Varian Corona Delta Sumbang 50% Peningkatan Kasus COVID-19 Baru di Inggris

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Warga mengenakan masker berjalan di dekat Bank Junction, London, Inggris, Selasa (5/1).  Foto: Henry Nicholls/REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Warga mengenakan masker berjalan di dekat Bank Junction, London, Inggris, Selasa (5/1). Foto: Henry Nicholls/REUTERS

Varian corona Delta menjadi penyumbang tertinggi peningkatan kasus COVID-19 di Inggris sejak Mei lalu. Hal tersebut terungkap dari sebuah studi prevalensi yang dilakukan oleh Imperial College London pada Kamis (17/6).

Prevalensi sendiri adalah jumlah keseluruhan kasus penyakit yang terjadi pada suatu waktu tertentu di suatu wilayah.

Dikutip dari Reuters, Pemerintah Inggris menyatakan data studi prevalensi ini membantu Perdana Menteri Boris Johnson dalam mengambil sikap soal lockdown Inggris, yang pada akhirnya diperpanjang hingga sebulan ke depan.

Virus corona varian Delta, yang pertama ditemukan di India, menyumbang hingga 50% dalam peningkatan infeksi COVID-19 di Inggris.

Para ahli sebelumnya telah mengatakan bahwa penularan varian ini jauh lebih cepat dibandingkan varian Alpha, varian corona yang pertama teridentifikasi di Inggris.

Dalam tahap terakhir survei prevalensi REACT-1 yang dilakukan antara 20 Mei dan 7 Juni, ditemukan bahwa prevalensi mencapai 0,15%, dibandingkan dengan sebelumnya, yaitu 0,10% dari data yang diambil pada akhir April ke awal Mei.

“Prevalensinya meningkat secara eksponensial, didorong oleh orang-orang berusia lebih muda, dan tampaknya [prevalensi] ini berlipat ganda setiap 11 hari sekali,” jelas Profesor Dinamika Penyakit Menular Imperial College London, Steven Riley.

Petugas medis membawa pasien virus corona dari ambulans menuju rumah sakit S Thomas di London, Inggris. Foto: REUTERS/Hannah McKay

“Jelas, ini adalah kabar buruk,” tegasnya.

Studi prevalensi ini adalah salah satu survei yang terbesar di Inggris, dengan partisipan hingga 109 ribu relawan pada tahap terbaru.

Riley menyebutkan laju vaksinasi Inggris yang tinggi membuat semakin sulit untuk memprediksi selama apa pertumbuhan eksponensial ini akan bertahan.

Setidaknya lebih dari setengah populasi orang dewasa Inggris telah menerima dua dosis vaksin, dan lebih dari dua pertiga dari mereka telah menerima setidaknya satu dosis.

Meskipun varian Delta ini disebut mengurangi efektivitas dari satu dosis vaksin terhadap infeksi gejala ringan, dua dosis vaksin tetap memberikan perlindungan yang baik terhadap COVID-19 dengan gejala berat.

kumparan post embed