Usulan-usulan Mengurangi Ketimpangan Sosial Ekonomi

Ketimpangan dan ketidakadilan yang terjadi --baik secara sosial dan ekonomi-- haruslah menjadi isu yang kini kita bicarakan.
Sebagaimana kita tahu, menurut laporan Oxfam 8 orang terkaya di dunia menguasai kekayaan 3,6 juta penduduk miskin. Dunia bisa melihat kemunculan triliuner pertama dalam 25 tahun mendatang.
Di sisi lain, 1 dari 9 orang tidur dalam kondisi kelaparan setiap malam dan 1 dari 10 orang masih berpenghasilan kurang dari 2 dolar AS per hari.
(Baca: Masih Terjadi Ketimpangan Indeks Pembangunan Manusia di Indonesia)
"Ketimpangan menjelaskan fenomena perubahan sosial, politik, dan ekonomi yang terjadi di dunia," tulis Jaideep Prabhu, profesor di Universitas Cambridge dikutip dari World Economy Forum (weforum.org).
Pernyataan itu diamini oleh Global Risk Report 2016 yang menuliskan bahwa meningkatnya ketimpangan pendapatan dan kekayaan sebagai faktor terpenting yang membentuk masa depan dunia ini di kemudian hari.
"Kemanusiaan memiliki bakat dan kecerdikan untuk melakukan hal lebih baik lagi. Kita tidak harus menerima sistem ekonomi yang tidak berjalan dengan baik," ujar Winnie Byanyima, Direktur Eksekutif Oxfam International.
Pertumbuhan ekonomi dinilai tidak cukup untuk mengatasi jurang perbedaan antara si kaya dan si miskin. Kapitalisme dianggap membutuhkan reformasi fundamental. Berikut ini gagasan-gagasan yang muncul dan mungkin menantang kondisi status quo.

Pendapatan Dasar Universal
"Mempertimbangkan kondisi saat ini dan mendatang, di hari pertama setiap bulannya sekitar 1.000 dolar AS akan dikirim ke akun bank kamu, karena kamu adalah warga negara," tulis Scott Santens dalam artikelnya yang berjudul Mengapa Kita Harus Memiliki Pendapatan Dasar.
Pendapatan Dasar Universal (Universal Basic Income/UBI) bukanlah hal yang baru. Beberapa percobaan tengah dilakukan di beberapa negara seperti Finlandia, AS, dan Kanada. Gagasan jaminan sosial untuk semua dengan memberi garansi pemberian upah di atas garis kemiskinan selama seumur hidup ini tengah berkembang.
"Meningkatnya ketimpangan, upah tetap selama puluhan tahun, perubahan masa depan karier, semua ini makin menunjukkan pentingnya jaminan pendapatan bagi semua orang," tulis Santens.
(Baca: Atasi Ketimpangan, Pekerjaan Rumah untuk Gubernur DKI Jakarta Terpilih)
Gagasan ini ditentang beberapa pihak yang menyatakan bahwa pendapatan dasar ini akan mendorong warga untuk tidak melakukan apapun. Namun sebagian yang lain percaya bahwa bantuan ini secara tidak langsung memberi kebebasan bagi masyarakat untuk melakukan hal yang mereka sukai.
Pendapatan dasar ini akan memberi kesempatan bagi semua orang untuk melakukan pekerjaan yang bermakna dan mereka senangi,
Redistribusi
Salah satu poin pertemuan tahunan World Economy Forum 2017 di Davos, Swiss yakni "kita harus membagi lebih rata kekayaan dunia atau kita menghadapi gelombang populis."
Byanyima menyatakan bahwa sudah waktunya kita menyeimbangkan kembali ketidakadilan ekonomi. Sementara Jack Ma, pendiri Alibaba sekaligus salah satu pebisnis sukses dari China mengatakan bahwa negara-negara harus bisa belajar dari kesalahan Amerika Serikat.
"Mereka terlalu boros untuk membiayai perang dibanding berinvestasi dalam bidang infrastruktur atau pendidikan. Anda harus lebih banyak menghabiskan uang untuk rakyat Anda," ujar Jack Ma.
Redistribusi kekayaan yang dimaksud dengan cara mengenakan pajak yang lebih tinggi untuk mereka yang berpendapatan lebih tinggi pula. Hasil yang diperoleh dari pajak itu kemudian digunakan untuk menyediakan pendidikan gratis untuk semua.

15 Jam Kerja per Minggu
Rutger Bregman berpikir jam kerja yang lebih sedikit akan berdampak baik terhadap ekonomi global. Bagi ekonom satu ini, kerja berlebihan itu membunuh kita.
"Di abad ke-21 ini, tantangan terbesar bukanlah banyaknya waktu luang dan kebosanan, justru stres dan ketidakpastian," tulisnya dalam The Guardian.
Jika kita lebih sedikit bekerja dan memangkas pekerjaan yang tidak berguna, kita akan melakukan lebih sedikit kesalahan dan memiliki waktu lebih untuk menikmati hal lain. Lebih jauh dari itu, negara-negara dengan jam kerja yang lebih sedikit secara konsisten menjadi negara yang menduduki peringkat kesetaraan gender teratas.
Apa gagasanmu untuk mengatasi ketimpangan yang terjadi?
(Baca: Lebarnya Ketimpangan Ekonomi di Indonesia)
