WHO Kecewa Berat dengan Kerumunan Suporter di Final Piala Eropa di Inggris

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Maria Van Kerkhove dalam sesi tanya jawab WHO, Selasa (9/6). Foto: WHO (@WHO) via Twitter
zoom-in-whitePerbesar
Maria Van Kerkhove dalam sesi tanya jawab WHO, Selasa (9/6). Foto: WHO (@WHO) via Twitter

Pimpinan Teknis untuk COVID-19 WHO, Maria Van Kerkhove, menyatakan kekecewaannya atas kerumunan suporter pertandingan final Euro 2020 di Inggris pada Minggu (11/7).

Kerumunan yang bersorak-sorai, bernyanyi, dan berkumpul tanpa menggunakan masker berpotensi sangat tinggi dalam menyebarkan COVID-19, termasuk varian Delta.

Seperti diketahui, Inggris tengah mengalami peningkatan kasus yang disebabkan oleh menyebarnya varian yang pertama diidentifikasi di India itu. Bahkan, varian Delta telah menggantikan posisi varian Alpha sebagai strain yang dominan.

WHO terkenal jarang sekali memberikan komentar blak-blakan soal kebijakan individual tiap negara anggota.

Tetapi, Kerkhove membuka suara dan menyebut pemandangan perkumpulan 60 ribu suporter itu sebagai pemandangan yang “menyedihkan”.

Pendukung timnas Inggris tiba di Stadion Wembley pada laga final Euro 2020 antara Italia vs Inggris Foto: REUTERS/Henry Nicholls

“Apakah saya seharusnya menikmati menonton terjadinya penularan [virus corona] di depan mata saya sendiri?” ungkap Kerkhove dalam cuitan di akun Twitter resminya.

“Pandemi COVID-19 tidak istirahat malam ini … #SARSCoV2 #VarianDelta akan memanfaatkan orang-orang yang tidak divaksinasi, di lokasi kerumunan, tak bermasker, berteriak/bersorak/bernyanyi. Menyedihkan,” lanjutnya.

X post embed

Kerumunan suporter tampak di pusat Kota London, Trafalgar Square, Leicester Square, dan juga di luar Wembley Stadium—lokasi berlangsungnya final Euro 2020 antara Inggris dan Italia.

Puluhan ribu pendukung memadati stasiun untuk berangkat menuju stadion, menyalakan flare dan bernyanyi di armada kereta.

Pada bulan ini, Perdana Menteri Boris Johnson membela keputusan diizinkannya lebih dari 60 ribu penonton untuk datang menghadiri final.

Menurut Johnson, final dilaksanakan dengan ”kehati-hatian dan terkendali, dengan melakukan testing terhadap seluruh orang yang menghadirinya”. Johnson juga menekankan bahwa vaksin COVID-19 telah membentuk “tembok imunitas”.

Petugas medis membawa pasien virus corona dari ambulans menuju rumah sakit S Thomas di London, Inggris. Foto: REUTERS/Hannah McKay

Nyatanya, dalam skala global, tingkat infeksi COVID-19 meningkat. Pekan lalu, tercatat penambahan kasus seluruh dunia hingga 2,6 juta infeksi. Eropa sendiri mengalami peningkatan infeksi tajam hingga 30%, menurut laporan WHO.

Lebih dari 4 juta orang meninggal dunia akibat COVID-19 sejak awal pandemi.

Direktur Program Gawat Darurat WHO, Mike Ryan, pada pekan lalu juga mendesak negara-negara untuk sangat berhati-hati dalam mencabut pembatasan kegiatan akibat COVID-19, supaya “tidak kehilangan kemajuan yang telah Anda peroleh”.