WHO Tak Bisa Ungkap Asal Usul Virus Corona: Data dari China Terbatas dan Hilang

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi COVID-19. Foto: Dado Ruvic/Reuters
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi COVID-19. Foto: Dado Ruvic/Reuters

WHO kembali menyampaikan perkembangan investigasi asal usul virus corona. Hasilnya, mereka belum bisa menyimpulkan dari mana dan virus ini berasal.

"Bahwa penyelidikan terbaru tentang asal-usul COVID-19 tidak dapat disimpulkan," tulis laporan WHO dikutip dari Reuters, Jumat (10/6).

"Sebagian besar karena data dari China hilang," lanjut mereka.

Panel ahli WHO mengatakan, dari semua data yang berhasil mereka dapat, sejauh ini virus corona yang memicu COVID-19 ini kemungkinan berasal dari hewan. Hewan yang dimaksud diduga kelelawar.

kumparan post embed

Kesimpulan ini sama dengan kesimpulan PBB pada 2021. Sebelumnya perwakilan mereka juga ikut dalam investigasi ke China.

Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus telah menulis surat kepada pemerintah China sampai dua kali pada Februari lalu. Tujuannya, untuk meminta informasi terbaru terkait virus corona.

China memang memberikan beberapa data tambahan kepada WHO. Namun data itu tidak cukup untuk mengungkap asal usul virus corona.

Virus corona pertama kali terdeteksi di Hubei, China, pada Desember 2019. Tercatat hingga Juni 2022, 15 juta orang meninggal akibat virus ini.

WHO ingin asal usul virus corona dapat diungkap demi mencegah wabah serupa di masa depan. Namun, usaha mereka masih menemui jalan buntu.

Laporan terbaru dari WHO ini semakin menambah keraguan masyarakat. Kecil kemungkinan asal usul virus corona dapat diungkap.

Pimpinan Teknis COVID-19 WHO, Maria Van Kerkhove Foto: Richard Juilliart/AFP

WHO Memiliki Utang Kepada Masyarakat Dunia

Tim di panel WHO yang menyelidiki asal usul virus corona ini dikenal sebagai kelompok penasihat ilmiah untuk asal usul patogen novel atau SAGO.

Kendala utama asal usul virus corona masih belum terungkap karena mereka masih kekurangan data.

“Semakin lama, semakin sulit jadinya,” kata Pejabat Senior WHO Maria Van Kerkhove.

Kerkhove yang juga merupakan sekretariat SAGO, mengatakan WHO memiliki utang kepada masyarakat dunia terkait virus corona. Terutama kepada mereka yang telah meninggal.

"Kami berutang kepada diri kami sendiri, kami berutang kepada jutaan orang yang meninggal dan miliaran orang yang terinfeksi," ucap dia.

Kerkhove menuturkan, dari laporan yang mereka punya saat ini, tidak ada informasi dugaan kemungkinan bahwa SARS-CoV-2 berasal dari kebocoran laboratorium.

Menurutnya, diperlukan data ilmiah untuk mengungkap asal usul virus corona.

"Penting untuk mempertimbangkan semua data ilmiah yang masuk akal. Termasuk untuk mengevaluasi kemungkinan ini (dari kebocoran lab)," tutur dia.

Peter Ben Embarek dan Marion Koopmans, anggota tim Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang bertugas menyelidiki asal-usul penyakit virus korona menghadiri konferensi pers studi bersama WHO-China di Wuhan, Hubei, China. Foto: Aly Song/REUTERS

Sebelumnya, pada Januari hingga Februari 2021, WHO telah melakukan penyelidikan lebih dalam soal asal-usul SARS-CoV-2.

Tim Investigasi WHO lalu mengerucutkan segala kemungkinan asal-usul COVID-19 ke dalam empat skenario atau hipotesis, diurutkan dari yang paling memungkinkan hingga mustahil.

Yakni penularan langsung dari hewan ke manusia, penularan lewat hewan perantara, penyebaran lewat produk makanan beku dan penyebaran akibat kebocoran lab di WIV.

Namun, anggota tim WHO yang mengunjungi China pada 2021 itu mengatakan bahwa mereka tidak memiliki akses ke semua data untuk mencari asal-usul COVID-19. Hal itu kemudian memicu perdebatan soal transparansi di China.