Wagub DKI Tepis Isu Kristenisasi Peti Mati untuk Jenazah Corona

kumparanNEWSverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Warga melintas di samping replika peti mati dengan petugas yang menggunakan APD di kawasan Kemang, Jakarta, Minggu (16/8/). Foto: Galih Pradipta/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Warga melintas di samping replika peti mati dengan petugas yang menggunakan APD di kawasan Kemang, Jakarta, Minggu (16/8/). Foto: Galih Pradipta/ANTARA FOTO

Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria menepis isu yang menyebut pemulasaran jenazah corona di peti mati merupakan bentuk kristenisasi.

"Enggak ada hubungannya orang di peti mati sama kristenisasi. Orang yang perang juga masuk ke peti mati," kata Riza kepada wartawan, Sabtu (5/9).

Dia menegaskan protokol itu tak lain untuk memastikan virus corona tak menular dari jenazah. Maka disusun protokol, salah satunya harus menggunakan peti agar bisa dilapisi plastik dengan rapi dan aman.

embed from external kumparan

"Soal peti mati aturan protokol kesehatan itu yang meninggal itu pemulasarannya diatur enggak bisa keluarga dan sebagainya. Semua dimaksudkan untuk membatasi penularan, mencegah penularan. Kenapa peti mati? karena peti mati tujuannya agar tidak menular, bahkan peti matinya ditutup di warpping lagi, ditutup lagi pakai plastik, dibawa ke kuburan, dibatasi jumlah (petugas) 4 orang saja,"

Ahmad Riza Patria

kumparan post embed

Menurutnya secara Islam juga tak masalah untuk menguburkan jenazah dengan cara tertentu jika memang situasinya mengharuskan, demi keselamatan umat yang lebih besar.

"Jadi ini protokol COVID-19 terkait penanganan meninggal sampai dikuburkan. Ikuti saja kan untuk kebaikan semua. Secara agama ya diperbolehkan termasuk kita yang muslim enggak ada masalah," tuturnya.