Viral Unggahan Melukis Figur Mirip Jokowi tapi Jadinya Wajah Menyerupai Soeharto

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

comment
45
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Unggahan konten Instagram memperlihatkan sosok manusia tengah melukis figur mirip Presiden Jokowi menjadi wajah menyerupai Soeharto. Foto: Instagram.com/brambotkusuma
zoom-in-whitePerbesar
Unggahan konten Instagram memperlihatkan sosok manusia tengah melukis figur mirip Presiden Jokowi menjadi wajah menyerupai Soeharto. Foto: Instagram.com/brambotkusuma

Unggahan konten Instagram yang memperlihatkan sosok manusia tengah melukis figur mirip Presiden Jokowi menjadi wajah menyerupai Soeharto viral.

Konten tersebut diunggah oleh pria asal Salatiga, Jateng, Brambot Kusuma (32). Unggahan itu kemudian diposting ulang oleh akun Gejayan Memanggil, wadah mahasiswa di Yogyakarta untuk menyikapi kondisi politik.

Brambot mengatakan konten tersebut terinspirasi dari situasi di Indonesia saat ini, khususnya terkait penghapusan mural-mural yang bermuatan kritik terhadap pemerintah.

kumparan post embed

"Inspirasinya dari situasi yang berkembang sekarang. Di mana pemerintah/aparat bersikap berlebihan terhadap karya-karya mural yang bermuatan kritik terhadap rezim saat ini," ujar Brambot kepada kumparan, Minggu (29/8).

Ia mengaku ada rasa khawatir untuk ditangkap petugas terkait karya yang ia unggah. Meski begitu, ia berani untuk mempertanggungjawabkan karyanya.

"Tapi menurut saya selama kritikan saya berangkat dari data-data (berita), saya berani mempertanggungjawabkan karya saya. Tapi kalo saya sampai ditangkap atau diciduk, apa tidak semakin memperjelas bahwa pemerintah saat ini antikritik dan selalu bertindak represif," imbuhnya.

Makna karya Brambot

Brambot menyadari ada pro dan kontra di balik karya lukisan itu. "Justru di situ saya bermain semiotikanya. Bagi yang 'rindu' akan jaman orba, mengintepretasikannya pemerintah saat ini memiliki 'kebaikan-kebaikan', prestasi-prestasi yang sama dengan Orba," ujarnya.

Akan tetapi, lanjut Brambot, bagi yang 'melawan', kondisinya tidak berbeda jauh dengan masa Orde Baru (Orba). Dalam masa itu, pemerintah bersikap represif terhadap rakyat yang memberikan kritik.

kumparan post embed

"Dua pesan itu yang ingin saya sampaikan pada karya saya. Tapi tidak menutup kemungkinan, interpretasi yang berbeda-berbeda yang diartikan orang melihatnya," pungkasnya.

Sejumlah mural dihapus di masa pandemi corona. Di antaranya adalah tulisan mural 'Tuhan Aku Lapar' di Depok dan mural mirip wajah Jokowi yang tertutup masker di Flyover Pasupati, Bandung.

Terkait hal itu, Gejayan Memanggil mengajak seniman mural untuk mengikuti lomba. Pemenang lomba ditentukan seberapa cepat mural tersebut dihapus oleh aparat.

Humas Gejayan Memanggil dengan nama samaran Mimin Muralis mengatakan, konsep lomba ini ialah menggambar adalah kebudayaan setiap anak. Sementara pemberangusan adalah kekeliruan yang dilakukan penguasa atau orang dewasa.

"Corat-coretan di tembok adalah cara-cara ketika kebebasan bersuara terbatas dan sekarang coretan itu pun dibatasi," ujar Mimin, Kamis (25/8).

embed from external kumparan