Otomotif
·
5 April 2020 9:21

Belajar dari Kecelakaan Supercar Wakil Jaksa Agung RI di Tol Jagorawi

Konten ini diproduksi oleh
Belajar dari Kecelakaan Supercar Wakil Jaksa Agung RI di Tol Jagorawi (1213)
Mobil yang dikendaraai Wakil Jaksa Agung Dr. Arminsyah SH,MSi. Foto: Dok. Polda Metro Jaya
Kecelakaan yang melibatkan supercar kembali terjadi. Kali ini sebuah Nissan GT-R R35 terbakar setelah menghantam pembatas jalan tol Jagorawi Km 13B arah Jakarta, Sabtu (4/4).
ADVERTISEMENT
Nahas, pengemudi yang merupakan Wakil Jaksa Agung, Arminsyah, tutup usia dalam kecelakaan tersebut. Mobil pun ringsek hingga menyisakan kerangkanya saja setelah terbakar.
Belajar dari kejadian ini, kita seperti diingatkan lagi akan bahaya mengemudi. Khususnya saat mengemudikan supercar seperti Nissan GT-R.
Instruktur Keselamatan Berkendara Jakarta Defensive Driving Consultant (JDDC) Jusri Pulubuhu menjelaskan, godaan memacu supercar begitu tinggi dan lumrah terjadi.
Belajar dari Kecelakaan Supercar Wakil Jaksa Agung RI di Tol Jagorawi (1214)
Nissan GT-R R35 Foto: dok. Paultan
"Mau siapa pun yang belum atau sudah terbiasa, ketika duduk di kursi pengemudi seperti supercar, maka akan muncul psikis yang mempengaruhi kenaikan adrenalin, saat itulah kemampuan persepsi berkurang, logika dan etika bisa hilang, bisa menyebabkan kecelakaan," katanya saat dihubungi kumparan, Sabtu (4/4).
"Yang jadi masalah adalah, apakah mampu mengendalikannya? Supercar ini ibarat kuda binal," imbuh Jusri.
ADVERTISEMENT
Maka dari itu dibutuhkan etika dan aturan main menyikapi cara mengemudi supercar supaya tetap aman di jalan. Jusri pun membaginya dengan beberapa aspek, seperti dijelaskan di bawah ini.
Belajar dari Kecelakaan Supercar Wakil Jaksa Agung RI di Tol Jagorawi (1215)
Nissan GT-R R35 Foto: dok. Carscoops
1. Pahami karakter mobil
Paling utama sebagai dasar, wajib ketahui karakter mobil. Jelas Jusri ketahui dulu semburan tenaga, performa handling, dan feeling pengereman mobil.
Kenapa? Bila dari awal sudah tahu kemampuan mobil, minimal ada upaya menyadari performa khas supercar, sehingga mampu menyesuaikan gaya mengemudi.
"Akselerasi supercar itu kan cepat, bayangkan saja GT-R itu 0 ke 100 km/jam cuma 3 detik. Kalau preferensinya hanya kendaraan biasa, ketika mulai ngegas bisa kacau balau itu," jelasnya.
2. Fokus dan tidak mudah terpancing
Oke selanjutnya ketika sudah paham karakter mobil, sesuaikan gaya mengemudi. Artinya tetap sadar dan fokus bahwa sedang membawa mobil berperforma tinggi.
Belajar dari Kecelakaan Supercar Wakil Jaksa Agung RI di Tol Jagorawi (1216)
Nissan GT-R R35 Foto: dok. Paultan
Paling tidak ingat lagi agar tidak mudah terpancing dengan suara raungan mesin, gaya sporty khas supercar hingga lingkungan jalan yang kosong.
ADVERTISEMENT
"Karena bila tidak disadari, pengaruh psikis tadi tanpa sengaja mengubah diri kita. Apa saja bisa terjadi suatu bencana kalau tidak dipahami secara bijak," lanjut Jusri.
Dengan begitu persepsi dan motorik tetap terjaga. Sehingga ada upaya defensif dari dalam diri supaya tetap mengemudikan di bawah kendali.
3. Idealnya kemudikan di sirkuit
Jusri tidak menyalahkan siapa pun yang mengemudikan supercar dengan kecepatan tinggi. Karena memang idealnya supercar dirancang untuk itu.
Kemudian karena tergolong mobil hobi, maka sebaiknya gunakan sirkuit untuk menjajalnya, ketimbang jalan bebas hambatan. Di sirkuit, paling tidak rintangannya bukan benda bergerak seperti di jalan umum.
"Walaupun sepi di jalan raya, tetap menjadi ruang publik yang kadang harus menghindari kiri dan kanan. Kalau sirkuit objek ancamannya diam," beber pria penyuka moge petualang itu.
ADVERTISEMENT