Viral Cerita Dokter Terpaksa Harus Memilih Selamatkan 1 dari 3 Pasien Corona

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
dr Corona Rintawan. Foto: Facebook/@Corona Rintawan
zoom-in-whitePerbesar
dr Corona Rintawan. Foto: Facebook/@Corona Rintawan

Kasus corona di Indonesia terus mengalami kenaikan tajam. Kondisi keterisian tempat tidur di seluruh rumah sakit di zona merah Indonesia sudah krisis kapasitas.

Ketua Tim Dokter Muhammadiyah, dr. Corona Rintawan SpEM, membagikan sebuah cerita saat ia berada dalam kondisi sulit di tengah penanganan pandemi.

Cerita tersebut ditulis dokter Corona Rintawan di media sosialnya dan viral. Diceritakan, saat itu ia harus memilih satu dari tiga pasien untuk diberikan perawatan di rumah sakit.

"Ada 3 pasien confirm positif kondisinya buruk. ARDS berat/gagal napas ketiga-tiganya. Saturasi oksigen di bawah 90% semua," tutur perawat kepadanya, seperti yang diceritakan oleh Rintawan pada akun Facebook pribadinya.

Sedangkan saat itu, tempat tidur yang tersisa hanya satu. Sementara ketiga pasien itu memerlukan perawatan ICU dan ventilator.

Saat situasi itu ia berpikir keras dan bertanya kepada perawat soal usia dan riwayat penyakit dari ketiga pasien tersebut.

Ia pun memilih untuk memberikan bed tersebut kepada pasien dengan usia termuda.

"Dalam kondisi bencana seperti sekarang di mana fasilitas dan alat terbatas maka diberlakukan triase bencana, artinya menyelamatkan yang paling besar kemungkinan untuk selamat, bukan yang paling jelek kondisinya," tulis Rintawan.

Cerita viral dari Corona terpaksa memilih satu pasien untuk dirawat di tengah pandemi corona. Foto: Dok. Istimewa
Cerita viral dari Corona terpaksa memilih satu pasien untuk dirawat di tengah pandemi corona. Foto: Dok. Istimewa

"Percaya sama saya, kalian tidak akan pernah bisa membayangkan berada pada posisi seperti ini. Apakah saya yakin benar dengan pilihan ini? Tidak. Tetapi kita sebagai nakes di RS harus segera memutuskan dengan cepat sehingga salah satu pasien tersebut mungkin bisa selamat," imbuhnya.

Saat dikonfirmasi kumparan soal cerita yang ditulis di akun Facebooknya itu, Rintawan menyampaikan bahwa kejadian tersebut merupakan pengalaman pribadinya.

Saat itu ketiga pasien positif COVID-19 dalam kondisi buruk dan semuanya membutuhkan ventilator. Namun hanya tersisa satu ventilator saja, sehingga dokter harus memilih satu pasien.

"Maka dipilihlah salah satu yang paling mungkin selamat dengan pertimbangan usia dan comorbid/penyakit penyerta. Apakah yang dipilih nanti itu akan selamat? Belum tentu juga. Tapi nakes harus memilih salah satunya daripada membiarkan ketiga-tiganya tidak mendapat ventilator semua dan meninggal semua," katanya.

Petugas merawat pasien COVID-19 di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bung Karno, Solo, Jawa Tengah, Selasa (15/6/2021). Foto: Maulana Surya/ANTARA FOTO

Selain faktor usia dan penyakit peserta, kata Rintawan, dokter juga mempertimbangkan hasil laboratorium, foto rontgen dan lain-lain.

"Jadi tidak ada istilah bergejala ringan. Karena kalo bergejala ringan maka RS malah tidak akan menerima pasien tersebut dan biasanya kita minta untuk isolasi mandiri," jelasnya.

Ia mengatakan, rumah sakit hanya bagian hilir dari penanganan COVID-19. Sehingga jika tidak ditangani dari hulu dengan lebih ketat, situasi yang sama di India bisa pula terjadi di Indonesia.

"RS itu hanya bagian hilir dari penanganan covid. Sebanyak apapun disiapkan jika hulunya tidak dikurangi ya pasti akan jebol seperti India," tuturnya saat dihubungi kumparan, Sabtu (19/6).

Selain testing, tracing dan isolasi, tindakan dari hulu itu meliputi pembatasan mobilitas dan kerumunan.

"Pemimpin di tingkat nasional dan daerah harus memberikan aturan dan regulasi yang kompak, seragam dan tidak tebang pilih," tegasnya.

kumparan post embed

Kepada masyarakat, ia juga berpesan untuk lebih ketat menjalankan protokol kesehatan agar situasi yang membuat para nakes kewalahan dan dihadapkan pada situasi seperti cerita yang ia bagikan tidak terulang lagi.

"Maka tolong kalian lakukan protokol kesehatan dengan sebaik-baiknya. Sayangi keluarga dan teman kalian, agar kami tidak terpaksa membuat pilihan-pilihan yang sangat berat tersebut. Dalam kondisi seperti sekarang, hampir setiap hari terpaksa kami lakukan," tuturnya.

==

embed from external kumparan