Wasekjen Golkar: Suasana Jelang Munas Mirip Sabung Ayam

Gejolak menjelang Musyawarah Nasional (Munas) Golkar kembali memanas usai salah satu loyalis Bambang Soesatyo (Bamsoet), Junaidi Elvis menegaskan kembali Bamsoet tetap maju dalam Munas Golkar Desember mendatang.
Wasekjen Partai Golkar Maman Abdurrahman memberikan pandangan mengenai kontestasi Munas Golkar dengan sabung ayam. Menurut Maman, penurunan suara Golkar pada Pemilu 2019 dijadikan sebab munculnya tudingan kegagalan Ketua Umum Golkar.
Tak hanya Airlangga, menurut Maman, hal ini juga dirasakan oleh ketum-ketum Golkar sebelumnya, penurunan suara partai selalu dijadikan sebab desakan kepada ketum untuk mundur dari kepemimpinannya. Bukan justru dijadikan bahan evaluasi menyeluruh secara bersama-sama. Maman menyebut fenomena ini dengan istilah 'Kutukan Besar Partai Golkar'.
"Sekarang Airlangga yang menjadi bulan-bulanan itu, andaikan nanti Ketumnya Bambang Soesatyo pun pasti akan menghadapi hal yang sama (Kutukan besar Partai Golkar)," kata Maman kepada kumparan, Minggu (3/11).
Maman kemudian mengkritisi kedua belah kubu baik Bamsoet maupun Airlangga. Menurut dua, baik pendukung Bamsoet dan Airlangga keduanya sama-sama membangun narasi politik yang tidak baik, yang saling menyerang menjelekkan satu sama lain. Meski kubu incumbent (Airlangga) cenderung defensif (bertahan), dan kubu penantang (Bamsoet) cenderung menyerang dengan narasi negatif, bukan konstruktif.
Maman mengatakan, pola narasi seperti ini mirip seperti arena sabung ayam. Para penonton (pihak di luar Golkar) tertawa dan tersenyum lebar melihat partai berlambang pohon beringin ini sedang bertarung di internal. Semestinya, kata dia, pertarungan jelang Munas diisi dengan narasi yang positif, konstruktif, dan memberikan insentif terhadap kondusifitas internal partai Golkar.
"Keadaan ini hampir sekali mirip seperti arena pertarungan sabung ayam di mana para penonton berteriak teriak, tertawa, ada yang marah, ada yang mabuk, ada juga sang bandar yang pegang uang taruhan. Bahkan tidak sedikit juga para wanita wanita nakal yang menawarkan dirinya, bahkan banyak juga yang berteriak hajar dan pateni. Betul betul jauh sekali dari suasana positif dan kondusif yang kita harapkan," ujar anggota Fraksi Golkar di DPR itu.
Menurut Maman, pola kontestasi yang buruk seperti ini akan meninggalkan luka bagi kedua belah pihak. Keduanya akan sama-sama merasa lelah akibat pertarungan seperti sabung ayam ini. Bahkan, kata Maman, keduanya bisa sama-sama merugi akibat bertarung seperti sabung ayam.
"Ayam yang kalah terkulai lunglai tak berdaya menatap sang pemenang yang berkokok bangga menandakan bahwa dia adalah pemenang. Bahkan tidak sedikit juga kedua-duanya mati lunglai bersimbah darah. Tidak pernah ada ayam aduan yang menang tanpa luka di badannya yang akan selalu meninggalkan bekas luka yang akan menjadi warisan turun temurun untuk anak cucunya," jelas Maman.
Menurut Maman, elite Golkar telah lupa akan hal penting dari makna demokrasi yang selalu mengedepankan konsep dan gagasan, bukan narasi yang sifatnya serangan dan saling menjatuhkan.
"Perdebatan arah dan langkah partai 5 tahun ke depan, isu-isu kekinian tentang berbangsa dan bernegara, solusi kongkret bagaimana menumbuhkan ekonomi rakyat, program karya kekaryaan apa yang akan kita jalankan. Mereka para pencinta sabung ayam telah menyempitkan makna demokrasi yang sebenarnya hanya sebatas medan pertarungan para ayam-ayam saja," ungkap Maman.
Maman mengaku sempat bahagia melihat Bamsoet dan Airlangga tampil bersama jelang pemilihan Ketua MPR lalu. Menurut Maman, kesolidan dari sebuah partai membuktikan prestasi yang didapat, sama halnya ketika Airlangga dan Bamsoet bersatu, kader partai Golkar mendapat kursi Ketua MPR.
"Ketua MPR yang terpilih secara aklamasi Bambang Soesatyo dan bahkan bonus persatuan Partai Golkar tersebut menghasilkan juga Bang Fadel Muhammad sebagai pimpinan MPR juga mewakili DPD RI, di mana pada saat itu kita semua kader Partai Golkar saling bahu membahu memperjuangkan kadernya untuk duduk di posisi prestisius di MPR," papar Maman.
"Sampai-sampai ada beberapa rekan saya dari partai lain mengatakan: Golkar memang tidak boleh bersatu, ngeri. Hal ini menandakan bahwa kebersamaan, persatuan dan soliditas partai menjadi kunci penentu melesatnya keberhasilan sebuah partai," imbuhnya.
Maka dari itu, Maman meminta semua pihak baik pendukung Bamsoet maupun Airlangga untuk mulai sama-sama membangun narasi kampanye yang positif jelang Munas. Jangan terapkan kembali metode kontestasi seperti sabung ayam, karena yang dirugikan adalah keluarga besar Golkar.
"Pilihan itu semua ada pada diri kita semua para kader Partai Golkar, semoga kita semua bisa memaknai semua kejadian kejadian yang lalu, sekarang dan ke depan seperti anak panah di dalam sebuah busur yang sedang ditarik untuk bisa melesat kencang dan tajam ke depan menuju kearah sasaran kemenangan Partai Golkar kita tercinta," tutupnya.
