesia belum pernah menghadapi krisis seperti ini.
"Bagi Indonesia sendiri dalam sejarah bangsa kita sejak 1945 kita belum pernah menghadapi pandemi krisis bencana non-alam yang magnitudonya ke 34 provinsi. Ini pengalaman baru. Ada malaria, demam berdarah, TBC dan lain-lain tapi terjadi skala lokal," ucap Tito.
"Flu influenza masih jadi penyakit sampai hari ini. Tetapi dua pandemi ini terjadi tidak di seluruh dunia. Hari ini COVID-19, sudah 216 negara kalau tidak salah. Ini krisis global kesehatan berlanjut efek domino ke kemanusiaan, ini terjadi," tambah dia.
Tito menjelaskan maksudnya memaparkan pandangannya mengenai dampak pandemi COVID-19 bukan karena ingin melampaui kewenangannya sebagai Mendagri.
Mantan Kapolri itu menegaskan, dirinya memaparkan masalah ini agar seluruh pihak memiliki satu persepsi yang sama terhadap pandemi COVID-19 yang telah menimbulkan banyak krisis.
"Ini juga sekaligus mengklarifikasi, ini dikatakan Mendagri melampaui bicara kesehatan, tidak. Ini kita menghadapi permasalahan. Ada masalah gempa, kita otomatis harus memahami soal gempa tak harus jadi geologi," jelas Tito.
"Sehingga saya melihat pandemi COVID-19 yang mungkin saya mengajak untuk sama sama satu persepsi, ini adalah pandemi terluas dalam sejarah umat manusia. Poinnya adalah terjadi krisis dan krisis ini menjadi efek domino ke bidang-bidang lainnya, kemanusiaan, sosial, ekonomi, bahkan keuangan dan juga keamanan," tutur Tito.
